LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Kontraksi



Warning!


Novel ini sedang tahap renovasi


mohon maaf bila kalian menunggu


Up terlalu lama.


--------------------------------------------


Aku terbangun dari tidurku karna Silau akan cahaya matahari yang masuk kedalam kamar ku dengan cepat aku membuka gordeng jendelaku dan tersenyum memadangi cuaca yang cerah ini. Hari ini sangat cerah tapi sayang tidak secerah hatiku. Tapi yasudahlah aku tidak ingin membahas semua itu sekarang.


Sekarang aku memilih jalan-jalan dan menikmati hari cerahku. Untuk sedikit menghibur hatiku yang rapuh ini dan menghilangkan beban yang menumpuk dibenaku, mall adalah pilihan aku saat ini. Selain berbelanja kebutuhan anak ku, bisa juga untuk cuci mata melihat barang-barang branded yang sedang sekinian.


Mata ku berbinar bahagia saat disuguhkan pemandangan Baju-baju cantik yang berjejer rapih pada mannequin, Tapi senyum ku menghilang saat melihat pemandangan tak enak didepan ku. Fares bersama Silva sedang memilih pakaian lengakap dengan kemesranya. Lagi-lagi aku harus merasakan denyut nyeri dibagian dadaku. Tapi ya sudah semua sudah takdir, aku mencoba merelakan Fares walaupun itu sulit. Silva dan Fares mendekati kepadaku, aku tau itu inisiatif Fares untuk membuat hati ku lebih sakit lagi.


"Eh.., Sherlyn, kamu juga sama ya lagi belanja baju" ucap Silva basa-basi dengan bergelayut manja dilengan Fares. Fares hanya acuh kepadaku seolah-olah aku hanyalah orang asing, padahal dulu aku menjadi Prioritas Fares.


"Iya sil" ucapku dengan senyum terbaik ku, tapi tidak, kenyatanya hatiku menangis menjerit-jerit sekarang karna golesan luka yang tak kasat mata.


"Sama siapa, Sher?" tanya Silva dengan ujung mata mencari kesana-kesini sosok seseorang. Aku yakin sekarang Silva pasti sedang mencari suami hayal ku yang pernah aku ceritakan kepada mereka


"Sen-" belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku ada tangan kekar yang melingkar sempurna dipinggangku, tebakan kalian betul memang itu Riski, itu kedua kalinya Riski mengetahui dimana keberadaku. Aku jadi curiga Riski dari kemarin mengawasiku. Silva nampak terkejut dengan kedatangan Riski tiba-tiba, tapi sekarang aku tidak bisa membaca pikiran Silva, lain halnya dengan Fares, kini Fares tengah menatapku dan Riski tajam, seakan tidak suka dengaan kedatangan Riski.


"Jadi suami kamu Riski?" tanya Silva menyakinkan pertanyaan yang ada didalam benaknya.


"Kalau memang iya, kenapa silva?" tanya Riski percaya diri dengan senyum simpulnya. "Beneran?" tanya Silva sekali lagi tidak percayaan dengan apa yang ia dengar dan ia lihat, aku tidak bisa berbicara lagi sekarang. Akuu bingung harus jawab apa, menjawab iya berarti berbohong lagi, menjawab tidak aku ketahuan berbohong dong, sekarang aku hanya tersenyum untuk meyakinkan mereka.


"Kalian sejak kapan menikah?" tanya Silva masih dengan menunjukan ekspresi kagetnya. "Sudah lama" jawab Riski dengan entengnya. "Eum..., iya" jawabku dengan terus menatap Riski meminta penjelasan. penjelasan kenapa Riski sampai ada disini. Silva tidak menjawab sedikit pun hanya melongo mendengarkan ucapan Riski. Sampai akhirnya Aku memberi isyarat kepada Riski untuk pergi, lalu Riski menyetujinya dan akhirnya aku dan Riski pamit.


~


Di Apartemen Milik Riski.


"Kamu mau apa shi, bawa aku kesini?" tanyaku dengan nada tinggi dan mata melotot, sebagai protes kalau aku tidak suka dipaksa.


"Mulai sekarang, kamu tinggal disini!" ucap Riski tidak mau dibatah. "Ngga mau!, Dady aku udah pulang nanti nyariin aku" ucapku beralasan atas nama dady semoga saja bisa membuat Riski mau melepaskan ku.


"Akuu sudah izin" ucap Riski dengan mengelus sayang puncak kepalaku. " Kamu jangan bohong!, mana mungkin Dady ngizinin gitu aja" ucapku marah dengan mengehempas tangan Riski kasar. "Kamu mau buktinya?" tanya Riski dengan menghirup aroma bunga lily yang melekat ditubuhku.


"Aku tidak bisa jauh dari mu. Sherlyn" tiba-tiba Riski berbisik ditelingaku membuat bulu kunduk ku merinding nikmat, jujur saja aku merindukan hangatnya kebersamaan seperti ini. Tapi tidak tolong jangan berpikir konyol lagi Sherlyn kamu harus menolak keras.


"LEPAS!" bentak ku, ditatapan bingung oleh Riski. "Kenapa?" tanya Riski dengan memegang bahu ku meminta penjelasan padaku. "Aku benci kamu, Riski" teriak ku seperti orang kesetanan.


"Kamu tidak bisa melupakan apa yang terjadi waktu dulu Sherlyn, ayolah kita buka lembaran baru sekarang!" ucap Riski dengan mendekap tubuhku hangat, aku tidak bisa berbohong, aku sendiri rindu dekapan hangat Riski.


"Aww..," Ringisku memegangi perutku yang terasa mengencang dan linu dibagian bawah pinggang, sebenarnya dari semalam aku sudah merasakan kontraksi tapi aku tahan dan sekarang semakin menjadi rasanya. "Kenapa Sherlyn?" tanya Riski kawatir


*bantu like sama komentar nya ya ka, like sama komentar gratis ko, jangan lupa juga untuk vote sebanyak-banyaknya dan beri bintang 5, buat Authour semangat nulisnya, Terimakasih*.


Saran dan Kritik


IG:TariWidury1


FB:Tari inong*


mohon maaf ya ka aku up gak tentu, tapi diusahakan up tiap hari ku, Terimakasih sudah membaca😍