
"Kenapa Jasmine?" tanya Riski dengan mengahapus air matanya dan memberikan senyuman seakan senyuman kekuatan, tapi sayang itu semua bohong. Bahkan Jasmine dan Adam pun sudah mengetahuinya.
"Ki, kamu harus makan sama istirahat yang cukup! aku tau kalau kamu udah lelah, biar kita aja yang jaga Sherlyn gantian" ucap Jasmine dengan menatap Riski iba, menatap denga lekat wajah dan mata Riski yang mulai menghitam serta penampilanya yang acak-acakan.
"Ngga ko. Aku gak lelah, gak apa-apa biar aku aja yang jagain Sherlyn, Jas" ucap Riski dengan tersenyum dan berbohong. Bahkan bila orang lain melihatnya, orang lain pun akan bisa menyimpulkan bahwa Riski tidak mengurus dirinya dan benar-benar lelah.
"Riski jangan keras kepala dan jangan berbohong! kami tau Riski selama ini kamu kurang tidur dan kurang istirahat, sekarang kami sudah ada disini, tolong turuti apa kata kita, kita seperti ini karna sayang sama kamu dan Sherlyn" ucap Adam dengan menatap mata Riski dalam, seakan meminta agar Riski menuruti perkaatanya. Riski pun yang melihatnya merasa tidak mempunyai nyali untuk menolak apa perkataan kakanya, memang benar juga semua perkataan Adam, Riski pun hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan Adam, tampa mereka ketahui Sherlyn mendengar ucapan mereka dan meneteskan air mata.
"Yaudah, kalau gitu cepetan ki! kamu istirahat dulu!" titah Adam, hanya dibalas anggukan oleh Riski, Riski pun pamit kepada Sherlyn.
"Sher. Aku pergi dulu ya sebentar! tapi nanti aku janji bakal kesini lagi ko, nemenin kamu lagi. Aku sayang kamu. Sher" bisik Riski dengan berucap seakan Sherlyn sadar dan menghujami wajah Sherlyn dengan kecupan membuat Sherlyn meneteskan air mata kembali.
Akhirnya Riski pun pergi dari ruang inap Sherlyn walaupun terasa berat, tapi Riski juga harus terpaksa meninggalkan Sherlyn bersama kaka kandung serta kaka iparnya. Saat Riski baru saja hendak akan membuka pintu jari-jari Sherlyn bergerak membuat Jasmine yang melihatnya merasa senang dan langsung berteriak kepada Riski.
"Ki tadi jari Sherlyn gerak" ucapnya dengan gembira, Riski pun yang mendengarnya kembali lagi, lalu mendekati Jasmine dengan wajah tidak percaya.
"Alhamdulilah, Jas kamu ngga bohong kan?" tanyanya dengan wajah berbinar sungguh Riski merasa bahagia.
"Aku gak Bohong ki, tadi beneran aku lihat jari Sherlyn gerak" ucapnya sama senangnya dengan Riski, adam pun sama merasa ikut senang karna keadaan Sherlyn mulai ada perubahan.
"Kalau gitu, aku harus kasih tau dokter" ucap Jasmine pun pergi dari ruang inap Sherlyn untuk mencari doktet ingin memberi tahu perkembangan keadaan Sherlyn.
~
Sedangkan ditempat lain.
Angel sudah beberapa hari ini pulang dari rumah sakit, kondisi Angel saat ini sudah membaik tapi sayang hubungan Angel dengan Tio dalam keadaan tidak baik-baik saja. Saat Angel duduk dengan wajah gelisah yang sangat terlihat, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu pun membuat badan Angel menjadi panas dingin, karna Asisten rumah tangganya sedang kepasar, Angel pun terpaksa harus membuka pintu karna dirumahnya hanya berdua, yaitu Angel dan Haidar.
"Selamat Siang, apakah ini benar rumah Ibu Ratu Angelina?" tanya seseorang pria dengan berpakaian serba hitam, membuat Angel tersentak kaget pasalnya Angel mempunyai dosa.
"Iya benar dengan saya sendiri" ucap Angel dengan badan bergemetar hebat, merasakan ketakutan yang selama ini ia takutkan.
"Tapi saya ngga bersalah pak" elak Angel tapi tanganya sudah dipegang polisi secara baik-baik, tapi tiba-tiba Tio pun datang membuat Angel semakin ketakutan.
"Kalau kamu merasa tidak bersalah, ikut aja Angel" tambah Tio dengan wajah sinis, Angel pun hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau, tapi polisi tidak tinggal diam, dan mulai menyeret Angel untuk ikut bersamanya.
"Pak lepas saya tidak bersalah!" elaknya lagi dengan tangan meronta-ronta, karna mendengar ada kericuhan Haidar pun yang ada didalam kamar keluar dan melihat ibunya tengah dibawa paksa oleh polisi, Haidar pun mendekati ibunya dan menangis tak ingin ibunya dibawa.
"Ibu. Om lepasin ibu aku!" rengeknya dengan menarik-narik tangan Polisi untuk melepaskan tangan ibunya.
"Sayang!" panggil Angel dengan meneteskan air mata, saat melihat anaknya menangis histeris.
"Tolong jangan bawa Ibu aku!" mohonya dengan air mata yang membanjir wajahnya, Tio pun merasa iba dan menarik pelan Haidar kepelukan dan memberi penjelasan.
"Om, lepasin! aku mau bantu Ibu aku" ucapnya dengan mencoba melepaskan pelukan Tio, tapi Tio makin memeluknya semakin erat.
"Ibu kamu itu jahat, ibu kmau harus dapat hukuman yang setimpal atas perbuatanya" ucap Tio dengan meneteskan air mata, sebenarnya Tio pun tidak tega melihat Haidar seperti itu, tapi apa boleh buat Tio pun tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ibu..." teriak Haidar ketika Tio lengah dan melepaskan pelukan Tio, lalu berlari menuju mobil dimana ibunya akan dibawa.
"Ibu jangan tinggalin aku!" teriaknya sekali lagi dengan berlari kencang menyusul ibunya, tapi sayang itu hanya sia-sia terlambat, Angel sudah dibawa kemobil dan mobilnya sudah berlaju pergi.
"Ibu...., Ibu...., jangan tinggalin aku!" teriak Haidar menjadi melemas dan terjatuh ke aspal seketika saat mobil polisi semakin jauh.
"Ibu...." tangis menjadi pecah saat anak berusia lima tahun itu, tidak bisa mengalangi ibunya agar tidak ikut pergi. Tio pun yang melihatnya semakin merasa iba dan mendekati Haidar memberi ketenangan dan kehangatan untuk Haidar.
"Om, Ibu" adunya bercampur isak tangis.
"Kamu gak boleh nangis dong! masa cowo nangis! Ibu kamu cuman dibawa sebentar dan nanti juga pasti bakalan pulang" bujuk Tio dengan mengelus-elus kepala Haidar lembut, Haidar pun yang diperlakukan sedemi kian, memeluk Tio erat dan menenangis dalam pelukan Tio.
Bersambung