
Kesokan Harinya Aku kembali ke Taman semula untuk bertemu bersama Haidar. aku ke Taman sendiri tampa ditemani dengan Baby Ayra. karna hari sudah mulai gelap tanda akan turun hujan akhirnya aku bergegas pergi ke Taman sendirian. sementara Ayra ku titipkan bersama ibu, hmm maksudku ibu Riski atau ibu mertua ku.
Entah kenapa aku sanagat penasaran dengan Haidar. itulah yang menjadi alasanku untuk pergi meninggalkan Ayra. walaupun tidak tega, tapi aku terpaksa. tadi aku sudah berjanji kepada ibu untuk pulang cepat. sekarang jujur saja aku masih gelisah karna Haidar belum datang ke Taman tempat aku duduk disini persis seperti kemarin, jam yang sama, posisi duduk yang sama hanya saja hari yang bertemu kemarin, cuaca sangat Cerah tapi terbalik dengan sekarang Hari terlihat muram.
"Ayolah" gunam ku sendiri dengan sesekali melirik Arlogi bermerek Gucci ditangan ku.
"Hai Tante!" sapa anak yang bernama Haidar membuyarkan kegelisahanku. ternyata benar anak itu menepati janjinya dengan cepat aku menatapnya dan mengajaknya untuk duduk disampingku. "kemana aja?" tanyaku dengan tersenyum lega kearahnya.
"Tante, dari tadi nungguin aku ya?" tanya Haidar nampak polos dengan senyumnya, aku baru sadar sekarang bahkan senyum anak itu sama dengan Riski. sama-sama memiliki kedua lesung pipi.
"Tante!" panggil Haidar bengong melihat aku yang hanya melamun dengan melihat wajahnya lekat.
"Iya sayang" jawabku dengan senyum canggung, lalu dibalas senyuman lebar oleh Haidar. "Tante dede bayinya mana?" tanya Haidar yang baru saja sadar, bila aku tidak membawa Ayra. "Ayra lagi sama neneknya" jawabku apa adanya, Dibalasan tatapan sedih oleh Haidar, loh kenapa sedih, apa anak itu sedih bila aku tidak membawa Ayra, atau aku menyinggungnya.
"kamu kenapa ko sedih?" tanyaku lembut dengan menyusap Kepala anak pintar di depanku. "Aku ngga sedih, tante" Ucapnya mencoba terlihat baik-baik saja, Ya tuhan anak ini ternyata pintar juga menyembunyikan kesedihan.
"Kamu ngga percaya ya sama tante, sampe kamu ngga mau cerita" ucapku dengan berlagak marah, Kenapa aku harus sekepo ini dengan urusan anak kecil."Bukan gitu tante" ucapnya dengan menundukan kepala, membuat aku merasa bersalah.
"Duh jangan nangis tadi tante bercanda ko, maafin tante ya buat kamu jadi sedih!" ucapku dengan mengangkat dagunya dan mengelus-elus sayang kepalanya.
"tante ngga salah ko, aku cuman sedih aja. aku gak punya Nenek sama Kake kaya orang lain, bahkan aku juga gak punya Ayah" ucapnya Dengan air mata yang menetes dimatanya, ucapan Haidar seketika membuat hatiku sangat terasa sakit saat mendengarkanya.
"Udah jangan nangis!, pasti kamu punya Nenek sama keke. Bahkan kamu juga punya Ayah sama kaya orang lain" ucapku memcoba menghiburnya dan menghapus air matanya
"Tapi Haidar ngga pernah ketemu mereka, Haidar ngga tau wajah mereka" ucapnya dengan Tangisan yang membasahi pipinya, sekarang aku tau begitu berat keingin untuk bertemu dengan mereka lewat tangisanya yang memilukan.
"Emang kamu ngga pernah tanya sama mama kamu?" tanyaku dengan memeluk tubuhnya hangat. Rasanya aku juga ini menangis sekarang. "ibu ku selalu sibuk dengan pekerjaanya, pulang malam dan siangnya selalu tidur" jelas Haidar dengan menangis di pelukanku, Sungguh sekarang aku tidak kuat untuk tidak menitihkan air mata, Anak sekecil Haidar harus merasakan korban orang tua dan aku dulu akan melakukan kepada Ayra untung saja, aku menurut apa kata keluargaku.
"Tante, orang lain bilang pekerjaan ibu bukan pekerjaan wanita baik-baik" celotehnya membuat dada ku merasa sesak, sebagai wanita aku sakit hati, bila memang benar pekerjaan ibu Haidar bukan pekerjaan wanita baik-baik, kenapa orang lain harus tega mengatakanya kepada anak kecil seperti Haidar.
"Sussstttt!!!"
"kamu ngga boleh ngomong gitu gak baik!" ucapku dengan telunjuk menutup bibir Haidar untuk tidak melanjutkan perkataanya.
"Tapi, banyak orang yang bila begitu tante" ucapnya bersikukuh dengan menghempas pelan telunjuk ku.
"Jangan didengerin ya apa kata orang lain!" titahku lembut dengan mengusap pelan kedua pipi Haidar. "mereka itu gak tau apa-apa, bagaimana pun ibu Haidar, tetep itu ibu Haidar yang melahirkan Haidar" ucapku memberi pengertian dengan tersenyum. Haidar pun hanya mengangguk patuh, Ya tuhan malang sekali nasib Anak ini.
"Kalau gitu udah ya nangisnya!, sekarang kita beli Es cream" ajak ku dengan mengahapus sisa Air mata Haidar. membuat Haidar sedikit tersenyum.
"Ayo!" ajak ku menggengam lembut tangan Haidar, Haidar pun yang digenggam hanya pasrah sesekali berceloteh saat dijalan.
*bantu like sama komentar nya ya ka, like sama komentar gratis ko, jangan lupa juga untuk vote sebanyak-banyak dan beri bintang 5 buat Authour semangat nulisnya, Terimakasih*.
kritik & saran
IG:TariWidury1
FB:Tari inong
mohon maaf ya ka aku up gak tentu, tapi diusahakan up tiap hari ya ka. Terimakasih sudah membaca😍