LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Aku Baik-Baik Saja.



Sherlyn masuk kedalam Kamar dengan perasan hancur dan berbaring diatas tempat tidur, menyelimuti tubuhnya sampai tertutup rapat, lalu menangis tampa suara, tangisan yang sungguh menyayat hati. Sherlyn mencoba menahan suara tangisnya saat Pintu dibuka, tapi tidak bisa merhenti tangisan semakin menjadi saat Riski menyetuh bagian tubuh Sherlyn yang ditutupi selimut, ia Sherlyn sudah tau bila yang dibelakanginya adalah Riski.


"Sher. aku gak bermaksud nyakitin Kamu" tukas Riski mencoba membuka selimut yang membungkus Sherlyn.


"Per-per-gi!" ucap Sherlyn sesegukan saat tangan Riski sudah menyetuh tanganya.


"Aku cuman pengen Kamu dewasa aja. Sher, gak lebih" ucap Riski, kembali membuat Sherlyn meringis sakit dibagian dadanya. entah harus bagaimana mengatakan kepada Riski, Sherlyn benar-benar dibuat lelah.


"Kamu emang gak pernah mikirin perasaan aku" ucap Sherlyn menghapus air matanya yang mengalir.


"Sher dengerin aku!, aku selalu mikirin perasaan Kamu, jangan buat aku marah lagi, buat apa coba Kamu datang ke Rumah Angel, terus nampar Angel, Kamu itu belum dewasa, kalau Kamu udah dewasa pasti Kamu gak akan main tampar orang lain" jelas Riski yang sudah dihasut oleh Angel dengan mecengkaram bahu Sherlyn sedikit kencang. Tangisan Sherlyn mulai kembali membajiri pipinya, saat ucapan Riski menusuk kedalam indra pendengarnya.


"Aku emang manja. Aku emang belum dewasa. sekarang kamu puas?, aku kaya gitu karna marah wanita kurang ngajar itu mengancam akan merebut kamu, sekarang Kamu taukan alesanya apa, sampai aku kaya gitu, aku gak mau kehilangan Kamu, aku ngga mau milik aku dibagi atau dipisahkan oleh siapa pun" jelas Sherlyn, ditatap tidak terbaca oleh Riski. Riski pun menarik Sherlyn kedalam pelukanya, tapi kenapa Sherlyn semakin menjadi menangis. Sherlyn semakin menjadi menangis karna kesal bercampur marah, sudah dari tadi Sherlyn ingin menyalurkanya dan akhirnya mendapatkan kesempatan.


"Kamu jahat, ki" ucap Sherlyn disela tangisnya dengan memukul punggung Riski.


"Kamu ngga percaya sama aku, aku gak pernah dianggap sama Kamu, aku itu istri Kamu. Riski" unggapnya mengeluarkan beban dalam hatinya, Riski pun hanya diam mendengarnya dengan mengeratkan pelukanya.


"Aku benci sama Kamu, Kamu gak pernah ngerti aku" ucapnya mencoba melepaskan pelukan Riski, tapi tidak bisa Riski sudah mengunci pergerakan Sherlyn.


"Lepas!, aku benci sama Kamu" berontak Sherlyn kian meles tak ada tenang, tenangnya sudah habis dipakai menangis dan menjerit-jerit. Sampai akhirnya Sherlyn memilih pasrah didalam pelukan Riski, Riski pun akhirnya angkat bicara.


"Sher, udah ya cape!" titah Riski dengan menghapus air mata Sherlyn yang berjatuhan dipipinya, bahkan baju Riski pun sudah basah dengan Air mata Sherlyn.


Drrrrrtttttt Drrrrtttt


Tiba-tiba handphone Riski pun berbunyi menandakan ada panggilan masuk, saat Riski melihatnya ternyata Angel dengan cepat Riski menekan tombol geser berwarna merah lalu menyimpanya lagi kedalam saku celana, selang beberapa saat handphone Riski pun berbunyi lagi tapi bukan panggilan masuk. melainkan pesan WhatsApp, Riski pun menbuka pesanya dan seketika Mata Riski membulat lalu menghindar dari Sherlyn dan menelpon orang yang sudah mengirimkan pesan untuknya.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Riski tampa basa-basi, Sherlyn pun yang mendengarnya hanya mengerutkan dahi, Sherlyn jadi bingung sebanarnya siapa yang Riski telpon.


"xxxxxxxxxxxxxx"


"Iya, aku kesana sekarang" ucap Riski mematikan telponya, lalu kalang kabut menjadi dompat yang baru saja disimpanya.


"Aku keluar dulu, sebentar!" ucap Riski buru-buru dengan mencium kening Sherlyn lalu pergi. tidak perduli lagi apapun tanggapan Sherlyn. Sherlyn pun mendengus kesal dan bersabar, Sherlyn sudah menduga siapa yang tadi ditelpon Riski, tapi apa boleh buat Sherlyn akan melarang dan Riski sudah terlebih dulu pergi.


~


Di Rumah Sakit.


Seorang anak berbaring diranjang pansien lemas lengakap dengan infus yang menampel ditanganya, tengah ditemani oleh Ibunya yang duduk disebelahnya.


"Ibu, Ayah mana?" tanya anak yang bernama Haidar menanyakan Riski ayahnya.


"Sebentar lagi. Ayah Kamu bakal kesini" ucap Angel kepada anaknya dengan mengusap lembut rambutnya. sebenarnya kenapa Haidar? kenapa bisa ada dirumah sakit?, apa benar Haidar sakit atau akal-akalan Angel.


"Ko lama ya, bu." protesnya. Angel pun yang mendengarnya mulai merasa bosan, karna anak dihadapnya terus menanyakan hal yang sama dari tadi, belum sempat Angel berkata suara pintu dibuka pun membuyarkan obrolan mereka, dengan cepat mereka pun melihat kearah pintu dan ternyata Riski yang datang, membuat Haidar merasa senang.


"Ayah" panggilnya sedikit manja, diiringi dengan senyumnya.


"Jagoan Ayah kenapa?" tanya Riski nampak kawatir tapi ketika melihat wajah Putranya yang tengah tersenyum membuat kekawatiranya sedikit menghilang.


"Aku gak bisa nafas Yah, tadi sesak, terus badan aku gatel-gatel" ungkapnya dengan wajah sendu, mengingat kejadian tadi yang di alaminya.


"Haidar alergi coklat" tambah Angel, Riski pun hanya mengangguk, karna mereka mempunyai alergi yang sama.


"Kenapa Kamu bisa makan Coklat?" tanya Riski lembut, mengelus-elus pipi putranya sayang.


"Tadi aku dibikinin susu sama Bibi yang kerja kemarin Yah, bibinya gak tau aku alergi coklat" jelasnya membuat, Riski mengerutkan kening, lalu dari mana datangnya Susu coklat, pasti Angel ibunya sudah mengetahui bahwa anaknya alergi coklat.


bersambung


~Orang bisa berkata sabar, tapi tidak pernah merasakan sakitnya dalam kesabaran, luka tidak pernah bersuara karna air mata jatuh tampa bicara~


Maaf ya ka, kenya upnya aga telat, soalnya aku harus revisi dulu, tapi aku usahin ko ka diup setiap hari. Terimakasih sudah membaca dan Terimakasih juga atas dukunganya, ILoveyou ka😘