LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Emosi Sherlyn



Warning!


Novel ini sedang tahap renovasi


mohon maaf bila kalian menunggu


Up terlalu lama.


--------------------------------------------


Karna terus berteriak dan menjerit-jerit seperti orang gila sampai suara Sherlyn sudah serak, Sherlyn memutuskan untuk menangis tampa suara tangisan yang memilukan, air mata Sherlyn tidak henti-hentinya mengalir seperti hujan lebat, disertai isakan yang membuat orang lain iba, Sherlyn sungguh terluka, lebih dari apapun, Rasa sakit perih dalam hati bercampur nyeri saat ini Sherlyn rasakan, sakit tidak berdarah, Sherlyn dan Riski pun sampai dirumah, Sherlyn pun turun dari mobil dengan langkah lesu, Sherlyn tidak perduli walaupun nantinya sampai didalam banyak orang yang bertanya, Sherlyn hanya ingin meredam amarah dan kekecewanga hanya itu saja.


"Sher" ucap Riski kian mendekat, tapi sebelum mendekat Sherlyn sudah menyisaratkan stop lewat isyarat tanganya, membuat Riski hanya diam. Sherlyn masuk kedalam perlahan, karna kakinya yang kian lemas, lemas karna kaget dan terlalu kecewa.


"Ki, Sherlyn kenapa?" tanya mami Riski dan hanya dijawab gelengan kepada oleh Riski, lalu Riski masuk kedalam kamar mengikuti langkah Sherlyn.


"Sher maaf!" ucap Riski dengan berjongkok dihadapan Sherlyn, mentap Sherlyn yang tengah duduk diatas ranjang. Kini Hati Riski menjadi sakit, melihat Sherlyn yang begitu menghawatirkan, Riski lebih baik Sherlyn memukul atau menamparnya daripada harus menangis dalam diam seperti ini.


"Sher, Maafin Aku! Aku ngga jujur sama Kamu, jangan diemin aku gini. Sekarang kamu boleh nampar aku, pukul aku, caci aku, pokonya apapun semau kamu, asal jangan kaya gini" ucap Riski tidak tahan lagi melihat Sherlyn hanya mengunci mulutnya.


"Ayo dong Sher! Aku udah cukup merasa bersalah sama Kamu, jangan buat aku makin merasa bersalah lagi" ucap Riski menyesali perbuatanya, tapi bukanya bicara Sherlyn makin derai menangis, Rasanya Sherlyn benar-benar rapuh saat ini.


"Ayo tampar! pukul! caci! sampai kamu puas" ucap Riski dengan menampar-namparkan tangan Sherlyn ke wajahnya, Tapi Sherlyn hanya diam dan menangis. seolah tuli dan bisu.


"Sherlyn!" panggil Riski putus asa, tapi seperti sekarang tetep tidak ada jawaban.


"Apa Aku harus sujud dikaki Kamu, biar Kamu maafin aku!" ucapnya lemah. Tatapan Sherlyn pun menjadi kosong, Sherlyn mengingat curhatan demi curhatan Haidar ternyata orang tersebut Adalah suaminya. membuat ulu hatinya menjadi semakin sakit dan sesak.


"Oke. kalau itu yang Kamu mau Sher" ucap Riski tidak tahan lagi, saat Riski hendak bersujud, dengan cepat Shelyn mengangkat kakinya keatas ranjang.


"Kamu semalam nginep dimana. ki?" tanya Sherlyn mengulang lagi pertanyaanya, agar mendapat jawaban dari Riski, Riski pun mengusap wajahnya kasar lalu menafas berat setelah itu Riski mempersiapkan diri pasrah apapun yang akan dilakukan istrinya.


"Di rumah Haidar" ucap Riski pasrah.


Hati Sherlyn bertambah sakit mendengarnya, walaupun Sherlyn sudah tau jawabnya pasti seperti itu, tapi setidaknya ada secercah harapan untuk mengakui bahwa semuanya salah dan sekarang hilang terganti memang itu kenyataanya.


"Lalu, kemarin kamu kemana?, waktu pulang larut malam?" tanya Sherlyn lagi, Inilah satu-satunya harapan Sherlyn untuk gampang memaafkan Riski.


"Aku ke rumah Haidar" ucapnya pasrah kini Sherlyn sudah tidak kuat lagi untuk tidak menjerit dan menjambak-jambak rambutnya sendiri karna terlalu kecewa pada dirinya sendiri, yang menganggap masalah sepele, pahadal masalah serius yang nantinya bisa menghancurkan keluarganya.


"Sherlyn udah!" Bentak Riski marah, karna kenapa Sherlyn melampiaskanya kemarahnya pada dirinya sendiri, pahadal yang harus disalahkan itu Riski.


"Aku Bodoh" ucapnya lemas, diringi dengan tangis yang kian berjatuhan dilantai.


"Yang bodoh itu Aku bukan Kamu, aku ngga Jujur dari awal sama Kamu" ucap Riski menyesal, Riski hendak memeluk Sherlyn tapi Sherlyn berontak, Riski pun bersikukuh ingin memeluk Sherlyn walaupun menerima menolakan dan akhirnya Riski bisa memeluk Sherlyn dan mengunci pergerakanya Sherlyn saat Sherlyn lengah.


"Aku sayang sama Kamu, Sher. maafin aku!" ucapnya lirih, tersirat penyesaalan mendalam lewat nada suaranya.


"Kalau Kamu Sayang, kenapa ngga jujur malah bohong" bentak Sherlyn, sudah tidak ingin menangis tapi tetap Air matanya keluar. walaupun rasanya sudah kering karna terlalu banyak menangis.


"Aku takut Kamu gak mau nerima Aku sama Anak Aku, Aku takut kamu pergi dari hidup Aku, Sherlyn" ucapnya parau bahkan kini Riski sudah meneteskan air mata, tapi dengan cepat Riski mengahapusnya dengan punggung tangganya.


"Tapi apa kenyatanya, sekarang aku tau juga kan, kenapa kamu gak pikir dua kali" ucap Sherlyn Marah saat mengingat Riski yang membohonginya.


"Aku salah Sher, sekali lagi aku minta maaf!" Bisik Riski ditepat ditelinga Sherlyn, Sherlyn pun yang mendengarnya tertawa hambar, seakan baginya perkataan Riski adalah lelucon garing.


"Kamu bilang, Aku yang cuman bisanya minta Maaf, tapi kenapa malah kamu sekarang" ucap Sherlyn membalikan perkataan Riski waktu beberapa Hari lalu, membuat Riski terdiam, Riski memang pengcut sekarang.


"lepas!" bentak Sherlyn dan akhirnya dilepaskan Riski, Sherlyn pun masuk kekamar mandi dan menguncinya, Riski pun memukul-mukul kepada dengan kedua tanganya, Katakan lah Riski saat bodoh saat ini.


*perhatian kalau memang kalian ngga suka sama karya aku, mending kalian jangan baca aja, daripada ujung-ujungny komen gak jelas atau marah-marah percuma, bikin down aja. kalau berkomentar lebih baik yang sopan dan baik pasti saya akan terima, gak perduli berkoar-koar gak jelas~


maaf ya saya jadi marah-marah ka😂


~Jangan menilai orang dari masa lalunya, Karna kita sudah tidak hidup disana, semua orang bisa berubah, biarkan mereka membuktikan~