
Warning!
Novel ini sedang tahap renovasi
mohon maaf bila kalian menunggu
Up terlalu lama.
---------------------------------------------
Saat itu juga air ketuban ku mulai pecah. Rasa sakit kontraksi makin menjadi, keseluruh bagian perutku terasa keram, sepuluh kali lipat lebih sakit dari pada menstruasi. Aku hanya meringis dan memejamkan mataku sesekali menikmati rasanya sakit pertama kalinya akan melahirkan. Sungguh nikmat, Riski pun yang berada didekat mulai cemas saat melihat air ketubuh di kaki dan pahaku. Dengan cepat Riski menggendongku dan memasukan ku kedalam mobil lalu kerumah sakit.
"Sakitt. Ki" Ringis ku dengan memegangi tangan Riski kuat untuk menyalurkan rasa sakitku."Tahan ya Sher!" bujuk Riski dengan mencium keningku lembut.
"Cepetan. Ki!" ucapku setengah berteriak karna sakit dan ngilu yang luar biasa aku rasakan. "Sabar ya Sher!, bentar lagi kita nyampe" ucap Riski menenangkan ku dengan memegang sebelah tanganku dan tangan satu lagi menyetir. Ternyata memang benar apa yang dikatakan Riski. Buktinya sekarang aku sudah sampai di rumah sakit tempat dimana aku akan bersalin. Riski pun menggendong tubuh ku dengan keringan bercucuran lalu pergi kedalam Rumah sakit.
"Please help me!(mohon tolong bantu aku!)"ucap Riski kepada Suster yang baru saja lewat, dengan cepat suster pun mendekat kearah Riski.
"my wife will give birth(istriku akan melahirkan)" sambungnya lagi.
"Ok, wait sir(baik, tunggu tuan)" ucap suster lalu pergi mengambil kursi roda yang ada didekatnya.
Riski pun yang kalang kabut karna pertama kalinya menemani wanita bersalin menaruh Sherlyn Dikursi roda lalu mendorongnya.
"We go to the delivery room, sir, please follow me!(kita pergi ke ruang persalinan tuan, Silahkan ikuti saya!)" ucap sang suster lalu diangguki oleh Riski dan hanya mengikuti dari belakang.
"Sakit kii" Ringisku lengkap dengan Rintihan Sakitku semakin membuat Riski menghawatirkanku.
"Tahan ya Sayang demi anak kita!" ucap Riski penuh cinta dengan mencium Puncak kepalaku. Membuat rasa sakit ku menjadi berkurang tapi tidak lama. Walaupun sekarang aku sedang merasakan sakit tapi kini bibirku tengah tersenyum lebar karna bahagia.
Akhirnya setelah sampai diruang persalinan. Dengan cepat Riski membaringkan ku diranjang pasien dan lagi-lagi Riski menghujami wajahku dengan beberapa kecupan mesra seperti suami yang menemi istrinya sedang bersalin, Setelah menunggu cukup lama akhirnya dokter datang untuk memeriksa ku.
"Sir, are you a patient family?(Tuan, apakah anda keluarga pasien?)" tanya Dokter dengan ramah.
"yes I am her husband(iya aku suaminya)" ucap Riski begitu lantang, aku hanya terenyum mendengar ucapan Riski.
"it looks like it won't be long before the patient gives birth(sepertinya tidak akan lama lagi pasien akan melahirkan)" ucap dokter dengan melepas sarung tanganya.
"please pay the administration first, sir!(silahkan membayar administrasi terlebih dalu, tuan!)" ucap dokter dengan senyum ramahnya lalu diangguki oleh Riski, saat Riski akan pergi aku menahan Riski karna Rasa nyaman yang membuat aku tidak ingin melepas Riski, untuk pergi walaupun sekejap pun
"Jangan pergi!" ucapku memelas dengan menahan sakit kepada Riski dibalas senyuman oleh Riski.
"Sebentar Sher!, aku bakal balik lagi ko" ucap Riski dengan mencium kening ku hangat. Lalu melepaskan tanganku lembut dan pergi dengan tersenyum kerahku, membuat hatiku sedikit sejuk.
Akhirnya setelah menunggu beberapa jam dokter kembali bersama Riski, Membuat hatiku sedikit lega. Entah apa yang aku rasakan saat ini yang pasti aku ingin melahirkan ditemani Riski. Hanya Riski, ayah dari anak yang akan ku lahirkan. Saat itu juga kontraksi lebih kuat dari sebelumnya keringat dingin bercucuran membasahi pelipisku, dengan sigap Riski menyusap keringat ku dengan tisu yang sudah disediakan, pantas saja dokter mengatakan sudah pembukan 8 yang artinya sudah tidak lama lagi anak dalam rahim ku akan keluar.
"Aku tau kamu kuat, Sher" ucap Riski memegang tanganku dan menciuminya berkali-kali memberikan aku kekuatan. Saat itu aku tidak bisa berkata lagi, karna rasa sakit yang semakin menjadi, sekarang aku bisa merasakan bagaimana perjuangan momy ku yang melahirkan ku. Sungguh berat. Akhirnya membukan sudah sampai akhir yaitu membukaan sepuluh, Dokter menginstruksikan menarik nafas lalu mengeluarkan dari mulut agar Rileks, lalu mendorong bayi agar kaluar sampai lahir kedunia.
"Sher. Ayo kamu pasti bisa!" ucap Riski dengan senyum menawanya, mampuh membuat aku bersemangat dan sedikit melupakan sakit ku.
Setelah 2 jam bertarung nyawa aku berhasil melahirkan bayi wanita ku kedunia.
"Oeekk..., oeekk...," hal pertama yang aku dengar anak ku menangis. Rasanya haru bercampur bahagia. Apalagi aku ibu yang pertama kali melahirkan. Dengan cepat Riski mengadazani anak ku. Ternyata Riski baik juga. Batinku tentu saja aku tidak berani berkata seperti itu didepan Riski.
Lalu setelah selesai mengadazani anak kami, Riski memletakan baby gril ku tepat didadaku.
"Lucunya anak, Ayah" ucap Riski dengan gemesnya memain-mainkan bibir baby ku yang terlihat merah keunguan.
"Mata, bibir, alis, dagu mirip Ayahnya. Jangan sampe mirip ibu kamu ya, bule" canda Riski dengan tersenyum bahagia kepada ku. Jujur saja aku sangat bahagia saat itu. Rasanya aku mulai mempertimbangkan keputusanku untuk hidup bersama Riski. Ternyata Riski hangat tidak seperti yang aku kira.
*bantu like sama komentar nya ya ka like sama komentar gratis ko, jangan lupa juga untuk vote sebanyak-banyak dan beri bintang 5 buat Authour semangat nulisnya, Terimakasih*.
Saran dan Kritik
IG:TariWidury1
FB:Tari inong***
mohon maaf ya ka aku up gak tentu, tapi diusahakan up tiap hari ya ka, Terimakasih sudah membaca😍