Love Start From Music

Love Start From Music
EPISODE 5 : AFFRAID (3)



“Ah, capek benar. Gua kira cuma bakal santai-santai; duduk-duduk sambil ngasih komentar, ternyata harus sampai ke luar kota juga. Bisa gila lah gue. Gua kan tujuannya mau nyari inspirasi, ini mah malah menyiksa diri,”


Vina menggerutu, sebab selama 3 hari ini dia baru merasakan kelelahan yang luar biasa sebagai juri untuk acara kontes menyanyi yang dipikirnya hanyak akan santai-santai saja. Belum lagi dia harus menghadapi serangkaian wartawan yang masih mengejarnya akibat gosip soal dirinya dan Giovani beberapa hari lalu. Padahal, dia dan agensinya—walau hanya sepihak, karena Giovani tidak melakukan apa-apa—sudah memberikan klarifikasi terkait rumor tersebut.


Dan, kalau bukan karena nasihat Evan, orang tuanya, dan juga memikirkan Kamila—yang mungkin akan sangat pusing nantinya—dia pasti sudah mengundurkan diri dari acara tersebut meski harus membayar pinalti yang cukup tinggi.


“Sabar aja udah, lagian ini cuma sebulan kok. Setelah itu kan cuma dalam studio aja terus acaranya. Namaya juga tahap audisi,”


“Ya kan bisa lewat video conference gitu, atau peserta buat video penampilan mereka, baru juri tinggal menilai mana yang bagus,”


“Beda keles. Audionya ngak bakalan sama kalo hasl rekaman video dibandingkan dengar langsung. Apalagi yang cuma punya HP yang ngak terlalu bagus, dan juga mungkin ada yang ngak punya smartphone,”


“Hadeh, taulah. Capek, mau istirahat,”


Kamila hanya tersenyum melihat tingkah Vina yang rewel seperti anak kecil saat ini, “Kita keliling kulineran ke tempat paling enak yang bapak tau, tolong ya,” ucapnya pada sopir mereka; yang kebetulan memang cukup tau daerah surabaya tempat audisi acara Vina berlangsung saat ini. Karena kebetulan, sekarang juga sudah jam 7 malam.


“Ok, ada refrensi khusus atau tidak ya? Biar lebih pas dengan selera mbak Vina aja maksudnya,” jawab sopir mereka dengan cara bicara yang sangat medok meski tidak memakai bahasa daerah.


“Ngak ada, bebas kok. Pengen ngerasain masakan Surabaya itu kaya gimana,” jawab Kamila.


Dia; Kamila, sebenarnya cukup mengerti kalau Vina sampai mengomel seperti anak SD yang tidak dipenuhi keinginannya. Karena tujuan Vina sebenarnya memang ingin bersantai dan mencari inspirasi untuk album terbarunya yang ditargetkan rilis bulan 6 atau bulan 8 tahun ini; dengan tujuan bisa masuk nominasi grammy.


Dan lagi, album kali ini bisa dibilang last chance dari Vina sebelum masa kontraknya dengan salah satu label musik terkenal di eropa habis. Sehingga, dia sangat ingin memanfaatkan kesempatan itu sebelum memutuskan untuk bergabung kemana lagi; karena sampai sekarang belum ada kepastian soal perpanjangan kontrak sama sekali dengan label tersebut.


***


Kembali ke Evan,


Setelah mendapatkan alamat IP orang yang menerbitkan artikel soal Vina dan Giovani waktu itu beserta dengan lokasinya, dia bersama dengan Kento langsung meluncur sore harinya untuk mencari orang tersebut.


“Kalo bukan reporter, pasti fansnya Giovani ini mah. Palingan antara itu dua,” ujar Kento yang terdengar begitu  yakin dengan teori yang dia bicarakan.


Dalam hati, Evan hanya tersenyum dan sedikit menganggap kalo apa yang diketahui Kento sangatlah sempit.  Sebab, di dunia jurnalis—yang juga penuh dengan sisi gelap—ada beberapa hal yang tidak bisa diketahui tanpa nekat menyelam lebih jauh; yang mana dia sendiri sebenarnya sedikit takut saat sudah mengetahui beberapa rahasia kotor dunia hitam tersebut, baik secara langsung ataupun mendengar cerita dari seniornya.


Mengikuti alamat yang diberikan oleh hacker kenalan Evan, mereka ternyata diapandu ke sebuh warnet di daerah pinggiran kota; walau masih tetap terasa agak modern sih karena rumah-rumah yang ada di sekitar situ masih terbilang cukup bagus untuk kata ‘pinggiran kota’ yang biasanya terkesan dengan daerah agak kumuh.


“Lu tunggu disini, kalo ada orang yang mencurigakan lewat, foto saja,” perintah Evan kepada Kento sebelum keluar dari dalam mobil.


Dia sedkit sengaja memarkir mobilnya agak jauh—sekitar 5 atau 10 meter dari warnet yang dimaksud oleh hacker kenalannya—dengan maksud untuk tidak menimbulkan kecurigaan jika orang yang dia cari kebetulan ada di dalam warnet tersebut.


Tidak seperti warnet pada umumnya, yang mana berbau asap rokok. Bagian dalam warnet ini dipisahkan antara yang merokok dan tidak merokok, sebuah nilai plus bagi kebersihan jika dia harus menilai. Ornamen-ornamen dan fasilitas yang ada; seperti mesin minuman, mini kantin, sampai ruangan santai dengan sofa yang terlihat empuk, membuat warnet ini seperti ingin menahan para usernya untuk berlama-lama dan menghabiskan duit mereka terus dan terus sampai tidak tersisa.


“Permisi, mau berapa lama kak?” tanya penjaga warnet yang kebetulan adalah seorang perempuan.


Evan, dengan santai langsung tersenyum dan sedikit berbasa-basi membahas soal warnet yang terlihat nyaman ini. Dia bahkan sedikit menggoda penjaga warnet tersebut. “Kalo boleh tau, alamat IP ini dari komputer yang mana ya?” setelah merasa mbak-mbak penjaga warnet di depannya termakan rayuannya; sesuatu yang dia pelajari setelah sempat 5 tahun menjadi wartawan.


Dan betul saja, mbak-mbak tersebut tanpa ada reaski penolakan langsung mengambil kertas berisikan alamat IP yang Evan berikan. “Sebelah sana mas,” jawab mbak-mbaknya lagi sambil menunjuk komputer yang ada di meja deretan keempat dan berada di pojokan ruangan.


“Kalo boleh, bisa saya liat CCTV-nya?” Evan kembali bertanya setelah melihat beberapa CCTV yang kebetulan terdapat di beberapa titik; yang jika dilihat sekilas mengawasi bagian komputer yang ditunjuk oleh mbak-mbak tadi.


“Maaf, untuk itu saya ndak bisa memutuskan mas,” jawab mbak-mbak itu lagi.


Tidak mau membuat mbak-mbak tersebut terkena masalah dan kehilangan pekerjaan nantinya, Evan kemudian berterima kasih dan keluar dari warnet tersebut dengan tangan kosong. Padahal, dia sebenarnya sedikit berharap akan menemukan setidaknya identitas atau wajah orang yang bisa dia curigai.


“So, bagaimana dengan penyelidikannya pak detektif?” Kento langsung menyambut Evan ketika berada dalam mobil.


“Nope, mereka ngak mau kasih liat CCTV-nya,” keluh Evan.


Tanpa menghiraukan Kento yang mulai cerewet dengan nasihat-nasihat karena gagal mendapatkan rekaman cctv yang cukup penting, Evan dengan agak tergesa-gesa mencari catatan kecil yang biasa dia bawa dalam tas kerjanya saat dulu menjadi wartawan.


Hal itu serasa sudah menjadi kebiasaannya; mencatat hal-hal yang cukup penting yang dia dapatkan setiap menyelidiki sesuatu. Sebab selama ini, kebiasaan seperti itu membantunya untuk fokus dalam memecahkan teka-teki kasus atau permasalahan yang dia selidiki agar lebih terarah dan tidak menyimpang kemana-mana.


“Bagaimana kalo kita pulang dulu, berhubung sekarang sudah mau jam makan malam juga,” usul Kento saat Evan masih terpaku pada buku catatan yang sedang dia pegang, terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu.


“Oke,” ucap Evan sambil melempat buku kecilnya tersebut ke pangkuan Kento, “Lu bisa baca-baca tuh kalo mau advice soal bagaimana menjadi wartawan yang sukses, walau semaunya belum tentu akan berguna sih,” ucap Evan kembali.


Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kento. Dia langsung membuka buku catatan milik Evan tersebut. Dirinya cukup terkesima ketika melihat isi catatan Evan yang penuh dengan detail-detail penting untuk setiap artikel; yang beberapa diantaranya sempat membuat heboh perusahaan.


Kento begitu tenggelam dalam catatan tersebut. Perlahan, dia mulai mengerti kenapa Evan sempat dijuluki tangan emas, karena setiap artikel yang dia tulis meraih perhatian banyak orang dan tidak bersifat click bait sama sekali.


“AWAS!!!” teriakan Evan yang begitu keras disertai dengan tangan Evan yang memalangi di dadanya membuatnya terkejut. Namun, sebelum dia bisa menyadari apa yang terjadi. Sorotan lampu yang menyilaukan matanya diikuti oleh benturan keras yang begitu hebat membuat dia tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi.


Ketika ia membuka matanya, dia samar-samar mendengar bunyi sirene dan mendapati dirinya terbaring di atas sesuatu yang begitu empuk. Badannya terasa seperti tidak bisa digerakkan; tepatnya lebih seperti diikat oleh sesuatu, dan juga seperti ada sesuatu yang menempel di mulutnya.


Dia bisa melihat beberapa orang dengan pakaian berwarna coklat seperti sedang mendorongnya dan mengamatinya beberapa kali. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun rasanya seperti ada sesuatu yang menahan mulutnya untuk tidak berbicara, kepalanya juga terasa begitu pening. Pandangannya juga mulai terasa kembali kabur dan perlahan berubah menjadi gelap gulita.


“Apakah gua akan mati? Bagaimana dengan Evan?” pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Ingatan soal ayah ibunya, adiknya, dan kakaknya terlintas di pikirannya sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.