
"Tadi aku dibikinin susu sama Bibi yang kerja kemarin Yah, bibinya gak tau aku alergi coklat" jelasnya membuat, Riski mengerutkan kening, lalu dari mana datangnya Susu coklat, pasti Angel ibunya sudah mengetahui bahwa anaknya alergi coklat.
~
Riski pun karna penasaran setengah mati mencoba menelpon Asisten Rumah tangganya untuk datang ke Rumah sakit, Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, Asisten Rumah tangga Angel pun datang dengan tergesa-gesa ke kamar pasien yang ditepat Haidar.
"Permisi!" Sapanya sopan.
"Tuan, Nyonya maaf saya telat" ucapnya merasa tidak enak.
"Bibi yang ngasih Anak saya susu?" tanya Riski tidak ingin basa-basi, dibalas angguk oleh Asisten Rumah tangganya yang bernama bi ida.
"kenapa Bibi bisa memberikan Anak saya susu coklat, apa Angel tidak memberi tahu Bibi?" tanya Riski mulai menyelidik, pasalnya ada sesuatu yang ganjal.
"Tidak Tuan. tadi pagi saya disuruh membeli susu sama Nyonya, tapi seingat saya, saya tidak membeli susu coklat, tadi siang saya di suruh lagi membuat susu untuk Den Haidar, saya tidak sempat melihat apakah itu susu coklat atau susu putih saya langsung menyeduhnya dan memberikanya. tapi ternyata itu susu coklat" jelas bi ida, ditatap tajam oleh Angel, Riski pun yang mendengar dan melihat ekspresi Bi ida merasa yakin, bila Asisten rumah tangga Angel berkata jujur, lantas siapa pelakunya.
"Jadi Kamu nyalahin saya?" tanya Angel penuh menekanya dengan wajah galaknya. Riski pun menetap Angel penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa, jadi marah sama Bi ida?" tanya Riski kesal karna Angel berbicara seperti penakut-nakuti Asistenya.
"Aku gak marah, aku cuman nanya" elak Angel sinis.
"Aku yakin ko, Bi ida berkata jujur" ucap Riski penyakini, akhirnya Asisten rumah tangga Angel pun bernafas lega, karna bi ida sudah takut dipecat.
"Terus yang ngelakuinya siapa?, kalau bukan dia" ucap Angel dengan menunjuk Bi ida, Riski pun yang melihatnya merasa marah, karna Angel telah tidak sopan dengan orang yang lebih tua darinya.
"Angel jangan gitu gak sopan!" titah Riski dengan melotot, Angel pun yang dipelotot merasa takut dan akhirnya memilih diam.
Clek
Suara pintu di buka membuyarkan perdebatan mereka, tatapan mereka pun langsung tertuju kepada wanita berambut pirang yang baru saja datang. Haidar pun yang melihat merasa senang, tapi tidak dengan orang yang ada didalam ruangan, Riski penatap Istrinya terkejut, sedangkan Angel menatapnya sinis.
"Hai, Sayang" sapanya kepada Anak sambungnya.
"Panggil aku Mama ya!" titah Sherlyn dengan mencubit gemes anaknya.
"Asyik sekarang Haidar punya Ibu sama Mama" ucapnya tertawa senang, Riski pun yang melihatnya merasa lega, karna Sherlyn tidak seperti yang Riski bayangkan. buktinya sekarang Sherlyn bisa menerima Haidar. Angel pun yang melihatnya merasa kepanasan karna anaknya sudah membela wanita yang sudah berani menamparnya.
"Kamu kenapa, sakit ya Sayang?" tanya Sherlyn lembut, diangguki oleh Haidar.
"Haidar alergi coklat Tante, eh, maksud Haidar Mama"ucapnya polos, membuat Sherlyn tersenyum, lalu setelah itu berkata.
"Ohya, Tante baru tau. kalau Kamu alergi coklat. berarti Haidar sama ya kaya Ayah Haidar, alergi coklat" ucap Sherlyn dengan dengan gaya imut. Haidar pun hanya mengangguk dan akhirnya mereka tertawa bersama membahas hal lucu yang mereka telah lewati.
Riski dan Angel pun jadi penonton setia melihat adegan ibu sambung dan anak tiri, yang terlihat bahagia, sebenarnya Angel sudah panas melihatnya tapi di tatap tajam oleh Riski sehingga Angel mengurungkan niatnya untuk mengacaukan mereka.
"Haidar. Udah minum obat?" tanya Sherlyn ketika melihat sirup obat diatas meja Rumah sakit yang masih disegel rapih.
"Belum Mama, Pait. Haidar udah sering minumnya" ucapnya muak karna setiap terkena alergi pasti sirup obat itu yang Haidar minum, mengingat Haidar yang belum bisa menelan pil table.
"Haidar belum makan, Kamu mau ngeracunin Anak aku" ucap Angel ketus, tapi tidak digubris oleh Sherlyn, Sherlyn pun melihat kotak bubur diatas meja dan membukanya ternyata benar masih utuh.
"Kamu Makan dulu ya, Sayang!" titah Sherlyn, tapi Haidar malah menutup mulutnya membuat Angel merasa senang, Riski pun yang melihatnya terasa tertantang, apakah Sherlyn bisa membujuk Haidar atau sebaliknya. mengingat Sherlyn yang tidak mempunyai Adik dan tidak bisa membujuk anak kecil.
"Haidar. mau ketemu gak sama Baby Ayra?" tanya Sherlyn kepada Haidar, dibalasan anggukan antusias oleh Haidar.
"Yaudah. Kalau gitu Haidar makan ya! terus minum obat deh" bujuk Sherlyn. Haidar sedikit ragu untuk menyiyakanya dan akhirnya bertanya sekali untuk menyakininya.
"Tante, Jangan bohong ya!, soalnya Haidar udah kangen Sama Baby Ayra" ucapnya dibalas angguk oleh Sherlyn.
"Ye..., aku mau ketemu sama Baby Ayra" Ucapnya senang dengan tawanya, Riski pun yang mihatnya mereka menghangat, beda lagi dengan Angel yang ingin merebut bubur ditangan Sherlyn, dengan cepat Riski mencegahnya dengan cara menarik tangan Angel.
"Jangan macem-macem Kamu!, lebih baik kamu diam!" ancam Riski, dibalas anggukan oleh Angel. akhirnya Sherlyn pun menyuapi Haidar, bubur hingga tanda tak tersisa, selanjutnya memberikan obat kepada Haidar, setelah itu Sherlyn membuat Haidar beristirahat sampai terlelap tidur, rupanya Sherlyn memperlakukan Haidar dengan sangat baik.
~Jika seseorang berusaha menguji kesabaran mu, sadar dan ingatlah bagaimana Tuhan telah bersabar terhadap mu.~