
Riski pulang dari rumah sakit. dengan keadaan lesu dan tidak bersemangat, setelah paginya benar-benar diacuhkan oleh Sherlyn sehingga membuat Riski tidak bersemangat untuk berkerja. Tadinya Riski tidak ingin pulang tapi apa daya rasa rindu kepada istri serta anaknya membuat Riski tidak bisa jauh dari mereka.
"Asalamnualikum" ucap Riski ketika masuk kedalam rumah dan melihat ibunya sedang duduk bersantai diruang kelurga. Riski pun duduk disamping ibunya dan menyenderkan kepalanya disofa.
"Wa'alaikum salam" ucap Mami Riski dan menyerutkan keningnya, melihat anaknya yang begitu lesu ketika pulang dari rumah sakit.
"Kamu kenapa Ki? ada masalah dirumah sakit bukan?" tanya Mami Riski dengan memperhatikan Riski yang sedang memejamkan matanya.
"Gak Mi" jawab Riski seadanya masih dengan memejamkan matanya.
"Terus kenapa?" tanya Mami Riski sekali lagi karna begitu penasaran dengan anak tunggalnya, Riski pun yang mendengarnya membuka matanya dengan malas.
"Mi Sherlyn masih marah" curhat Riski dengan wajah lelahnya.
"Oh, rupanya gara-gara Sherlyn" ucap Mami Riski dengan tertawa dan memanyut-manyut kepalanya.
"Mami, ko malah ketawa, Mi tolong dong bantu aku buat bujuk Sherlyn" ucap Riski dengan tersenyum, pasalnya Sherlyn menolak permintaan Riski mentah-mentah, tapi Riski yakin Sherlyn tidak mungkin akan menolaknya bila ibunya yang memintanya.
"Kalau itu Mami ngga bakal ikut campur, kamu yang bikin salah, kamu juga yang harus minta maaf!" ucap Mami Riski, membuat Riski semakin pusing, karna harapanya untuk mempermudah meminta maaf harus gagal karna ibunya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Yaudah deh" ucap Riski dengan pasrah, lalu pergi meninggalkan ibunya sendiri, karna Riski yakin wanita tua yang disebut dengan panggilan Mami itu, pasti bila sudah memutuskan sesuatu tidak bisa diganggu gugat.
"Sher!" panggil Riski dengan menyimpan jas dokternya disofa empuk didekat ranjang. Sherlyn pun yang dipanggil hanya menatap Riski lalu kembali beraktivitasnya menghias wajahnya dengan make up.
"Sher, Ayra dimana?" tanya Riski sekali lagi, mencari topik membicaraan agar membuat Sherlyn tidak membisu kepadanya.
"Main" jawab Sherlyn singkat dan padat walaupun tidak jelas.
"Sama siapa?" tanya Riski kembali, rupanya Riski terlihat senang karna Sherlyn mau berbicara kepadanya walaupun terkesan malas.
"Sama si Bibi" ucap Sherlyn dengan memutar bola matanya malas, kenapa Riski terus-terusan bertanya kepada Sherlyn, walaupun Riski tau Sherlyn sedang kesal kepadanya.
"Eh, malam ini kita diner yuk!, sekalian ke supermarket beli kebutuhan Ayra" ajak Riski dengan tersenyum, karna Riski baru ingat kebutuhan Ayra sudah mulai habis.
"Gak mau" ucap Sherlyn dengan kesal akan melangkah keluar kamar.
"Yaudah" ucap Sherlyn dengan membalikan badanya, lalu mentap Riski dan akhirnya melangkahkan kakinya kembali, sontak membuat Riski bahagia.
"Yes!" Girangnya dengan tertawa bahagia seperti sehabis mendapatkan lotre.
~
Di Restoran Japanes.
Riski memarkirkan mobilnya ketika sampai direstoran cepat saji yang menyajikan makan jepang, rupanya Riski mengajak Sherlyn untuk makan malam direstoran Japan, bukan tampa sebab, tapi Riski memang sudah mencari tau makanan kesukaan Sherlyn. Selain menyukai makan Indonesia, Sherlyn pun menyukai makan Jepan.
"Aduh, kenapa kesini shi" ucap Sherlyn dengan wajah masam, tapi jauh didalam hatinya Sherlyn sangat bahagia, karna sudah lama Sherlyn tidak memakan, makanan Negeri sakura itu.
"Tapi, kamu suka kan?" tanya Riski dengan senyumnya, Riski yakin bila Sherlyn akan luluh bila terus diperlakukan manis seperti itu, hati wanita mana yang tidak akan meleleh bila diperlakukan Romantis seperti yang akan Riski lakukan.
Riski pun hanya mentap Sherlyn dan memegangi tangan Sherlyn untuk mengikuti langkahnya, tampa persetujuan Sherlyn membuat Sherlyn aga sedikit kesal. Tapi kekesalan Sherlyn, sedikit terobat saat Riski membawa Sherlyn ke dalam restoran yang sengaja diboking hanya untuk Riski dan juga Sherlyn, benar-benar romantis, banyak lilin putih menyala mengililingi tempat mereka akan makam, kelopak bunga mawar merah berhamburan dan berbentuk hati dengan suasan musik romantis, jangan lupa juga dengan satu buket bunga mawar segar diatas meja, menambah kesan romantisnya malam mereka.
"Ya Tuhan manis sekali, apa benar Riski kita akan makan disini?" tanya Sherlyn yang benar-benar takjub dengan apa yang ia lihat, sangat sempurna.
"Tentu saja, that's all for my queen" ucap Riski dengan memegang wajah Sherlyn, sebenarnya Sherlyn masih marah kepada Riski, tapi karna Riski sudah menyiapkan semuanya dengan baik, termaksa Sherlyn harus melupakan amarahnya sejenak.
"Ayo! Sayang" ajak Riski dengan menggandeng tangan Sherlyn lembut, Sherlyn pun yang digandeng hanya menurut dan tidak ingin merusak malam mereka. Riski pun menarik kursi Sherlyn untuk duduk, lalu mempersilahkan Sherlyn untuk duduk persis seperti sebagai seorang ratu.
"Untuk Istri ku" ucap Riski dengan memberikan satu buket bunga mawar merah dan didalam bunganya terselip cincin berlian elegan, siapa pun wanita yang melihatnya pasti tergiur melihat cantiknya cincin berlian didalam bunga mawar. Karna penasaran Sherlyn pun mengambil cincin tersebut dan lagi-lagi Sherlyn dibuat tekjub.
"So beautiful" kagum Sherlyn dengan terus melihat cincin berlian ditanganya.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Riski dengan senyum mengembang diwajahnya, melihat istrinya sebahagia itu, Sherlyn pun yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Riski, Riski pun mengambil cincin yang dipegang Sherlyn dan menarik lembut tangan Sherlyn.
"Terima kasih Sherlyn telah bersedia menjadi ibu dari anak-anak ku dan juga istri yang baik untuk ku. Aku beruntung memiliki istri seperti mu yang mau menerima semua kekurang ku. Aku mencintai mu Sherlyn, untuk itulah aku memohon jangan pernah pergi dari hidup ku apapun keadanya!" ucap Riski bersungguh-sungguh dengan masangkan cicin dijari manis Sherlyn, cicin tersebut sangat pas dijari Sherlyn, lalu Riski mencium tangan Sherlyn, Sherlyn pun yang diperlakukan demi kian hanya tersenyum menikmati detik demi detik suasa romantis yang sengaja Riski buat.
Bersambung
~Bertengkar itu hal biasa, yang penting diselesaikan daripada saling diam, lalu meninggalkan:)~