LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Firasat



"Ki, aku mohon jangan pergi!" mohon Sherlyn dengan memeluk Riski. Sekarang Sherlyn takut Riski kenapa-napa.


~


"Tapi. Ini meeting penting banget Sher, aku janji bakal pulang cepet kalau udah beres" janji Riski, tapi tetap tidak membuat Sherlyn bergeming untuk melepas pelukan Riski.


"Ki, jangan pergi pokonya, jangan!" rengek Sherlyn dengan menangis yang kian menderas.


"Sher. Jangan kaya gini dong, aku mau pergi meeting aja, bukan kemana-mana, tolong ngerti dong sayang! ini meeting penting banget" bujuk Riski, Sherlyn pun mencoba menenangkan dirinya dan melepaskan pelukan Riski, lalu menghapus air matanya.


"Kamu jangan nangis ya sayang! percaya deh aku gak bakalan kemana-mana, aku udah sayang sama cinta banget sama kamu, aku gak bisa hidup tampa kamu" ucap Riski dengan memeluk Sherlyn kembali, Sherlyn pun membalas pelukan Riski sama eratnya.


~


Malamnya.


"Ki kamu bener mau pergi?" tanya Sherlyn meyakinkan dengan tangan bergelantungan manja di lengan Riski.


"Iya sayang, aku pulang jam 9 malam ya, kamu jangan rindu!" ucap Riski dengan mengecup singkat bibir Sherlyn.


"Aku mau ikut boleh gak?" tanya Sherlyn dengan memeluk Riski erat.


"Sayang, aku sebantar ko keluarnya, kamu percaya ya sama aku!" tukas Riski dengan tawa kecilnya sambil mengacak-acak rambut Sherlyn gemes.


"Tapi, perasaan aku gak enak ki" ucap Sherlyn dengan perasan bercampur aduk, antara gelisah dan firasat buruk.


"Aku bisa ko sayang jaga diri aku baik-baik, kamu percaya aja sama aku" yakin Riski masih dengan memeluk Sherlyn, Riski pun sebenarnya males untuk keluar rumah, tapi karna meeting penting mau tidak mau Riski harus pergi dari rumah.


"Yaudah. Sayang aku pergi ya! bentar lagi meetingnya" ucap Riski dengan melepas pelukan Sherlyn, walaupun merasa kesusahan karna Sherlyn memeluk Riski sangat erat.


"Aku janji bakal pulang dengan keadaan baik-baik aja dan aku janji juga bakal cintai kamu selamanya gak akan ada yang bisa gantiin kamu Sher dihati aku" ucap Riski dengan sekali lagi mencium kening Sherlyn penuh cinta, Sherlyn pun hanya diam dan mentap Riski lekat dengan pikiranya.


"Aku sayang kamu, Sher" ucap Riski dengan pergi meninggalkan Sherlyn yang masih membatu dan hanya menatap punggung Riski yang kian menghilang tertutup pintu.


Derrttt... Derrttt... Derrttt...


Tiba-tiba panggilan masuk membuyarkan lamunan Sherlyn yang masih melayang dengan pikiranya. Sherlyn pun mengambil handphone Riski yang tertinggal diatas meja dan mengangkat panggilan masuk.


"Hallo, ini dengan siapa?" ucap Sherlyn didalam panggilan telpon.


"xxxxxxxx... "


"iya, Terimakasih, saya akan melarang Riski sekarang" ucap Sherlyn dengan air mata yang mengalir. Lalu mematikan panggilan telpon dan berlari kebawah mengejar Riski saat terdengar suara mobil yang dihidupkan.


"Sher, kamu mau kemana lari-lari?" tanya Jasmine saat melihat Sherlyn menangis sambil berlari tampa menggubris pertanyaan Jasmine, membuat Jasmine penasaran dan ikut berlari menyusul Sherlyn.


"Ki, tungggu!!" teriak Sherlyn sekali lagi dengan air mata tapi tidak terdengar oleh Riski karna mobilnya yang kian menjauh.


"Riski!!" teriak Sherlyn semakin kencang saat Sherlyn terjatuh dan tidak bisa mengejar Riski.


"Sher, bangun kamu kenapa?" tanya Jasmine dengan membantu Sherlyn berdiri.


"Ka, kita harus kejar Riski sekarang" ucap Sherlyn kalang kabut dengan berlari menuju mobilnya.


"Bibi, cepetan ambil kunci mobil" teriak Sherlyn seperti dihutan, asisten rumah tangganya pun hanya mengangguk dan berlari untuk mengambil kunci mobil Sherlyn.


"Sher kamu kenapa?" tanya Jasmine sekali lagi, tapi Sherlyn hanya mengusap wajahnya kasar dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


"Nanti ya ka, aku bakal ceritain sama kaka, sekarang kaka mau ikut aku gak?" tanya Sherlyn dengan mengambil kunci mobil yang telah diambil asisten rumah tangganya. Lalu masuk kedalam mobil, Jasmine pun yang terlihat tergesa-gesa hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil, Sherlyn pun menyetir dengan kecepatan tinggi sambil menangis.


"Sher, aku aja yang nyetir!" tawar Jasmine tapi Sherlyn hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.


"Sher, sebenernya ini ada apa?" tanya Jasmine sangat penasaran tapi lagi-lagi tidak digubris oleh Sherlyn, Sherlyn hanya pokus menyetir dan mencari mobil Riski.


"Itu mobil Riski" ucap Sherlyn ketika melihat mobil sport warna merah milik Riski.


Tettt... Tett... Tett....


Bunyi kelakson mobil Shelyn ketika ada mobil yang menghalangi mobil Riski.


"Pak, minggir dong ini penting!" teriak Sherlyn dengan menurunkan kaca mobilnya lalu berteriak dengan kencang.


"Neng, emang ini jalan milik nenek moyang luh apa, sabar napa" omel sang supir dengan kesal tapi tidak digubris oleh Sherlyn.


"Sher, hati-hati kamu bisa nabrak nanti kalau kenceng-kenceng" nasehat Jasmine, tapi Sherlyn enggan untuk menurutinya.


"Sial, lampu merah" umpat Sherlyn, ketika akan berhasil menghadang mobil Riski yang berhasil lolos dari lampu merah.


"Ayo dong!" ucap Sherlyn dengan menangis yang kian menjadi.


"Sabar Sher!" ucap Jasmine tapi masih tidak membuat Sherlyn sabar.


"Akhirnya" ucap Sherlyn dengan langsung menancap gas mobil tapi sayang Sherlyn kehilangan jejak mobil Riski. Membuat Sherlyn lemas dan menghentikan mobilnya dipinggir jalan untuk menangis dan menenangkan dirinya.


Tiba-tiba panggilan masuk kembali di handphone Riski dengan nomer yang sama yang menelponya barusan, membuat Sherlyn menghentikan tangisanya lalu mengangkat panggilan masuk.


Bersambung


Maaf ya ka aku up telat, tapi aku gak janji ya bakal up lagi tengah malam, kalau aku gadang itu juga, Alafyu😍