
Riski pun berlari mengejar Sherlyn. Tapi rupanya Sherlyn berlari cukup kencang membuat Riski kehilangan jejak Sherlyn. Akhirnya Riski memilih masuk kedalam ruang inap Haidar kembali.
"Kamu sengaja kan Angel, pura-pura nangis terus meluk aku, biar Sherlyn salah paham" ucap Riski emosi dan sedikit meninggikan nada suaranya.
"Maksud kamu apa?, aku gak ngerti Riski" ucap Angel berpura-pura tak paham dengan wajah yang dibuat sedih.
"Alah, jangan pura-pura Angel!, gara-gara kamu Sherlyn jadi salah paham sama aku. Kenapa kamu pura-pura gak tau?, jelas-jelas ini disengaja" ucap Riski benar-benar marah, wajahnya terlihat memerah menahan emosi yang siap meledak.
"Kenapa kamu ko jadi nyalahin ke aku?, aku benaran ngga ada maksud kaya gitu" elak Angel berakting merasa bersalah dan sedih. Pahadal hatinya sekarang sedang bersorak gembira, bisa mengacau kan pagi Sherlyn dan juga Riski.
"Terus kenapa kamu tadi malah diem?, bukanya ngejelasin sama Sherlyn?" tanya Riski diambang batas kesabaran. Hati Riski benar-benar sakit melihat Sherlyn mengucurkan air mata.
"Maafin aku ya ki!, Aku cuman tadi gak enak aja harus ikut campur sama masalah kalian" tukas Angel dengan meneteskan air mata buaya, tapi Riski tidak iba sedikit pun dan malah merasa jijik.
"Jangan ngedrama deh!, air mata buaya" ucap Riski jengkel bercampur emosi lalu pergi dengan membuka pintu rumah sakit kasar, lalu membantingnya. Sebelum emosinya meledak disana.
~
Di tempat lain.
Sherlyn menangis ditaman sendirian, sebelum pulang Sherlyn ingin meredam emosinya dan sedikit menenangkan dirinya, Sherlyn tidak mau pulang dalam kedaan kacau, meski Sherlyn sudah hampir satu jam menangis dan tak kunjung henti. Hati Sherlyn benar-benar sakit, seperti ditusuk paku panas yang baru saja diangkat dari pembakaran, Sakit sesak bercampur panas yang Sherlyn sedang rasakan.
Rupanya ada sepasang mata yang memperhatikan Sherlyn dibalik pohon besar, yang sengaja berhenti karna melihat wanita yang baru saja beberapa jam lalu, tidak sengaja bertemu denganya, karna melihat Sherlyn yang terus menangis, membuat pria itu iba dan mendekati Sherlyn lalu duduk disampingnya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya sang pria, Sherlyn pun yang ditanya merasa kaget dan menatap pria dihadapanya.
"Kamu lagi?" tanya Sherlyn sedikit kesal karna acara peluapan emosinya harus terganggung pahadal Sherlyn ingin sendiri.
"Maaf deh. Aku ganggu kamu, tapi aku kasian aja lihat kamu nangis kaya gitu, kamu boleh ko curhat sama aku" ucap Pria itu dengan terus menatap wajah Sherlyn yang memerah karna terlalu lama menangis.
"Aku gak perlu dikasianin" ucap sherlyn, sedikit tersinggung karna merasa Sherlyn sangat menyedihkan.
"Tapi kamu perlu temen curhatkan?, aku siap ko dengerin keluh kesal kamu" ucap pria itu dengan tersenyum memperhatikan detail wajah cantik Sherlyn.
"Yaudah. Ayo kita kenalan lagi!" ucap pria itu mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan Sherlyn, tapi Sherlyn masih enggan untuk menyambutnya.
"Nama aku Prastyo, kamu bisa manggil aku dengan sebuatan Tio" ucap Tio dengan tersenyum, karna masih tidak ada sambutan, Akhirnya Tio pun menarik tanganya kembali.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Tio sekali lagi. Dibalas gelengan oleh Sherlyn, karna bagi Sherlyn itu tidak penting mereka tidak saling mengenal, untuk apa Sherlyn menceritakan masalah pribadinya.
"Sekarang kita temenan aja, gimana?, biar kamu bisa curhat ke aku" tawar Tio, Sherlyn pun hanya diam tidak menjawab, karna merasa lelah dengan masalahnya, karna yang Sherlyn butuhkan adalah menenangkan diri dengan cara menyendiri bukan apapun, walaupun memang bercerita bisa mengurangi beban masalah tapi Sherlyn bukan tipe orang yang Seperti itu, Sherlyn lebih senang menyimpan masalahnya sendirian.
"Gak ada salahnya, yakan?" tanya Tio sekali lagi, Sherlyn pun mulai menatap Tio.
"Maaf!, aku harus pergi. Aku ada urusan, Permisi!" ucap Sherlyn yang sudah tidak tahan lagi dan ingin mencari tempat lain, memilih mengalah walaupun terkesan sombong atau apapun Sherlyn benar-benar tidak perduli, Tio hanya orang asing bagi Sherlyn.
"Kamu mau pulang?" tanya Tio dengan mengikuti langakah kaki Sherlyn, Sherlyn pun yang diikuti hanya menggelengkan kepala, kenapa Sherlyn harus bertemu dengan orang yang sama kedua kalinya.
"Saya masih ada urusan" ucap Sherlyn sesopan mungkin agar tidak menyinggung orang yang ada dibelakangnya.
"Boleh aku anter?" tanya Tio, memberi tawaran Sherlyn pun mulai merasa pusing, apa mau orang dibelakangnya, batin Sherlyn.
"Ngga, saya bisa sendiri" tolak Sherlyn sehalus mungkin, Tio pun tidak kehabisan akal untuk bisa dekat atau sekedar mengobrol dengan Sherlyn, Tio akan melakukan cara lain untuk bisa sekedar menjadi teman Sherlyn.
"Gak apa-apa, aku gak keberatan ko, aku bisa anter kamu tenang, gratis ko" ucap Tio dengan sedikit bercanda, tapi bagi Sherlyn itu adalah candanan tergaring yang pernah Sherlyn dengar.
"Saya mohon tolong jangan ganggu saya!" ucap Sherlyn masih terlihat sabar, walaupun hatinya menahan jengkel setengah mati.
"Aku akan terus ganggu kamu, sampe kamu mau jadi temen aku" kukuh Tio, dibalas tatapan tidak suka oleh Sherlyn.
"Saya sudah punya suami dan anak" ucap Sherlyn kesal, Tio pun yang mendengarnya tertawa, menganggap ucapan Sherlyn adalah candaan.
"Saya serius!" bentak Sherlyn membuat Tio diam, Sherlyn yang mulai terjudut emosi pun berjalan cepat dan Tio memilih diam ditempat karna melihat Sherlyn yang sudah marah.
~Bertengar itu hal biasa, Yang penting diselesaikan dari pada saling diam, lalu pergi meninggalkan~