
Angel pun dibawa kerumah sakit karna terus-terusan pendarahan. Walaupun awalnya Angel menolak dan tidak ingin dibawa kerumah sakit tapi sudah tidak ada pilihan lagi karna mengingat ini menyangkut nyawa Angel. Bi Ida pun mencoba menelpon Riski sudah berulang kali tapi tetap masih tidak ada jawabaan, karna kawatir bercampur takut, Bi Ida pun menelpon Tio dan untungnya Tio mau kerumah sakit saat itu juga.
"Bi Angel kenapa?" tanya Tio saat melihat Bi ida sedang duduk dengan wajah kusut.
"Nyonyan Angel Tuan pendarahan, pendarahnya banyak sekali" beritahu Bi ida, membuat Tio mengusap wajahnya kasar, Tio takut terjadi apa-apa kepada bayi didalam kandungan Angel.
"Kenapa bisa terjadi pendarah Bi sama Angel?" tanya Tio begitu kawatir sangat terlihat diraut wajahnya.
"Setau Bibi karna terlalu banyak minum alkoho tuanl" jujur Bi ida, membuat rasa marah, kesal dan kawatir bercampur aduk dalam hati Tio, Tio pun memukul tembok keras dengan tanganya, lalu terduduk lemas dengan bersandar di tembok.
"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku salah karna tidak bisa mencegah Angel, tapi tolong Ya Tuhan. Tolonglah selamatkan anak ku" doa Tio dengan menutupi wajahnya, butiran benih berwarna krystal pun keluar dari mata Tio, Tio benar-benar merasa sakit bila semua itu terjadi.
"Sudah tuan yang sabar! nyonya dan bayinya pasti selamat" bujuk Bi ida dengan menolong Tio duduk diatas kursi, tapi tetap saja Tio masih menutupi wajahnya dan membasahi tanganya dengan air matinya.
~
Dilain Tempat.
Riski dan Jasmine sedang duduk dengan gelisah dan rasa kawatir yang masih mengganggu hati dan pikiran mereka masing-masing. Sudah dua jam lebih tapi dokter belum juga keluar dari ruang oprasi Sherlyn. Mereka pun mengrapalkan doa-doa untuk meminta supaya Sherlyn selamat dan baik-baik saja, tiba-tiba pintu ruang oprasi pun dibuka membuat Sherlyn dan Riski terbangun seketika dan menghampiri Dokter yang terlihat lelah dengan keringat dipelipisnya.
"Dok bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Riski dengan melihat raut wajah dokter yang sulit ditebak baginya.
"Oparasi berhasil tuan, tapi nona Sherlyn sekarang dalam keadaan keritis karna darahnya keluar sangat banyak, ditambah lagi dengan tembakan yang cukup dalam sehingga darah membuat pendarah sulit dihentikan" jelas Dokter, lagi-lagi membuat Riski terduduk dilantai lemas, kenapa Sherlyn yang harus menyelamatkanya. kenapa bukan Riski saja yang tertembak? sekarang Riski sangat menyesal karna sudah tidak percaya dengan istrinya.
"Apa sekarang saya bisa menemui adik saya Dok?" tanya Jasmine.
"Tentu saja bisa nyonya tapi saya mohon jangan sampai mengganggu!" ucap Dokter dengan tersenyum, Riski pun yang mendengarnya menghapus air matanya, lalu berdiri dengan mencerna ucapan Jasmine ada benar juga, Riski harus kuat dan jangan lemah agar Sherlyn bisa melewati masa keritisnya dengan mudah.
"Iya aku harus kuat" tekad Riski menyemangati dirinya sendiri.
"Kalau begitu, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Dokter dengan tersenyum ramah, Jasmine hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda tidak ada yang dibantu.
"Yasudah, saya permisi dulu tuan, nyonya!" pamit dokter diangguki oleh Riski dan Jasmine. Saking terlalu kawatirnya Jasmine sampai lupa harus memberi kabar Adam, Jasmine pun mencari tempat yang enak untuk menelpon dan membiarkan Riski agar masuk terlebih dahulu keruang inap Sherlyn. Adam pun sangat kaget dan tentu saja kawatir dengan keadan Sherlyn, Adam pun dengan cepat pergi dari kantornya dan menuju rumah sakit saat itu juga.
Sedangkan Riski masuk kedalam ruangan dimana mata Riski pedih harus melihat orang yang ia cintai harus berbaring dibangsal rumah sakit lengkap dengan selang bernafasan, infusan dan kabel yang dipasang ditubuh Sherlyn untuk mengetahui detak jantungnya.
"Sayang!" panggil Riski dengan duduk dikursi yang tersedia disamping Sherlyn, lalu memegang tangan Sherlyn penuh cinta dan mengelus-elusnya lembut, air mata Riski pun bercucuran membasahi tangan Sherlyn Riski sebenarnya tidak kuat bila melihat istrinya yang selalu tak hentinya berbicara, tapi sekarang istrinya menjadi tidak berdaya.
"Aku gak tau kalau semuanya bakal kaya gini, aku minta maaf sayang! aku gak ada niatan buat nyakitin kamu kaya gini, apalagi bikin kamu sakit, sebenarnya hati aku pun ngga rela lihat kamu kaya gini, aku sakit Sher, aku bener-bener gak bisa lihat orang yang aku cinta gak berdaya kaya gini" ucap Riski semakin menangis saat mengingat betapa kerasnya istrinya melarang Riski untuk pergi tapi Riski malah tidak menurutinya.
Bersambung.
Maaf ya ka aku suka up telat, aku sekarang terlalu disibukan didunia nyata, sampai lupa jadwal updet, tapi tenang ko mana bisa Author cantik ini lupain kalian para pembaca setia, yang selalu setia nungggu aku up, alesanya Author terlalu cinta sama kalian, kangen ditagih updet sama kalian kaka-kaka ku😍❤