
“Bisa dibilang begitu sih,” ucap Evan dengan santai dan percaya diri sambil melirik ke arah Vina lalu mengedipkan mata sebelah kanannya ketika Vina melihat ke arahnya.
Vina yang tampaknya masih malu-malu mengakui hal tersebut, dengan lantang langsung menolak mentah-mentah pernyataan Evan, “Apaan? Kan pas lomba masak waktu itu kamu duluan yang nembak aku,” seru Vina dengan suara yang agak meninggi. Bagi orang lain mungkin terdengar seperti sedang marah. Namun bagi Evan, reaksi Vina sekarang ini lebih seperti orang yang sudah ketahuan rahasianya namun masih mengelak karena malu untuk mengakuinya.
Mumpung mereka masih berada di jalan dan tidak ada yang bisa dilakukan selain berdiam diri di dalam mobil, ia memutuskan untuk sedikit memanaskan situasi. “Tapi, seingatku setelah pentas pertama kita berdua, kamu deh yang nembak aku di belakang panggung,” ucapnya sembari bertopang dagu dan mengelus-mengelus dagunya dengan agak pelan; seperti orang yang sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Sejak kapan? Aku kan cuma bilang….”
“Cuma bilang apa?” Kamila yang sedari tadi hanya mengamati, mulai ikut memojokkan Vina hingga wajahnya memerah; yang menurutnya, sebentar lagi akan membuat Vina ngambek atau merajuk.
“Orang aku cuma bilang: ‘Nice Job’, ‘Permainan yang bagus’, yang kaya begitu-begitu saja kok. Ngak ada yang spesial,” jawab Vina yang kali ini masih mengelak. Hal wajarnya sih menurutnya kalo Vina agak lupa dengan apa yang terjadi saat itu. Terlebih lagi saat itu juga merupakan momen bahagia buat dia, dan tentu saja perkataan yang dia ucapkan saat itu pasti akan terkubur oleh kenangan indah kemenangannya di pentas seni kala itu.
“Yakin lu ngak ada yang spesial?” Kamila yang tampaknya masih sangat kepo dengan hal tersebut, kembali menanyai Vina dengan tatapan seorang detektif yang mencium ada sesuatu yang tidak beres.
“NGAK!!” Sesuai dengan apa yang Evan perkirakan, Vina yang merasa terpojok akhirnya kesal dan menjawab dengan suara yang lantang dan sedikit berteriak jengkel. Bahkan setelah itu, Vina tidak mengatakan sepatah katapun baik itu kepadanya ataupun Kamila sepanjang sisa perjalanan menuju agensi milik Vina.
Sebagai salah satu aktris yang menjadi langganan awards baik itu domestik maupun internasional, ia tidak heran kalo Vina sampai bisa mendirikan perusahaan entertaimentnya sendiri. Vina sendiri sebenarnya sudah lama menyuruh Evan untuk pindah dari perusahaannya yang sekarang ke agensi miliknya. Namun, Evan menolak tawaran tersebut karena tidak ingin dipandang sebagai orang yang hanya bisa nebeng dengan kesuksesan Vina.
Sampai di perusahaan milik Vina; seperti pasangan kerajaan dalam novel yang sering dibacanya belakangan ini, mereka di sambut oleh banyak fans Vina yang dalam waktu singkat sudah mengepung mobil Vina sampai hampir tidak bisa berjalan. Kilatan flash; ketukan di kaca mobil dari tangan-tangan fans yang mengikuti mobil mereka; menjadi pengalaman unik tersendiri baginya. Apalagi, ini merupakan pertama kalinya ia dan Vina tampil di depan publik secara terang-terangan.
Butuh waktu sekitar 10 menit lamanya bagi mereka untuk bisa keluar dari kerumunan tersebut; karena Vina memilih untuk menyetop mobil dan memberikan fans service dengan memberikan tanda tangan dan foto bersama lewat jendela rooftop selama beberapa menit.
“Jadi begitu rasanya menjadi Superstar,” ucapnya saat mereka berada di parkiran private belakang gedung; yang jalan masuknya dijaga cukup ketat sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Bahkan, untuk sampai ke tempat itu, mereka harus melewati beberapa pos penjagaan, yang tentu keamanannya bukan kaleng-kaleng.
Entah sudah ke berapa kalinya dirinya menginjakkan kaki di gedung tersebut, tetap saja ia masih terkagum-kagum saat mengingat bagaimana Vina bisa sampai di titik sekarang ini. Susah, senang, tangis dan tawa, ia sudah melihat semua itu saat bersama-sama dengan Vina selama 11 tahun terakhir.
Momen bagaimana Vina mendirikan gedung ini dari kecil hingga menjadi gedung besar berlantai 10 dengan berbagai billboard di bagian depannya; yang biasa digunakan sebagai sarana promosi artis yang bernaung dibawah agensi milik Vina saat ini, sampai saat dimana Vina jatuh dalam krisis yang hampir membuat dia bangkrut dan merelakan gedung hasil kerja kerasnya tersebut, ia ingat semua momen tersebut.
“Cukup melelahkan, tapi ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Mungkin senang, karena akhirnya kita bisa berjalan bersama tanpa khawatir dijepret kamera,” ujarnya setelah berpikir sejenak sembari bernostalgia sedikit tadi.
Sejujurnya, ada tekanan tersendiri saat mereka harus berkencan secara diam-diam selama ini. Pernah beberapa kali mereka sampai harus lari dan kucing-kucingan dari paparazi yang begitu kekeh mengikuti mereka dari pagi hingga malam. Rasanya, mereka ini sudah seperti pasangan yang sedang berselingkuh; pengalaman yang tentu tidak mau ia rasakan kembali. Dan semenjak saat itu, ia dan Vina lebih memilih liburan ke luar negeri; entah beberapa hari atau bahkan sampai sebulan.
Sesampainya mereka di depan ruangan CEO—yang ditunjuk oleh Vina, karena dia pemegang saham terbesar; sebanyak 68%—Vina menghentikan langkahnya dan memegang tangan Evan. Evan tentu cukup terkejut dengan apa yang di lakukan Vina, apalagi karena ini merupakan pertama kali mereka bertemu secara resmi sebagai pasangan dengan CEO agensi Vina.
Pemandangan tersebut sontak saja membuat orang-orang yang melihat—terutama pegawai khusus di kantor CEO—menjadi riuh. Ada beberapa yang mulai mengambil foto, ada juga yang berbisik-bisik. “Are you okay?” Evan bertanya saat melihat Vina yang menutup mata dan seperti sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang buruk.
“Ngak apa-apa, cuma agak gugup saja,” ujar Vina setelah menghela nafas sebentar, sementara tangannya sekarang ini sedang meremas tangan Evan, “Mil, buka pintunya,” ucap Vina kembali. Evan yang tidak mengetahui apa-apa, hanya mengikuti apa yang Vina katakan untuk saat ini. Walau sebenarnya, dalam pikirannya dia sedikit cemas dan bertanya-bertanya kenapa Vina bersikap seperti tadi.
‘Apakah hubungan mereka membawa dampak buruk bagi karir Vina dan perusahaannya?’ pertanyaan yang mengandung keraguan tersebut tersirat di dalam kepalanya. Apalagi semenjak hubungan mereka berdua tersebar luas di media sosial, cukup banyak komentar yang mengatakan kalau dirinya tidak cocok bersanding dengan Vina.
Dan kalau mau dipikir-pikir kembali, semenjak hubungan mereka berdua terungkap. Kehidupannya juga seperti semakin terbatas dan fake. Teman-teman kantornya yang dulunya acuh tak acuh, sekarang menjadi murah senyum kepadanya; yang menurutnya sudah pasti karena statusnya sebagai pacar Vina. Dan yang paling menganggunya, adalah tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan bebas. Karena tidak bisa dipungkiri, ia sebenarnya sedikit kesal soal komentar buruk yang mengata-ngatai Vina soal buruk dalam memilih pasangan.
Meski begitu, ia tidak mau semua itu menjadi penghalang baginya dan Vina. Apalagi melihat bagaimana Vina sudah berani mengambil langkah yang cukup berisiko terhadap karirnya penyanyi papan atas. Setidaknya, hal yang bisa ia lakukan adalah terus memegang komitmen mereka berdua semenjak mereka pertama kali jadian dulu, “Together Forever, Doesn’t Matter What Happen in front of us”.