LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Serba Salah



Warning!


Novel ini sedang tahap renovasi


mohon maaf bila kalian menunggu


Up terlalu lama.


------------------------------------------------


Cahaya matahari masih terik walaupun Hari sudah menjelang sore. kebetulan Riski pulang masih Sore Hari. Riski pulang ke Rumah Angel karna Angel terus menelpon dengan beralasan Haidar ingin bertemu dengan terpaksa Riski datang untuk sekedar menemui Haidar agar anak tersebut berhenti menangis.


"Kenapa lagi, sayang?" tanya Riski yang sudah mulai kesal, entah Haidar yang ingin bertemu atau Angel. batin Riski.


"Ayah, kata Ibu ngga bakalan pulang kesini" ucapnya dengan menahan tangisnya. sekarang Riski jadi bingung karna bagaimana pun. Riski juga memiliki Anak dan Istri, Riski tidak mungkin selalu disisi Haidar


"Kamu ngga becus banget Shi Gel, jadi Ibu" ucap Riski menahan emosi Karna kesanya Angel yang terus mengompori Anaknya, walaupun Riski tidak tau, kemauan anaknya menangis apa dibuat menangis oleh Ibunya.


"Kenapa, ko Kamu jadi Salahin aku" ucap Angel tidak mau disalahkan, Karna Riski terlihat mulai menyudutkan-nya.


"Emang Kamu salah, apa Kamu gak bisa bujuk Anak Kamu sendiri yang nangis?" Tanya Riski benar-benar jengkel.


"Bukanya Aku gak bisa, tapi Aku udah nyoba bujuk Haidar. Tetep aja haidar Nangis" elak Angel, Riski pun yang mendengarnya hanya mendengus kasar seolah Frutasi.


"Itu namanya gak becus, Angel" Ucap Riski menyalahkan, Angel pun yang mendengarnya tidak terima, karna bagaimana pun Angel telah berusaha.


"Kalau Kamu gak mau nemuin Anak Aku, Aku gak apa-apa, tapi jangan beralasan Aku gak becus jadi seorang Ibu" ucap Angel memanas tuduhan Riski telah mencabik-cabik hati Angel.


"Tapi. Haidar juga Anak Kamu" teriak Angel tidak mau kalah, Pikir Angel. Angel tidak mau kalah dengan keadaan. Riski pun yang mendengar ucapan Angel, terdiam meresap ucapan yang terdengar keras ditelinga, lalu sekarang Riski harus menjawab apa, kenapa semuanya Harus serumit ini disaat Riski ingin memperbaiki keadaan.


"Harusnya Kamu sadar! Kamu sudah lama membuang waktu Kamu Riski, tampa repot-repot melihat keadan Haidar, Sekarang saat hati nurani Kamu terpanggil untuk melihat Anak mu, Kamu masih memikirkan Keluarga Kamu yang jelas-jelas selalu ada kamu disampingnya, sedangkan Haidar juga butuh sosok seorang Ayah" jelas Angel tangisnya mulai peceh, saat Angel membeberkan sakit hatinya selama ini.


"Ayah, Ibu. Berhenti" Teriak Haidar yang sudah tidak tahan lagi melihat adegan yang meski tidak Haidar lihat sama sekali, sekarang Haidar menyaksinya bagaimana Rumitnya menjadi orang dewasa, mendengar berdebatan orang Tuanya sungguh menyiksa hatinya, pertengkaran orang tua bukan keingin bagi semua anak.


"Bila memang Kalian tidak menginginkan ku, kenapa aku dilahirkan?" Tanya Anak berusia lima tahunan yang sangat manja kepada orang taunya, sudah bisa bicara seperti itu kepada orang tuanya, seperti orang dewasa, karna memang Haidar selalu mendengar curhatan Anak diatas usianya, tentangan keluhan orang tuanya, persis seperti Haidar. membuat mulut kedua orang tuanya bungkam mendengar ucapan pedas anaknya. memang benar keduanya, tidak menginginkanya.


"Sayang" ucap Angel mendekati Anaknya dan ingin memberi pengertian tidak seharusnya anak seusianya berbicara seperti itu.


"Ibu dan Ayah tidak bermaksud seperti itu, Kamu jangan terlalu banyak mendengar ucapan orang lain" Nasihat Angel kepada Haidar, dibalas gelengan kecil oleh Haidar, seharusnya anak seperti Haidar harus diawas ketat oleh orang taunya, karna anak seusia itulah yang gampa mencerna ucapan orang lain.


"Tidak Ibu, temen ku selalu bercerita tentang kehidupanya seperti ini dan aku selalu mendengarkanya, Temen ku bila, dia anak yang tidak di inginkan" Ucap Haidar mencoba menjelaskan pipinya sudah basah dipenuhi dengan tangisan.


"Tapi Ayah dan Ibu menginginkan Kamu, Sayang" elak Angel, memcoba meyakinkan putranya, walaupun itu semua bohong.


"Benarkan Ayah?" tanya Angel kepada Riski, dibalas anggukan oleh Riski, akhirnya Riski pun bersuara.


"mana ada Orang tua yang tidak mengingkan Anaknya, Sayang" ucap Riski memeluk tubuh Haidar hangat, Riski sekarang sadar betapa berdosanya Riski selama ini.


"Kalau begitu. Ayah dan ibu jangan bertengkar lagi!" saran Haidar dengan tersenyum lebar memperlihat kedua lesung pipinya, Membuat keduanya merasa lega, apa karna Haidar masih kecil belum mengerti yang jujur dan yang bohong, dengan mudahnya anak kecil seperti Haidar percaya.


~dunia memaksa mu untuk berdamai dengan keadaan, sedangakan keadaan membunuh mu perlahan, badan mu dibanting, otak mu dicuci, Hati mu ditikam, tapi harus terlihat 'kuat' dihadapan orang lain~