Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 5 : AFFRAID (4)



“Gimana? Enak kan?” Kamila bertanya ketika melihat Vina yang tampak sangat menikmati bebek goreng yang dia pesan.


“Okelah, Tapi bukannya lu harusnya ngelarang gua makan banyak? Kan besok lusa gua ada pemotretan. Kalo kelihatan gemuk gimana?” Vina membalas dengan menggerutu ketika teringat dengan jadwal syuting iklannya besok lusa; yang kebetulan memang tentang produk kecantikan.


“Ah, biarin aja. Lu bukan aktris, orang lebih menilai suara lu. Bukan badan,” Kamila membalas; karena selama ini orang-orang tidak pernah melakukan body shamming sama sekali terhadap Vina semenjak dari dia debut sampai sekarang. Padahal, jika orang-orang yang memperhatikan dengan teliti, Vina sudah sedikit agak gemukan dari pertama kali dia debut dulu. “Ayo pak, pesan lagi kalau masih kurang. Kapan lagi ditraktir aktris internasional pak,” Kamila menambahkan ketika melihat Pak sopir mereka tampak malu-malu melahap makanan yang ada di depannya.


Pak sopir tampak agak malu-malu, mungkin karena banyak orang yang melihat dan sedang mengambil gambar; yah, itu sih sebenarnya sudah menjadi bagian dari hidup setiap hangout dengan artis terkenal. Sementara menikmati makanannya, handphone Vina kemudian bergetar; dan menunjukkan panggilan dari Alfred.


Vina sedikit keheranan. Jarang sekali Alfred akan menelponnya langsung, karena selama ini mereka selalu hanya berkomunikasi via Whatsapp saja. Karena penasaran, dia langsung mengangkat telepon Alfred tersebut.


“Halo?”


“Halo Vin, lu lagi dimana?” suara Alfred terdengar agak parau. Seperti orang yang sedang bersedih karena habis diputuskan pacarnya.


“Di Surabaya, ada kerjaan, kenapa?” Vina membalas, perasaannya mulai sedikit was-was saat mendengar suara Alfred yang agak parau dan pelan.


“Evan kecelakaan....,”


Mendengar 2 kata awal dari perkataan Alfred, Vina tidak bisa berkata apa-apa. Dia terdiam, sampai-sampai handphonenya terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai. Kamila yang melihat hal itu, langsung menunduk; megambil telepon Vina, “Hey, are you okay,” dia langsung menanyakan kondisi temannya itu sambil menyodorkan hp miliknya yang terjatuh tadi.


Vina yang kemudian tersadar karena pikirannya sempat ngebleng tadi, langsung beridri dari tempat duduknya, memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tasnya, meraih 5 lembar uang 500 yang kemudian dia letakkan diatas meja dan mengajak Kamila beserta Pak Sopirnya untuk segera pergi.


“Ada apa? Cerita dulu bisa?,” tanya Kamila kembali yang keheranan dengan sikap Vina yang seperti dikejar sesuatu.


“Evan kecelakaan,”


Mendengar jawaban Vina, Kamila langsung paham dan langsung memasukkan tablet beserta handphone ke dalam tasnya, lalu mengikuti Vina yang sudah duluan pergi ke mobil, “Uangnya diatas meja ya mbak,” ucapnya ketika mbak-mbak yang berada di depan pintu hendak menahan mereka karena belum membayar.


“Langsung ke bandara aja pak,” ucap Vina kepada pak Sopir, “Sewa Private Jet sekarang,” tambahnya kepada Kamila tampak sibuk dengan handphonenya.


“Oke,” Kamila menjawab sambil menganggukkan kepala.


***


Sementara itu, Alred, setelah selesai mengurus administarasi Rumah sakit untuk Evan dan Kento. Dia langsung menjenguk Kento, yang kebetulan tidak mengalami luka parah—tidak seperti Evan yang harus sampai dioperasi karena pendarahan di otak dan beberapa luka dalam di sekujur tubuhnya—guna menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa sampai mereka bisa kecelakaan seperti itu.


Kento, yang sekujur tubuhnya masih terasa sakit, kemudian menunjuk buku catatan Evan yang kebetulan ada di meja kecil di samping tempat tidurnya dan menjelaskan kepada Alfred mengenai apa yang mereka lakukan sebelum kecelakaan naas tersebut.


Di luar, setelah mendengar keseluruhan kisah Kento sebelum dia dan Evan kecelakaan. Alfred begitu terkejut dan hanya bisa duduk di kursi sambil tertunduk lemas. Dia tidak menyangka kalo cerita Evan soal kecurigaannya kalo gosip Vina adalah ulah seseorang adalah betul. Awalnya, dia menganggap kalau perkataan Evan tersebut hanyalah sebuah hanyalah imajinasi liar Evan sebagai mantan wartawan.


“Hey, are you okay?” Nadya yang baru saja kembali dari toilet, bertanya karena cemas melihat Alfred yang duduk di kursi dengan wajah yang pucat pasi seperti baru melihat setan.


“Gua sudah termasuk teman yang buruk. Malam itu, seharusnya gua menganggap serius apa yang dia katakan. Padahal, selama ini, dia selalu mendengar keluh kesah gue, selalu kasih solusi saat gue kesusahan. D.. Dan...”


Melihat Alfred yang matanya mulai berkaca-kaca dan berbicara dengan tersedu-sedu, Nadya langsung memeluknya. “It’s okay, semuanya sudah lewat. Yang penting sekarang adalah, bagaimana caramu menebusnya,” dia berusaha menenangkan Alfred yang mulai menangis sesenggukan setelah beberapa saat dalam pelukannya.


“Nad,”


Ketika sedang menenangkan Alfred, dia mendengar suara Silvia menyapanya dari belakang; karena memang dia juga menelpon Silvia begitu mendengar kabar kecelakaan Evan. Sebab, orang tua Evan sekarang menetap di bali setelah Ayah Evan pensiun. Dan butuh sedikit waktu sebelum orang tua Evan sampai ke Jakarta.


“Eh, cepat juga lu sampai,” dia membalas menyapa sambil terus berusaha menenangkan Alfred. Dia sedikit terkejut sebenarnya melihat penampilan Silvia yang lusuh, seperti habis berlari cukup jauh untuk sampai ke rumah sakit ini.


“Evan mana?” Silvia terlihat gelisah ketika bertanya soal Evan; hal itu terlihat jelas dari matanya yang merah seperti orang yang akan menangis.


“Masih di ruang operasi,” dia menjawab sambil melepas pelukannya dari Alfred perlahan setelah Alfred agak tenang, “Aku antar dia dulu ya,” imbuhnya kepada Alfred; yang akhirnya malah memilih untuk berdiri dan ikut berjalan ke depan ruang operasi.


Waktu demi waktu berlalu, sudah hampir 4 jam lamanya semenjak Evan di bawa menuju ruangan operasi. Jam digital yang terpampang cukup besar di atas plang penanda ruangan operasi menunjukkan pukul 11 malam lewat. Alfred dan Silvia terlihat menunggu dengan cukup gelisah; kadang-kadang mondar-mandir di depan lorong, terkadang juga sambil mengigit jari atau kuku jari, dan berbagai tingkah lainnya yang menunjukkan kalo mereka berdua tidak bisa tenang.


Berbeda dengan Nadya, dia berusaha tetap tenang walaupun dalam hatinya dia juga deg degan menunggu layar monitor yang menunjukkan status dari Operation Room yang dipakai Evan berubah menjadi selesai.


Kejadian ini juga cukup mengejutkannya, karena baru saja 2 hari yang lalu; dia, Evan, dan Vina melakukan video call group. Wajah Evan yang begitu ceria dan sempat-sempat menggombali Vina, semua itu masih terekam jelas di kepalanya, dan membuat dia tidak menyangka kalo musibah seperti ini akan menimpa Evan. Dan kalau betul apa yang dikatakan Alfred soal kecelakaan ini mungkin disengaja, dia tidak bisa membayangkan orang sekejam apa yang tega melakukan hal sekeji ini.