Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 5 : AFFRAID (6)



2 Hari setelah kecelakaan yang menimpa Evan....


Alfred, bersama dengan Fahmi—salah seorang teman Kamila—mengunjungi warnet yang dimasuki Evan sore sebelum dia kecelakaan. Alfred dan Fahmi kemudian membagi tugas. Alfred memilih untuk menyewa komputer yang berada di pojokan ruangan, seperti yang digambarkan Evan secara kasar dalam catatan kecilnya. Sedangkan Fahmi, karena lebih berpengalaman, dia bercakap-cakap dengan penjaga warnet tersebut.


Begitu duduk di PC yang ditandai oleh Evan, dia langsung mencari jejak penelususran di browser di PC tersebut; meski dirinya tau, kalo hal itu adalah sia-sia saja, karena setiap PC di warnet selalu mereset semua aktivitas setiap pengguna sebelumnya di PC tersebut jika bill yang mereka masukkan habis.


Sekitar 10 menit mencari, dia kemudian menemukan foto-foto Giovani dan Vna di recvcle bin; beberapa dari foto tersebut bahkan sempat dia lihat di beberapa artikel sampah di internet, yang membahas hubungan Vina dan Giovani seolah mereka berdua adalah pasangan selingkuhan yang terciduk media. Dengan segera, dia merestore foto tersebut kembali ke folder asalanya. Kemudian, dia mencatat kapap foto tersebut ditambahkan pertama kali dalam komputer tersebut lalu berjalan menghampiri Fahmi.


“Bagaimana?” dia bertanya,


“Nothing, pada bungkam semua,” Fahmi menjaab sembari mengangkat bahunya.


Alfred tersenyum tipis saat mendengar jawab Fahmi; memang sih, mereka tidak akan bisa berbuat banyak jika menyelediki sendiri. Oleh karena itu, dia kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil 10 lembar uang 100 ribuan dan meletakkannya di atas meja kasir, “Tolong kasih liat saya CCTV-nya,” ucapnya saat melihat mata penjaga warnet yang mulai terpaku pada uang di atas meja.


Melihat reaksi dari penjaga warnet yang tidak menjawab namun matanya masih terpaku dengan duit yang ada di atas meja, Alfred kemudian menarik secara perlahan uang tersebut; dengan tujuan meruntuhkan iman dari penjaga warnet tersebut. Memang, tidak semua orang akan tergoda dengan cara seperti ini, namun terkadang, menggunakan uang cukup berhasil untuk menjatuhkan keteguhan seseorang.


Dan dalam sekejap, penjaga warnet tersebut langsung mengayunkan tangan dan menahan duit yang ada di atas meja yang semakin manjauh dari hadapannya, “O. O.. Oke, akan saya tnjukkan,” ujar pejaga warnet tersebut yang tersenyum masam dan wajahnya terlihat agak berkeringat; mungkin karena gugup akan kehilangan duit sejuta yang ada dihadapannya.


“Ajarin gua dong kaya begituan,” Fahmi berbisik saat penjaga warnet sedang mengotak-ngatik komputer untuk menemukan rekaman CCTV yang Alfred inginkan.


“Psikologi dasar, buat lawan bicara kita menjadi gugup,” Alfred membalas juga dengan berbisik, agar penjaga warnet di depannya saat ini tidak tersinggung dan berubah pikiran.


Sekitar 10 menit mereka berdua menunggu, mereka langsung mendapatkan foto dari orang yang kemungkinan merupakan orang yang mereka curigai pertama kali menyebarkan artikel dengan foto Giovani memasuki ruang tunggu Vina. Bukti itu terbilang cukup penting, karena banyak kejanggalan dalam kasus kecelakaan Evan. Mulai dari CCTV yang rusak di hari kejadian sampai truk—sesuai dengan deskripsi saksi mata—yang menabrak Evan dan Kento pun tidak bisa dilacak keberadaannya.


Sadar kalo apa yang dilakukannya ini cukup berbahata, dia dan Fahmi sepakat untuk tidak terlalu menyelidiki kecelakaan yang menimpa Evan. Mereka lebih memilih fokus untuk melanjutkan apa yang dicari Evan dan Kento. Sebab, bisa saja, jika orang yang mencelakai Evan akan mencelakai dirinya dan juga Fahmi ketika orang-orang licik tersebut mengetahui pergerakannya.


***


1 Minggu berselang,


Evan belum juga bangun-bangun semenjak keluar dari ruangan operasi. Beberapa foto Vina yang mondar-mandir di rumah sakit—yang diambil secara diam-diam oleh beberapa orang di rumah sakit; entah perawat atau orang yang kebetulan melihat Vina—menyebar di beberapa jejaring media sosial. Beruntung, pihak rumah sakit cukup ketat soal keamanan bangsal VIP, sehingga tidak ada satupun media besar yang berani mengangkat berita soal keberadaan Vina di rumah sakit.


Dan selama seminggu itu pula, Kamila disibukkan dengan teleponnya yang berdering terus karena banyak orang; entah itu stasiun TV, acara infotaiment, sampai beberapa klien yang menanyakan kondisi Vina. Banyak dari mereka yang menduga kalo Vina sedang sakit parah, ditambah lagi dengan foto-Vina dan juga dirinya yang kerap kali keluar mondar-mandir di rumah sakit selama seminggu terakhir.


“Bagiamana keadaannya?” Kamila bertanya sambil menatap Evan yang masih terbaring tidak sadarkan diri di atas kasurnya ketika hanya ada dia dan Vina saja dalam kamar inap Evan.


“Terus pekerjaan lu gimana? Masa lu mau tinggalin sampai lebih seminggu? Lo ngak takut kena denda apa?”


“Kita udah bahas ini berapa kali sih? Masih perlu lu bahas lagi?”


“Ya tapi...”


“Enough, jawaban gua masih tetap sama. Sampai Evan bangun dan gua bisa tenang ninggalin dia, baru gua balik ke kerjaan gua semua. Titik.”


Vina menjawab dengan perasaan kesal, karena selama 2 hari belakangan ini, Kamila selalu saja mengungkit soal pekerjaan. Padahal, mereka sudah sepakat untuk menunggu sampai Evan sadar, baru mereka akan kembali dengan hiruk pikuk dunia hiburan. Toh, dia juga tidak menyatakan akan pensiun atau mundur dari semua pekerjaan atau projek yang sedang dia jalani sekarang.


Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Kamila mendengus ketika rebahan di samping Vina dan memilih untuk mengecek handphonenya; yang tumben hari ini tidak terlalu ramai seperti biasanya. Meski begitu, dia tetap tidak bisa melepaskan pikirannya dari segala pikiran soal kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya. Semenjak kejadian gosip Giovani dan Vina, dirinya menjadi sedikit parnoan dengan dengan media.


“Sudah sampai mana progress lagu baru lu?” untuk memecah keheningan gara-gara pembahasan soal pekerjaan tadi, Kamila mengungkit soal persiapan album baru yang sekarang ini sedang Vina kerjakan; dan kebetulan sedang ada di edit juga oleh Vina.


“Sudah ada 5 Demo yang jadi. Dan juga, gua jaga-jaga nyuruh agensi cari beberapa Demo yang bagus. Terutama untuk R&B. Cuma sekarang, gua agak bingung soal bahasa untuk lagu R&B, bingung mau incar pasar global atau lokal dulu,”


“Langsung aja di global, kalo di Indo R&B memang masih sepi persaingan, tapi kita juga ngak tahu pasar peminatnya kaya gimana. Jadi kalo di lokal, lagu R&B lu bakal kaya eksperiment untuk melihat minat pasar. Nah, kalo di global, banyak peminat tapi persaingan juga cukup kuat. Meski nama lu sudah cukup terkenal, tapi ini kan pertama kali lu cross genre. Jadi, sama-sama beresiko, tapi kalo mau dibilang mana yang lebih berisiko? Pasar lokal lebih risky,”


Kamila menjelaskan dengan agak detail. Mengingat ini merupakan kesempatan terakhir yang dimiliki Vina bersama dengan label terkenal secara internasional—karena belum ada isyarat megenai pembaharuan kontrak—sehingga dia merasa cukup penting bagi Vina untuk mengambil langkah yang tepat dalam memilih pasar untuk album berikutnya.


“Jadi, memang lebih baik fokus ke pasar internasional saja ya?”


“Ya iyalah, jarang-jarang artis lokal bisa di kontrak label top luar negeri,”


Vina menghela nafas saat mendengarkan pendapat Kamila; yang sebenarnya terdengar sedikit mengecewakan baginya. Padahal, dia sangat ingin membuat lagu R&B dalam bahasa Indonesia yang menurutnya punya tantangan tersendiri dibandingkan membuatnya dalam bahasa Inggris.


Penat dengan semua persoalan yang rasanya tidak ada ujungnya, dia menaruh laptop kembali di atas meja di depannya sebelum beranjak dari sofanya.


“Mau kemana lo?” Kamila bertanya,


“Cari udara segar,” Vina menjawab tanpa memalingkan wajahnya dan hanya terus berjalan keluar dari kamar inap Evan.


Di atas rooftop—yang kebetulan ada mini gardennya—dia duduk di salah satu bangku yang ada di balkon sambil memikirkan soal bagaimana kisahnya dan Evan tahun ini, yang menghadapi satu godaan dan cobaan paling berat dalam hubungan mereka berdua. Sedikit ada rasa penyesalan dalam dirinya karena terlalu banyak memilih diam saat dia terlibat gosip percintaan dengan Giovani. ‘Apakah semuanya akan berbeda jika saat itu dia langsung menolak gosipnya dan Giovani?’ pertanyaan tersebut belakangan ini begitu menganggunya sampai-sampai membuat kepalanya tidak bisa memikirkan ide untuk albumnya nanti.