Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 8 : Musuh Yang Tidak Bisa Dianggap Remeh (3)



Ada satu alasan kenapa ia dan Vina bisa bertahan begitu lama selama ini menurutnya; karena sifat mereka yang sama-sama simple dan tidak terlalu banyak neko-neko. Mungkin karena mereka pernah merasakan bagaimana susahnya perjuangan sebelum menemukan kesuksesan masing-masing, ia dan Vina cukup fleksibel jika menyangkut soal jalan-jalan tanpa prepare sama sekali.


Dan jujur saja, ini juga bukan pertama kalinya mereka pergi hanya bermodalkan dompet, handphone, baju yang mereka pakai saja, dan juga laptop; yang mana ini selalu calon istrinya ini bawa kemana pun mereka pergi.


“Kalo tau mau kesini, aku udah pasti beli daging lebih banyak,” ujar Vina ketika mereka berdua sedang menata daging panggang dan beberapa makanan lainnya di atas meja yang ada di teras belakang Villa yang mereka sewa.


“Masih ada besok kali sayang,”


“Loh, bukannya kita cuma semalam disini?”


“Ngak, tanggal 14 malam atau 15 pagi baru kita pulang,”


“Hah? Seriusan?”


“Iya, jadwalmu kan juga kosong sampai tanggal 18,”


“Berarti kamu kerja sama dengan Kamila ya?”


“Ngak tuh, aku cuma nanya schedulemu aja tadi pagi ke dia. Tapi ngak bilang kalau mau liburan, soalnya ini juga spontanitas,” Vina tampaknya masih tidak percaya dengan jawaban Evan barusan dan memberinya tatapan curiga saat mereka duduk bersama. Hal itu membuat Evan sampai harus kembali menegaskan sekali lagi dengan lantang kalo dirinya tidak bekerja sama dengan Kamila.


“Tapi thanks ya, ada bagusnya juga. Aku memang lagi agak penat aja dengan permasalahan belakangan ini. Padahal aku juga baru mau rencanain liburan kemana, tapi malah kamu duluan yang bawa aku kesini,”


“Maaf ya, karena aku malah tambah bikin kamu pusing,”


“Ngaklah, kamu kan emang orangnya susah untuk dilarang kalau sudah bertekad. Yang penting, aku mau kamu berjanji satu hal,”


“Apaan?”


“Kalo rencanamu nantinya membahayakan dirimu sendiri, aku mau kamu jangan memaksakan diri. Ingatkan? Karirku tidak lebih penting dari pada kamu sendiri, lebih baik aku kehilangan semua ketenaranku dari pada harus kehilakangan kamu,”


“I Promise,” ucapnya; yang sebenarnya hanya sekedari dia ucapkan saja demi membuat Vina senang.


Karena dirinya cukup sadar, kalau kedepannya, jalan yang akan mereka lalui bakalan menjadi lebih sulit lagi begitu ia menjalankan semua rencana yang sudah ia susun dengan segala macam backup plannya. Meski begitu, jika Vina bertanya, tentu ia tetap akan memberitahu garis besar dari rencananya. Disamping untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari, penting juga bagi Vina untuk bisa bersikap tenang selama sebulan ke depan ini.


***


Esoknya, sebagai bagian dari kencan mereka hari itu, ia mengajak Vina pergi ke Taman Safari; tentu sebelumnya mereka singgah untuk membeli kaca mata hitam, wortel untuk binatang dan juga beberapa snack ringan saat mereka berkeliling nanti. Sialnya, karena bertepatan dengan hari libur, Antrian masuknya cukup panjang, bahkan sudah agak macet semenjak loket pembelian tiket masuk.


“Untung aku sudah isi bensin tadi sampai full,” ia memuji dirinya sendiri saat melihat antrian mobil yang begitu panjang.


“Bukannya termasuk kesalahanmu juga karena pas milih hari libur untuk datang ke sini,”


“Yang penting kan bukan ngantri sambil berdiri, kita tetap bisa beradem ria dalam mobil,” balasnya. Perkataan Vina tadi ada benarnya juga sih, pikirnya. Dia juga sedikit menyayangkan dirinya yang tidak melihat kalender sebelum memutuskan kesini.


“Jadi ini yang kamu maksud dengan rencanamu?”


Vina kemudian bertanya sambil menyodorkan tablet yang memperlihatkan foto-foto mereka berdua sesaat sebelum meninggalkan mal kemarin; tepatnya saat Evan memegang tangan Vina di depan restoran kemarin.


“Cepat juga fasmu ya, kupikir mungkin besok atau lusa baru keluar, ternyata secepat ini,”


“Ngapain kamu senyum-senyum, ini sama aja kamu langsung menantang Joshua kali. Kamu kan udah janji ka….”


“Itu cuma buat umpan, lagi pula fotonya udah di crop itu, wajahku ngak kelihatan,” Vina kemudian tampak mengamati foto yang diposting tersebut dan juga berulang kali seperti sedang berusaha menzoom out foto tersebut, “Itu foto yang di crop sayang, aslinya ada di Alfred,”


“Wait, maksudmu aslinya ada di Alfred?” ujar Vina yang tampak keheranan sekarang ini.


“Aku sama Alfred punya rencana untuk memancing Joshua atau sipapun itu untuk berbuat kesalahan sekali saja, supaya akhirnya bisa kami manfaatkan. Dan foto tersebut adalah salah satu rencana awalku,”


“Tapi kan soal identitasmu,”


“Tenang aja, meski Joshua punya yang asli, wajahku tetap di blur. Sekalian biar dia makin penasaran,”


“Kamu ama Alfred udah gila ya nantang si psikopat ini?”


“There’s no other option. Orang ini mainnya rapi banget, jarang bertidak kecuali merasa perlu. So, kita harus pancing dia keluar, bagaimanapun caranya,” jelasnya, dan ketika melihat Vina seperti hendak berdebat dengannya kali ini, ia langsung menyela, “Can we enjoy our date this time? Ngomongin soal ini nanti aja pas udah balik ke Vila. Okay?”


“O. Okay,” Vina tampak agak sedikit cemberut.


Evan berusaha menanggapi sikap calon istrinya ini dengan positif. Apalagi Vina termasuk tergolong yang moodnya gampang berubah; meski sebenarnya kalau sudah mendendam terhadap seseorang, pasti akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.


“Kenapa mukamu pucat banget? Kaya orang punya banyak hutang aja,” ujar Vina ketika mereka sedang mengantri di salah satu restoran yang ada di dalam Taman Safari.


“Hmm? Ngak, karena kedinginan mungkin?”


Vina tertawa pelan mendengar jawaban Evan barusan, “Ngaco kamu, mana ada orang yang kedinginan sampai keringat dingin kaya begini?” Vina membalas sambil menyeka dahi Evan yang memang berkeringat.


“Begitu ya?” Evan hanya tersenyum masam karena tidak bisa mengelak dari tatapan Vina tersebut.


Sebenarnya, dia sedang memikirkan mobilnya. Saat mereka sedang menikmati satwa yang ada sambil berkendara, disamping memasang wajah tersenyum saat Vina menatapnya, dia dengan hati-hati berusaha agar mobilnya tidak terlalu sering tergores; yang sebenarnya mustahil, karena sedari tadi entah sudah beberapa kali—dari kaca spion—ia melihat tanduk atau badan hewan yang mereka lewati menyentuh badan mobilnya. Dan pastinya akan ada baret halus ataupun kasar yang akan membuatnya pusing nantinya.


“Kamu benaran punya utang? Ama pinjol?”


“What?? Ngak lah, mana mungkin aku sebodoh itu,” ia langsung membantah dugaan Vina yang sedikit membuatnya terkejut sekaligus heran, kenapa Vina bisa sampai pada kesimpulan seperti itu.


“Ya kirain kan,”


“Ngadi-ngadi aja kamu,” ujarnya sambil geleng-geleng kepala karena pemikiran Vina tersebut.


Tentunya, dia ngak akan mengatakan apapun soal kecemasan mengenai mobilnya yang penuh dengan baret, karena hujung-hujungnya mungkin akan berakhir dengan celotehan dari Vina yang sangat ia tidak sukai. Sehingga, dia memilih untuk diam saja dan menikmati momen kencan mereka.


Sekitar jam 3 sore, setelah puas menikmat beberapa wahana hiburan—yang baginya tidak ada yang begitu berkesan—mereka memutuskan untuk pulang; berhubung juga semakin banyak orang yang menyadari kehadiran Vina dan mereka semakin tidak leluasa untuk bergerak dengan bebas.


“Wah, gosipnya tampaknya makin rame tuh di akun-akun lambe,” ujar Vina yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.


“Malah bagus, semakin rame semakin bagus. Karena makin besar juga kemungkinan si Joshua untuk blunder,”


“Kok kamu bisa sepercaya diri itu? Kalo sampai ngak berjalan sesuai dengan rencanamu?”


“No problem, semua kemungkinan akan berujung pada dia menjadi blunder. One way or another, hasilnya akan tetap sama. Kalau memang gagal, yah kita tinggal ungkap hubungan kita kan? Walau sebenarnya itu menjadi plan paling terakhirku,”


“Dasar, itu mah bukan rencana terakhir. Tapi emang hasilnya tetap hubungan kita akan terungkap kan?”


“Tumben kamu pintar,"


“What?!!”


“Yah, you know lah. Kamu kan biasanya agak ‘begitulah’ kalo menyangkut permasalahan yang rumit. Tapi kalo soal musik, you are the best,” ia sengaja sedikit menyanjung di akhir-akhir supaya dirinya tidak kena amuk calon istrinya ini.


“Kamu tuh ya…”


“Eits, ngak boleh pake kekerasan. Aku lagi nyetir,” ia langsung menyela ketika melihat tangan Vina yang terkepal sudah seperti siap memukulnya.


Setelah Vina mengurungkan niatnya, Evan tersenyum puas. Jika ada yang bilang kalo hubungan itu harus berwarna agar bisa awet untuk waktu yang lama, ia setuju dengan hal tersebut. Terkadang, pertengkaran kecil seperti ini membuat hubungan mereka berdua menjadi tidak membosankan. Selain Vina yang memang agak menggemaskan kalo sedang marah, momen seperti ini juga bisa mengalihkan Vina dari hal-hal tidak penting yang bisa membebani pikirannya.


***


Setelah 3 jam perjalanan—akibat terkena penutupan satu arah—mereka akhirnya tiba dengan selamat kembali di vila. Vina yang sedang tertidur pulas, entah kenapa tampak begitu cantik saat ini dengan rambutnya yang tergerai bebas dan agak kusut, sekaligus juga tampak begitu menggoda. Setelah yakin kalau Vina sedang tertidur pulas dengan mencolek bagian lengannya beberapa kali; dia kemudian melepas sabuk pengamannya dan berniat membangunkan Vina dengan menciumnya layaknya adegan drama korea kesukaan Vina.


Namun, seperti kata orang-orang, kehidupan yang indah seperti itu hanya ada di drama saja; saat bibirnya sudah hampir mengecup bibir Vina, Alfred entah dari mana tiba-tiba muncul di jendela sisi Vina sampai membuatnya terkejut dan pada akhirnya malah membangunkan Vina dengan cara yang tidak ia harapkan.


Jengkel karena rencananya gagal, dengan emosi yang sudah meluap-luap dia membuka pintu mobilnya dan hendak memarahi Alfred, yang ternyata bersama dengan Nadya juga.


“Lu kenapa ngak jawab telpon lu sih, gua sampai kedinginan di luar nungguin lu berdua,” di luar dugaannya, Alfred malah menyelanya lebih dahulu. Wajah Alfred juga terlihat seperti orang yang dilanda kecemasan.


“Lu ngak tau? Gua lagi quality time berduaan sama Vina pea. Masa yang kaya gitu aja lu musti di kasitahu. Dan juga, itu kehidupan privasi gua kali,”


“Sebentar lagi lu berdua akan di serbu wartawan dalam waktu dekat,”


“Maksud lu apa?”


“Si Joshua, di…..”


“Bisa dibicarakan di dalam kan? Masa lu berdua mau ngobrol dingin-dingin kaya begini?”


Begitu nama Joshua keluar dari mulut Alfred, ekspresi Vina terlihat sangat tidak senang nama orang itu disebut. Dengan cepat, untuk mencarikan suasana, Evan langsung mengajak Alfred dan Nadya untuk berbicara di dalam vila sesuai dengan saran Vina.