Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 1 : FALLING IN LOVE (PART V)



“Apa? Ngak ada apa-apa kok,” dengan segera, ia mengubah ekspresinya; meski dia sadar kalau itu adalah hal yang sia-sia, dan berusaha mengelak dari pertanyaan Alfred yang bahkan sekarang ini menggoyangkan alisnya ke atas dengan cepat.


“Ah bohong, pasti ada sesuatu. Jujur ajalah, kaya kita berdua baru kenal lo kemarin sore saja. Mata lu saja sudah menunjukkan kalau lu berbohong,” Nadya mengucapkan hal tersebut dengan terlihat begitu percaya diri.


‘Feeling seorang wanita itu sangat kuat’ rasanya hal itu sangat betul adanya. Dirinya sendiri juga heran bagaimana Nadya semenjak mereka bertiga pertama kali mulai kenal akrab, selalu saja bisa menangkap basah dirinya atau Alfred saat sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Entah itu saat bertatapan face to face ataupun hanya lewat chat saja. Dia jadi sedikit penasaran, apakah Nadya ini pernah belajar psikologi atau tidak.


“Astaga, ngak percayaan amat sih lu Nad. Kagak ada apa-apa, cuma ngingat masa-masa gua SMP dulu, yang terasa lebih ringan tugasnya di banding disini. Masa itu harus gua ceritain juga?” ia tetap mencoba mengelak. Karena ia tahu, kalo sampai Nadya dan Alfred tahu apa yang dialaminya barusan. Kedua orang ini pasti akan menjadikan bahan gibahan di group BBM mereka bertiga nantinya.


Nadya untuk sesaat tampak mengamatinya dengan tatapan penuh curiga, sebelum akhirnya menghela nafasnya, “Ya sudahlah,” ucap Nadya sembari berjalan pergi kembali ke mejanya.


“Idih, ngambek dia,” goda Alfred.


Spontan saja, Nadya yang belum berjalan terlalu jauh dan mungkin masih mendengar ucapan Alfred, langsung menerjang Alfred dengan tendangan di bagian belakang lututnya dan membuat Alfred terjatuh.


Meski tidak mengucapkan apa-apa dan hanya tersenyum, ia tahu kalo tendangan barusan pasti sangat sakit. Itu terlihat jelas dari wajah temannya satu ini sampai memerah karena menahan sakit, urat-urat di sekitar pelipis kepala Alfred bahkan sampai terlihat walau agak samar-samar.


Hal itu tidak mengherankan baginya. Karena seingatnya; beberapa bulan lalu, Nadya pernah bercerita kalau sedang memulai latihan taekwondo.


“Perih kan?” dia menggoda Alfred yang secara sembunyi-sembunyi sedang mengelus bagian yang ditendang oleh Nadya barusan.


“Berisik lu,”


“Lagian geblek juga sih lu. Orang pernah latihan taekwondo lu tantang,” ia sebenarnya kasihan dengan temannya satu ini. Namun, ia juga cukup lega karena kalau tidak, Alfred mungkin akan terus-terus menginterogasi-nya sekarang ini dengan alasan man talk.


Hari itu, pikirannya terbagi dua antara fokus dengan pelajaran dan juga memikirkan apakah orang tuanya akan setuju kalo dia masuk klub musik. Dia memang cukup suka belajar, namun musik seperti merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolaknya. Setiap kali dia stres, mendengarkan musik sambil memainkannya di piano selalu menjadi pelariannya.


***


Malam harinya, setelah menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Ia keluar dari dalam kamarnya; turun ke lantai bawah dan berjalan menuju ke ruang baca; tempat dimana ayah dan Ibunya bersantai dan mengobrol sesudah makan malam.


“Malam bud, mama ada di ruang baca kan?” ia menyapa bude; pembantu yang sudah paling senior di keluarganya dan sudah menjadi seperti keluarga sendiri di rumah ini. Ia juga sekalian memastikan apakah ibu dan ayahnya ada di ruang baca atau tidak.


Rumahnya memang tergolong cukup luas dan memerlukan beberapa pembantu untuk merawat rumah tersebut. Semenjak ayahnya beralih menjadi seorang trader dan cukup sukses, ayahnya membeli tanah di samping rumahnya, lalu membangun kembali rumah mereka secara perlahan menjadi sedikit mewah.


“Iya, barusan saja masuk tadi,” jawab bude


“Thanks bud,” ucapnya.


Di dalam, sesuai dengan namanya, ‘ruang baca’, suasananya hening seperti di perpustakaan. Karena, ruangan ini memang di desain oleh ayahnya sebagai ruangan untuk mencari inspirasi. Musik yang diputar pun adalah musik klasik yang bernuansa lembut seperti karangan mozart yang kebanyakan memiliki alunan nada yang tidak terlalu agresif.


Saat memasuki ruangan tersebut, pertama-tama, ia berjalan menuju rak buku paling pojok kanan tempat dia menyimpan beberapa buku favoritnya, salah satunya adalah seri npvel Harry Potter yang sangat ia sukai; entah sudah berapa kali ia menamatkan buku tersebut.


“Bagaimana hari pertamamu di sekolah?” apa yang ia harapkan pun terjadi; yakni Ayahnya bertanya soal sekolah.


Di dalam otaknya, semua skenario yang sudah dipikirkannya sebelum masuk ke ruangan tersebut langsung terloading di kepalanya. Sambil menimbang-nimbang apa yang harus di katakannya, dengan cepat ia menarik asal-asalan salah satu buku dari laci—yang toh isinya adalah buku favoritnya semua—dan duduk di sofa di hadapan Ayah dan Ibunya.


“Baik, ngak ada masalah sama sekali,” jawabnya sembari membuka sebuah halaman di buku yang di ambilnya tadi; yang kebetulan adalah seri ke 2 dari Novel Eragon, “Aku juga ngak nyangka kalau Top 3 lainnya dari Olimpiade matematika waktu itu bakal memilih SMA yang sama denganku,” ia melanjutkan dengan sedkit bercerita soal Nadya dan Aldred terlebih dahulu sambil mencari waktu yang pas untuk menanyakan soal klu musik.


“Bagus dong, berarti SMA-mu memang terbukti favorit banget buat orang-orang pintar,” Ibunya membalas,


“Iya sih, tapi akan makin susah buat dia dong untuk bisa dapat juara 1 umum,” celetuk Ayahnya.


“Pa. Ma,”


“Hmm?”


“Boleh ngak aku masuk klub musik?” melihat suasanya cukup bagus, ia memutuskn untuk bertanya saja langsung. Toh, selama ini ia tidak pernah meminta sesuatu dan hanya terus fokus dengan belajar dan belajar saja. Sehingga, setelah menimbang dengan cermat hal tersebut, rasaya cukup kecil kemungkinan Ayah dan Ibunya akan menolak.


“Kalo kamu yakin ngak bakal menganggu pelajaran dan nilaimu disekolah, ya boleh saja,” jawab Ayahya. Ibunya juga tampak tidak ada penolakan sama sekali, hanya menangguk sekali sambil tersenyum ringan saat Ayahnya berbicara.


“Tenang saja, pasti bisa kok,” ia menerima syarat Ayahnya tersebut dengan begiru percaya diri.


Selain karena ia memang cukup yakin dengan kemampuannya. Lagipula, musik kan juga cukup baik untuk menghilangkan kepenatan ketika otak sudah terlalu capek untuk belajar. Dan, disamping itu, musik juga termasuk salah satu hobinya, jadi seharusnya tidak akan membebaninya sama sekali.


Ia masih tinggal bercerita dengan Ayah dan Ibunya untuk beberapa saat setelah mendaptkan izin. Yah, hitung-hitung bersantai sebentar setelah capek mengerjakan tugasnya yang begitu menumpuk tadi. Kebetulan juga, musik yang diputar sekarang salah satu kesukaannya: Canon in D – Johann Pachelbell.


Saat mendengar lagu tersebut, ia seperti bernostalgia; karena lagu ini menjadi lagu yang pertama kali ia kuasai saat masih berumur 8 tahun. Selain karena memang nadanya yang cukup mudah dan simple, lagu ini juga tidak terlalu banyak menuntut kecepatan dan menekan tuts banyak-banyak dalam waktu yang bersamaan.


Ia juga masih ingat bagaimana orang tuanya begitu memujinya ketika berhasil menyelesaikan lagi tersebut. Apalagi mengingat dia bukanlah seorang pianis profesional yang memang dilatih untuk memainkan partitur-partitur klasik.


Saat berjalan kembali ke kamarnya, perasaannya begitu senang namun juga sedikit gugup. Kenapa? Karena dia harus memikirkan alasan yang tepat untuk mengelak dari Alfred dan Nadya yang begitu kepo dengan urusannya.