LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Salah paham



Pagi ini matahari bersinar sangat terik. Menerobos ruangan inap yang Haidar tempati lewat gordeng jendela. Tapi rupanya tidak membuat dua manusia yang tengah tertidur disopa terbangun, justru sang pria makin mengeratkan pelukanya, seakan wanita yang menjadi istrinya adalah bantal. Sherlyn pun terbangun dari tidurnya saat Haidar memanggilnya.


"Mama" panggil Haidar yang tengah duduk diranjang pasien.


"Iya, Sayang" ucap Sherlyn cepat duduk, walaupun harus kesusahan karna tangan Riski masih membelit pinggangnya.


"Ma. Haus" ucap Haidar. Sherlyn pun yang mengerti maksud Haidar mengambilkan segelas air dari dispenser dan memberikanya pada Haidar.


"Makasih Ma" ucap Haidar ketika selesai memhabiskan air hanya sekali tegukan, mungkin saking hausnya.


"Iya. Sama-sama Sayang" ucap Sherlyn dengan tersenyum manis. Selang beberapa menit ada orang yang mengetuk pintu, Sherlyn membukanya dan ternyata Asisten rumah tangga Riski yang membawakan baju Sherlyn dan Riski serta perlengkapan yang Sherlyn butuhkan, Sherlyn mengambil baju dan perlengkapanya dan tidak lama Asisten rumah tangga Riski berpamitan pulang. Karna sudah tidak ada yang Sherlyn butuhkan lagi. Akhirnya Sherlyn mengizinkan asisten rumah tangga Riski pulang.


"Siapa Sayang?" Tanya Riski dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tadi si bibi nganterin baju sama perlengkapan, ki" balas Sherlyn dengan mengambil dres warna hitam selutut dan mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi. Riski pun hanya mengangguk sebagai tanda jawaban memang Riski semalam sudah menyuruhnya.


20 menit berlalu Sherlyn pun keluar dari kamar mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, entah kenapa Riski yang melihatnya merasa Sherlyn sangat cantik. Entah Riski baru menyadari atau memang Sherlyn bertambah cantik yang pasti rasanya Riski ingin melahap Sherlyn saat itu juga. bila tidak mengingat waktu dan tempat.


"Yang, ko kamu tambah cantik ya?" tanya Riski dengan tersenyum. Sherlyn pun yang ditanya menjadi salah tingkah, karna Sherlyn merasa ini bukan Riski, mereka tidak pernah sedekat ini.


"Hmm..., aku mau beli bubur dulu ya" ucap Sherlyn mengalihkan membicara, lalu menyisir, memakai pelembab dan memakai sedikit lipcream berwarna nude, agar wajahnya tidak terlihat pucat.


"Sekalian Ambilin aku dompet dong yang dimobil, ketinggalan. Ini kuncinya" ucap Riski dengan memberikan kunci mobil, Sherlyn pun hanya mengangguk lalu pergi dari hadapan Riski.


Diparkiran saat Sherlyn hendak pergi akan membeli bubur, Sherlyn tidak sengaja ditabrak seseorang yang sedang terburu-buru, membuat Sherlyn tersungkur kelantai dan mengaduh kesakitan.


Bruggh!


"Aww...," ringis Sherlyn merasakan sakit dibahunya karna terlalu kencang ditabrak.


"Sorry, I did not mean it!(maaf, saya tidak sengaja!)" ucap sang pria yang menganggap Sherlyn sebagai turis dengan mengulurkan tangan untuk membantu Sherlyn berdiri. Tapi Sherlyn tolak dengan halus dan berdiri sendiri.


"Gak apa-apa" ucap Sherlyn dengan tersenyum, walaupun Sherlyn merasa sakit dan kesal. Tapi Sherlyn merasa tidak enak kalau harus sumpah serapah, sedangkan pria yang menabraknya sudah meminta maaf.


"Maaf ya!, aku kira kamu turis" ucap sang pria dengan tersenyum, menatap Sherlyn lekat, Sherlyn pun yang ditatap merasa tidak enak.


"Yaudah, saya permisi dulu ya. Mas" Ucap Sherlyn mengangguk dan berpamitan, selang beberapa langkah sang pria itu bertanya lagi kepada Sherlyn menghentikan langkah kaki Sherlyn.


"Nama Kamu siapa?" tanya sang pria yang begitu penasaran dengan Sherlyn.


"Sherlyn" ucap Sherlyn lalu pergi melangkah terburu-buru, sang pria pun menatap punggung Sherlyn hingga hilang lalu tersenyum.


Akhirnya setelah Sherlyn membeli dua cup bubur. Sherlyn pergi keruangan inap Haidar. Saat Sherlyn membuka pintu, hal yang pertama Sherlyn lihat Angel sedang memeluk Riski.


Deg


Dada Sherlyn terasa berhenti berdetak, air mata Sherlyn jatuh sendirinya, sesak sekitar dada mulai Sherlyn rasakan dengan cepat Sherlyn menyeka Air matanya dan masuk kedalam, Sherlyn mulai risih dengan memandangan yang sudah memiriskan hatinya.


"Eheum...," dehem Sherlyn untuk menyadarkan mereka bahwa diruangan ini ada seorang Sherlyn, berhasil menyadarkan mereka, Riski pun mulai melepaskan pelukan Angel dan merasa bersalah, Riski takut Sherlyn salah paham.


"Yang. Kamu jangan salah paham" ucap Riski dengan memegang kedua tangan Sherlyn.


"Salah paham apa, ki?" tanya Sherlyn berpura-pura tidak tau untuk menutupi sesak dalam dadanya, yang semakin menjadi.


"Semua ini gak seperti yang kamu lihat" jelas Riski, Sherlyn pun hanya tertawa hambar dengan ucapan Riski. Tidak seperti ini bagaimana jelas-jelas Sherlyn melihatnya dengan mata kepala Sherlyn sendiri. Apa dibelakang Sherlyn, Riski seperti itu, batin Sherlyn mulai ragu setelah mlihat adegan mesra yang tidak sengaja ia tonton.


"Cukup Ki, aku gak ngerti maksud kamu apa" ucap Sherlyn dengan mentap wajah Angel yang tengah tersenyum membuat tangan Sherlyn gatal untuk ingin menamparnya.


"Kamu jangan sal-" belum selesai Riski membereskan ucapanya Sherlyn sudah terlebih dulu memotongnya.


"Karna sekarang udah ada Ibu dan Ayahnya. Aku pamit pulang dulu" ucap Sherlyn menyindir, lalu mengambil tasnya untuk pergi


"Mama, mau kemana?" tanya Haidar dengan memperhatikan wajah Sherlyn yang sendu.


"Mama pulang dulu ya Sayang, nanti kalau kamu udah sembuh, kita main sama dede Ayra" pamit Sherlyn dengan mencium kening Haidar.


"Mama jangan pergi!" ucap Haidar dengan memegang tangan Sherlyn, Sherlyn pun yang melihatnya hanya menggeleng dan melepaskan tangan Haidar perlahan lalu pergi dari ruang inap, Riski pun merasa bersalah saat melihat mata memerah Sherlyn yang menahan agar air mata agar tidak turun. Dengan cepat Riski menyusul Sherlyn dan memegang tangan Sherlyn untuk memberikan lagi penjelasan.


"Sayang, dengerin aku dulu!" bujuk Riski, dibalas gelengan kepala oleh Sherlyn.


"Ngga ada yang perlu dijelasin, ki" ucap Sherlyn dengan menghempas tangan Riski dan melangkah meninggalkan Riski. Tapi Riski tidak kehabisan akal, Riski mencoba memagang tangan Sherlyn kembali untuk menghentikan langkah Sherlyn.


"Sherlyn. please percaya sama aku!" bujuk Riski tapi Sherlyn hanya tersenyum miris, air mata Sherlyn pun mulai luluh membasahi pipinya.


"Kamu pikir aku bodoh atau apa?, jelas-jelas aku udah lihat dengan mata kepala aku sendiri, aku mohon Riski!, aku butuh waktu sendiri" ucap Sherlyn dengan berlinang air mata lalu menghempas kasar tangan Riski, lalu pergi berlari meninggalkan Riski.


bersambung


~Pintar-pintarlah menjaga perasaan mu sendiri, Sebab orang lain. Tidak bertanggung jawab untuk selalu menjaga perasan mu~