LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Serba Salah.



Kini Riski dan Sherlyn sedang makan malam, seperti awal mula yang telah dijadwalkan oleh Riski. Sherlyn makan dengan santai tampa niatan berucap sedikit pun, hal itulah membuat Riski semakin gusar karna suasa ini semua beda dengan apa yang ada dimimpi Riski. benar-benar berbeda jauh dengan apa yang ada dimimpi Riski, tempat, suasana, bahkan makanan, restoran, serta Riski lupa untuk membeli bunga mawar. Kenapa Riski sampai bodoh untuk melupakan hal seperti itu agar lebih terkesan romantis, tapi tidak apa-apa Riski akan membelinya dijalan nanti. Agar membuat Sherlyn terharu dan senang akhirnya bisa memaafkan kesalahan Riski, batin Riski.


"Yang, kamu cantik deh malam ini" puji Riski memulai percakapan dengan sedikit gombalan, ingin membuat hati Sherlyn malam ini menjadi kelepek-kelepek. Tapi sayang Sherlyn hanya menatap datar Riski, lalu melanjutkan makanya, seperti tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Sherlyn.


"Aku serius sayang. Kamu terlihat beda dari biasanya" tambah Riski lagi, ditatap tajam oleh Sherlyn, sehingga membuat Riski bingung salah dimana ucapanya.


"Jadi kemarin-kemarin aku gak cantik gitu?" tanya sinis Sherlyn.


"Ngga bukan gitu sayang maksud aku, kamu selalu cantik ko dimata aku, sampe buat aku cinta mati sama kamu" bela Riski dengan tersenyum manis, sepertinya Riski harus Berhati-hati berbicara, pasalnya sikap istrinya seperti yang baru saja mendapatkan bulan merah atau kebiasan wanita setiap bulannya.


"Kamu cinta mati ya sama aku?" tanya Sherlyn dengan tersenyum licik, Riski pun yang mendengarnya hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


"Sini aku bunuh! kalau cinta mati sama aku" ucap Sherlyn dengan serius, sambil menyodorkan pisau steak kepada Riski, membuat Riski sedikit merinding apakah istri yang dicintainya menjadi psikopat sekarang, pikir Riski dengan cepat Riski pun langsung menggelengkan kepala, mana mungkin sikap istrinya yang anggun bisa menjadi seperti itu.


"Kamu mau?" tanya Sherlyn sekali lagi karna kunjung tidak dapat jawaban dari Riski, Riski pun mulai meneguk ludahnya kasar dan menggeleng cepat, membuat Sherlyn berekspresi kecewa dan menurunkan pisaunya.


"Yah. gak seru" ucapnya dengan memakan Steak kembali, sontak membuat Riski sedikit lega.


"jangan bercanda kaya gitu lagi!" omel Riski ketika mereka masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. sebenarnya Riski tidak benar-benar takut, Riski hanya takut bila dirumah Sherlyn akan melakukan seperti itu lagi dengan pisau tajam, karna Riski sering melihat orang yang sakit hati akan melakukan hal yang konyol seperti itu. Sherlyn pun yang mendengarnya hanya tersenyum, ternyata suaminya sangat lebay dan payah pisau steak kan tumpul, batin Sherlyn.


"Jangan lebay!" protes Sherlyn tidak luput dari wajah masamnya, seketika membuat nyali Riski menciut untuk memarahi Sherlyn karna bukanya hubungan mereka menjadi lebih baik, tapi akan menjadi lebih buruk, bila Riski bersikukuh untuk memarahi Sherlyn.


"Yaudah, Maafin aku deh!" ucap Riski dengan wajah konyol, Sherlyn pun yang melihatnya harus mati-matian menahan tawa agar Riski tidak curiga, dengan wajah datar tampa ekspresi. Riski pun menghentikan mobilnya didepan menjual bunga segar dipinggir jalan, dengan cepat Riski turun dan membelinya bunga mawar merah percis seperti didalam mimpinya, semoga hal seperti ini menjadi adegan romantis seperti apa yang Riski impikan.


"Abis ngapain kamu ke tukang bunga?" tanya Sherlyn karna penasaran dengan wajah datar tampa ekspresi seperti biasa.


"Kamu doain aku mati ya?" tanya Sherlyn dengan wajah marah yang di buat-buat.


"Maksudnya apaan shi yang?" tanya balik Riski tidak mengerti maksud dari perkataan Sherlyn, Sherlyn sedikit kesal karna di London sekitar tempat tinggalnya biasanya orang yang berkunjung kemakaman membawa bunga mawar putih. Tapi kenapa Riski malah membeli bunga mawar putih bukanya Riski akan membeli mawar merah, jawaban karna di tukang bunganya sudah Habis mawar merah, jadi Riski membeli bunga mawar putih, toh mungkin pikir Riski sama-sama bunga mawar.


"Itu kamu beli bunga mawar putih, biasanya di London dipake buat ke pemakaman" ucap Sherlyn dengan kesal, membuat Riski mengusap wajahnya kasar, kenapa apa yang dilakukan Riski menjadi serba salah begitu. Wanita yang menjadi istrinya memang tidak bisa dipahami.


"Yaudah maafin aku! aku gak bermaksud begitu yang. Yaudah aku ganti aja ya bunganya!" ucap Riski dengan bergerak akan membuka pintu mobil tapi ucapan Sherlyn menghentikanya.


"Beli lagi ditempat yang lain!" perintah Sherlyn dengan menyilangkan kedua tanganya diatas dada, Riski pun hanya mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya menurut apapun yang diperintah sang ratu. Saat melihat toko bunga yang masih buka, Riski menghentikan mobilnya dan melakukan hal serupa.


"Ini yang!, bunga mawar untuk Istri ku yang paling cantik dan baik hati" ucap Riski dengan menyodorkan bunga mawar merah, pasti sekarang ia tidak akan salah batinya.


"Ganti! aku maunya bunga Lily, kenapa kamu tadi ngga nanya dulu!" ucap Sherlyn tampa melihat Riski sedikit pun, membuat Riski hanya mengelus dada dan bersabar dalam hatinya.


"Siap tuan Ratu!" ucap Riski dengan memaksakan bibirnya melengkung dan membuka pintu mobil kembali untuk membeli bunga Lily kemauan tuan ratu.


"Ini tuan Ratu yang terhormat, silahkan diambil bunganya!" ucap Riski dengan menyodorkan bunga Lily patuh seperti seorang pelayan. Sherlyn pun hanya mengambil tampa mengucapkan terimakasih dan melihat serta mencium bunga Lily yang nampak menenangkan. Sebenarnya Sherlyn tidak benar-benar kesal itu semua hanya akal-akalan Sherlyn saja untuk mengerjai Riski, didalam hati Sherlyn bersorak gembira karna telah berhasil mengerjai Riski, sebenarnya Sherlyn masih ingin mengerjai Riski tapi ini sudah hampir larut malam, bila Sherlyn terus-terusan mengerjai Riski mereka tidak akan pulang-pulang.


Bersambung.


~Menerima kamu lagi setelah reda amarah, memahami kamu lagi setelah berbuat salah. Perasan siapa yang melebihi semua ini pada mu, manusia mana yang mampu bertahan melebihi aku~