Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 8 : Musuh Yang Tidak Bisa Dianggap Remeh (5)



Melihat sosok Galih—teman mereka saat SMA dulu—adalah orang yang baru saja memasuki ruangan tersebut, Evan langsung emosi dan hendak keluar dari mobil untuk melabrak ketiga orang kampret itu dan merusak rencana yang dia susun sendiri. Beruntung, Alfred dan Linda bisa menghentikan Evan yang baru saja membuka pinti mobil.


“Stop it, ngak ada gunanya lu nyamperin mereka. Ingat apa yang sudah lu rencanakan selama ini!” Alfred berbicara dengan nada tinggi ke Evan yang masih berusaha memberontak. “Cepat, bawa kita pergi jauh dari sini,” melihat Evan yang tidak mendengarkan perkataannya, dia menyuruh Linda untuk membawa mereka pergi dari parkiran tersebut.


Butuh beberapa menit sampai akhirnya Evan bisa menenangkan diri dan tidak memberontak lagi.


“Gua tahu lu kaget. Gua juga kaget, tapi lu harus nahan diri lu oke? Terlepas dari apa peranan galih nantinya, yang jadi masalah sekarang si Galih tahu hubungan lu sama Vina ngak?” Alfred mulai berbicara ketika Evan sudah tenang dan hanya memejamkan mata di tempat duduknya.


“Ngak, gua ngak pernah cerita ke siapapun di SMA soal hubungan gua sama Vina, hanya lu sama Nadya saja yang tahu,” Evan menjelaskan. Akan tetapi, setelah mengatakan hal tersebut, dia tersadar soal Linda. Dan betul saja, ketika melirik ke kursi depan, Linda sudah menatapnya dengan tatapan berseri, “Itu jangan lu jadikan artikel lu ya, awas lu,” spontan saja, dia langsung mengancam Linda; karena Evan memang memegang beberapa rahasia Linda selama ini.


“Wait, jadi orang yang ada di bandara dan foto yang baru-baru ini kesebar itu lu? Seriusan?” Linda bertanya dengan tatapan berseri-seri, seolah baru saja memenangkan jackpot.


“Pokoknya awas kalau lu berani sebar soal itu,” Evan kembali menegarskan soal acamannya.


“Iya, iya kagak bakal. Tapi bagaimana kalian berdua bisa pacaran, karena apa, terus terus…”


“Berisik ah, bukannya sekarang kita harus kembali lagi ke restoran?” Evan mengacuhkan Linda yang begitu penasaran akan hubungannya dengan Vina, dan bertanya ke Alfred; mengingat seharusnya mereka saat ini sedang memata-matai Joshua dan komplotannya.


“Ya salah lu, kalo saja lu ngak bertingkah kaya tadi, mungkin kita sudah tahu rencana orang-orang brengsek itu,”


“Jadi sekarang kita mau kemana ini bapak-bapak?” celetuk Linda ketika Alfred dan Evan terdiam sejenak.


“Ke apartemen gue,”


“What? Lu seriusan? Lu ngak mungkin… mau itu kan?” Alfred terlihat berusaha memberitahukan Evan sesuatu dengan kode lirikan matanya.


“Ah,” meski sempat bingung, Evan akhirnya mengerti maksud Alfred tersebut, “Ke restoran lu aja kalau begitu,” ucapnya, mengganti tujuan mereka menjadi restoran Alfred.


“Terus, si Fahmi?” Linda bertanya lagi,


“Biarin aja, dia kan bawa mobil sendiri,” jawab Evan.


Selama perjalanan, Evan merenungkan banyak hal. Kejadian hari ini membuatnya sedikit tertampar. Padahal, dirinya sebenarnya sudah berniat untuk memulai sebuah bisnis toko online dengan Galih dalam waktu dekat ini. Meski ia tidak tahu ada keterlibatan apa Galih dengan kedua orang tersebut. Yang jelas, saat ini ia agak ragu untuk berbisnis dengan Galih dan kelanjutan hubungan pertemanan mereka.


Selain itu, Evan juga mulai meragukan dirinya dalam hal kemampuan menilai orang lain; sesuatu yang selama ini selalu dia banggakan di depan Nadya, Alfred, Vina dan orang-orang terdekatnya.


***


“Wah, pantas aja lu berani untuk pindah ke bagian marketing. Ternyata lu puya teman yang cukup kaya juga,” ucap Linda ketika mereka sampai di restoran milik Alfred.


“Well, gua rasa sikap gentleman lu emang belum hilang juga sampai sekarang ya?” saat Linda mengucapkan kalimat tersebut, Alfred langsung menatap Evan dengan tatapan seolah mencurigai hubungan kawannya tersebut dengan Linda.


Evan tentu saja tidak menganggap perkataan Linda dan tatapan dari curiga dari Alfred tersebut dengan serius, sebab hubungannya dengan Linda memang hanya sebatas teman kerja yang solid; meski beberapa kali mereka sempat berpura-pura sebagai pasangan demi bisa menyusup dan meliput sebuah berita eksklusif.


Dengan kepala yang sedikit agak pusing—entah karena dia belum makan dari tadi siang atau karena tekanan darahnya yang naik akibat emosi tadi—Evan, bersama dengan Alfred dan Linda masuk ke dalam restoran Alfred lewat pintu belakang yang biasa dipakai oleh pegawai saat restoran baru akan buka di pagi hari, atau tutup di malam hari.


Selain sebagai restoran, dilantai paling atas juga terdapat sebuah kondominium yang cukup mewah dan sering dijadikan oleh tempat berkumpul oleh Nadya, Alfred, Nadya, Vina dan juga orang terdekat yang mereka sudah anggap keluarga sendiri.


“Kagak bagus mah kalau begini jadinya, seharusnya tuh…” saat sedang berjalan di dapur dan mendengar suara Vina, Evan langsung menghalau Alfred dan Linda.


“Soal Galih, lebih baik ngak usah kasitahu ke Vina sama Nadya, setuju?” Evan berbicara dengan suara agak pelan kepada Linda dan Nadya; yang disambut positif oleh Alfred dan Linda dengan sebuah anggukan. Menurutnya, sampai tahu keterlibatan Galih sajauh apa, akan lebih baik kalau Vina tidak usah tahu dulu untuk sementara.


“Kayanya seru nih,” ujar Alfred yang muncul pertama di depan Vina dan Nadya, sementara Evan dan Linda keluar setelahnya. Reaksi Nadya dan Vina saat melihat Linda tampak sama, agak bingung.


“Kenapa mukanya pada begitu semua? Dia Linda, teman kantorku. Ingat kan yang pernah kuceritakan dulu?” Evan langsung menjelaskan sambil berjalan menuju ke meja dimana Vina duduk dan kemudian duduk di samping Vina untuk bersandar manja di pundak Vina karena kepalanya yang masih terasa agak pusing.


“Ah, Linda yang itu, ayo duduk,” ucap Vina sambil tersenyum ramah, “Ah, dia teman kantor Evan yang dulu sering jadi partner saat meliput langsung,” Vina menjelaskan saat Nadya menatapnya dengan keheranan.


“Wah, ternyata orang ini punya sifat manja kaya begitu juga ya kak? Saya kirain dia cuma punya sifat dingin dan serius mulu,” ujar Linda setelah memperkenalkan diri dan bersalaman dengan Nadya.


“Masih banyak lah sifatnya absurd yang ngak banyak orang tahu loh,”


“Sstt, jangan ember kamu ke dia, bisa jatuh harga diriku di kantor nanti,” Evan langsung menaruh jari terlunjuknya di depan bibir Vina. Meski baik, Linda terkadang bisa sedikit jahil di kantor, sehingga agak wajar bila Evan sedikit merasa cemas jika orang ini mengetahui rahasinya.


“Ya sudah, bagaimana dengan hasil pengintaian kalian hari ini,”


“Aduh, bahas gituan bisa nanti aja ngak? Kalo calon suamimu baru pulang itu seharunya ditanyain udah makan malam belum, dipijat-pijat biar enak, bukan dinterogasi, gimana sih,” demi menghindari pertanyaan Vina, Evan sampai rela memaksa dirinya untuk bersikap seperti anak kecil yang sedang ngambek. “Awas lu ya kalau nyebarin,” tambahnya saat melihat Linda yang tidak berkedip saat menatapnya.


“Ya sudah, mau makan apa?” tanya Nadya,


“Bebas, yang penting enak dan bikin kenyang,” Alfred menjawab saat Evan baru akan membuka mulutnya.


“Bantuin noh,” Evan memberi kode kapada Linda,


“Heh, masa tamu lo suruh masak,” Nadya menghardik Evan dan menyuruh Linda untuk tetap duduk, “Yang, sini kamu,” ucap Nadya memberi kode kepada Alfred untuk berdiri sebagai gantinya.


“Kamu ngak mau bahas bukan karena temanmu Galih kan?” ucapan Vina setelah Nadya dan Alfred pergi membuat Evan dan Linda terkejut.