
"Kamu yakin bakal berubah?" tanya Sherlyn dengan sedikit keraguan menyelimuti hatinya, pasalnya Sherlyn tidak mau lagi kembali sakit hati karna ulah Riski.
~
"Aku janji bakal berubah, Sher! jadi lebih baik lagi demi kamu. Sekarang kamu bisa pegang janji aku! kalau aku ngelanggar lagi, aku siap tanggung apapun sangsi dari kamu.
Walaupun kamu pergi dari kehidupan aku" ucap Riski dengan memegang kedua pipi Sherlyn menatap Sherlyn dalam-dalam, Sherlyn pun mulai menimbang-nimbang keputusanya yang pasti nantinya tidak membuat Sherlyn menyesal dikemudian hari.
"Sherlyn hati aku sakit kamu cuekin. Kamu acuhin, kamu gak perduli lagi sama aku, kamu bicara seperlunya. Aku suami kamu Sher bukan orang asing" tukas Riski dengan menjabarkan sakit hatinya akan sikap marah Sherlyn.
"Aku benci Ki, sama sikap kamu yang gampang minta maaf kaya gini, aku pengenya kamu ngerasain sakit hati yang lebih sakit
dari yang aku rasain, aku pengen kamu pahami bukan dari perkataan kamu aja, tapi kami pahami sampe hati dan pikiran kamu" ucap Sherlyn setengah berteriak tertahan dengan situasi yang sudah larut malam.
"Aku gak tahan Sher, kalau terus kamu gituin, aku gak bakal kuat" ucap Riski dengan mendekap Sherlyn hangat, ingin merasakan kembali kehangatan yang mulai mencair tidak sedingin waktu kemarin dan tadi.
"Aku juga sama gak bisa terus kamu gak percayain, kamu bentakin, kamu marahin demi wanita brengsek itu" ucap Sherlyn melepaskan pelukan Riski dengan meneteskan air mata.
"Aku udah bilang, aku gak bakalan kaya gitu lagi. Aku mau berubah. Aku janji bakal selalu percaya sama kamu" ucap Riski dengan menarik tubuh Sherlyn kembali kedalam pelukanya seakan tidak ingin Sherlyn melepaskannya.
"Aku gak bisa percaya gitu aja, aku takut bila terlalu percaya kamu bakal gitu lagi" ucap Sherly mempersulit Riski, Sherlyn tidak mau percaya begitu saja, lalu disakiti kembali dilain waktu.
"Caranya gimana supaya aku bisa buktiin itu semua sama kamu" ucap Riski meminta sedikit penjelasan Sherlyn, karna Riski mulai pusing Sherlyn benar-benar wanita yang sulit dibujuk bila sudah habis kesabarannya.
"Pokonya kamu harus bisa buktinya sama aku! gimana pun caranya, aku gak mau tau" ucap Sherlyn dengan menghapus air matanya, lalu berusaha melepaskan pelukan Riski.
"Oke, aku akan buktiin itu semua demi kamu" ucap Riski mantap.
"Asal kamu jangan marah lagi!" Sambungnya lagi, Sherlyn pun mencoba menerima tawaran Riski dan mengangguk mengiyakan.
"Aku bener-bener cinta sama kamu, Sherlyn" ungkap Riski kembali mendekap tubuh Sherlyn tapi tidak dibalas oleh Sherlyn.
~
Sedangkan ditempat lain.
Angel meminum vodca sampai mabuk parah didalam kamarnya. Haidar pun yang melihatnya merasa sedih, karna harus melihat secara langsung bagaimana kelakuan ibunya, jalan sempoyongan seakan tidak terkendali, bicara meracu seperti orang gila, bau alkohol menyengat yang tidak baik bila dihirup secara langsung oleh anak seusia Haidar. Dulu sewaktu mereka tinggal dikontrakan Haidar hanya melihat Angel pulang dengan pakaian terbuka dan bau alkohol menyengat. Tapi sekarang Haidar harus melihatnya didepan matanya kelakuan ibunya yang sungguh bejad yang mulai kecanduan alkohol disaat moodnya sedang tidak baik atau banyak pikiran.
"Ibu, sudah jangan minum lagi" rengek Haidar ketika Angel meracu, Haidar takut bila akan terjadi hal yang tidak diinginkan dengan ibunya, karna tadi pagi Haidar meminta pulang ke rumah ibunya dan diantarkan oleh neneknya, mungkin bila tau akan begitu Haidar pun tidak ingin pulang kerumahnya.
"Sayang, pergi sana! jangan disini!" ucap Angel setengah sadar dan setengah melayang akan efek alkohol, Angel mencoba menyadarkan dirinya sendiri bila dikamarnya ada putranya.
"Ibu ngga akan kenapa-napa, ayo cepat pergi!" usir Angel sekali lagi, tetap Haidar tidak ingin pergi dari kamar ibunya, karna Haidar takut bila ia pergi, ibunya akan minum kembali.
"Aku ngga mau Ibu" tolak Haidar dengan tangis yang kian menjadi, membuat Angel menjadi kesal dibuatnya, ditambah pengaruh alkohol yang membuatnya cepat naik darah.
"Pergi Haidar! Ibu bilang pergi! cepet!" bentak Angel dengan melotot. Membuat Haidar ketakutan dibuatnya, karna bagaimana pun Haidar, Haidar tetap anak kecil yang butuh perlindungan dan disayangi bukan dibentak dengan cara seperti itu.
"Ibu" panggil Haidar kian melemas dan ketakutan.
"Pergi!" teriak Angel membuat Haidar berjinjit karna kaget, Haidar pun mencoba melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar ibunya, karna tidak mau membuat ibunya lebih marah lagi padanya.
"Om" panggil Haidar ketika melihat Tio baru saja masuk kedalam rumahnya, jelas saja Tio bisa masuk kerumah Angel, karna Tio mempunyai kunci cadanganya.
"Kamu kenapa nangis Sayang?" tanya Tio dengan mendekat dan menghapus air mata Haidar, Tio merasa iba melihat pria kecil yang tidak berdaya berderai air mata.
"Ibu tadi bentak aku" adu Haidar dengan menundukan kepalanya.
"udah jangan nangis lagi! kamu nakal kali" bujuk Tio dengan memangku tubuh kecil Haidar.
"Aku gak nakal Om, aku cuman takut aja Ibu kenapa-napa" belanya dengan menangis kembali mengingat ibunya yang begitu kacau.
"Emang Ibu kamu kenapa?" tanya Tio mulai penasaran. "Ibu tadi minum-minuman, yang bau Om, Haidar gak suka baunya" ucap Haidar karna tidak tau apa itu mabuk, Tio pun mulai mengerti dan menurunkan Haidar dari gendongannya.
"Yaudah, kamu tidur ya sayang! biar Om yang lihat Ibu kamu" ucap Tio dengan mengelus-elus kepala Haidar, Haidar pun hanya mengangguk dan pergi kedalam. kamarnya.
"Ya Tuhan, kamu itu apa-apa Angel" teriak Tio dengan suara yang masih pelan, saat melihat Angel tertidur dilantai dengan botol berserakan.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Angel terbangun karna teriakan Tio.
"Mau apa, mau apa, kamu kenapa mabuk kaya gini, sampe buat anak kamu nangis dan ketakutan kaya gitu" ucap Tio marah, Angel pun mulai bangun dari tidurnya, walaupun merasa sulit karna kepalanya yang berkunang-kunang.
"Jangan so perduli!, pergi sana! aku gak mau diganggu lagi" Teriak angel membabi buta.
"
Bersambung.
~Untuk diriku sendiri, maaf untuk malam-malam panjang dengan mata yang sulit tertidur, kepala yang sakit, lelah pikiran, sakit hati yang dipaksa bungkam, sakit fisik yang susah diterima. Terima kasih sudah berkerja sama dengan selalu terlihat baik-baik saja dan bahagia didepan semua orang~