
Setelah beberapa saat setelah kemajuan pada Sherlyn, Riski semakin tidak ingin jauh dari Sherlyn. Bahkan untuk makan dan beristirahat pun rasanya Riski engga bila tidak dipaksa oleh Jasmine dan Adam. Sekarang Riski tengah duduk dengan memegangi tangan lembut Sherlyn dan sesekali mencium tanganya serta mengusap-usap lembut.
"Sher, Aku udah kangen banget sama kamu" bisiknya pelan bahkan nyaris tidak terdengar, Riski pun semakin kuat memegang tangan menahan rindunya.
"Sher. Aku tau kamu pasti dengerin aku, ayo dong Sher bangun! jangan kaya gini mulu" ucap Riski dengan meneteskan air mata, entah kenapa bila Riski sedang bicara berdua dengan Sherlyn, Riski tidak bisa menyembunyikan sakit hatinya dan penyesalanya.
"Sayang" panggil Riski dengan mengecup penuh cinta kening Sherlyn. Sherlyn yang mendengarnya pun lagi-lagi meneteskan air mata karna terharu mendengar perkataan Riski serta merasakan air mata yang selalu menetes ditangan Sherlyn disaat Riski bicara dengan Sherlyn. Karna terlalu lelah dan sering bergadang untuk menjaga Sherlyn Riski pun sampai tertidur dengan memeluk tangan Sherlyn dengan air mata yang mengering.
Sherlyn pun mulai membuka matanya pelan menyesuaikan dengan cahaya lampu dikamar inapnya dan melirik dengan ujung matanya, melirik suami yang selalu setia menjaganya disaat ia tidak saadarkan diri.
"Riski" panggil Sherlyn pelan, bahkan sangat pelan tapi masih terdengar oleh Riski.
"Sherlyn" panggil Riski langsung terbangun dengan perasaan bahagia karna baru saja melihat istrinya membuka matanya.
"Haus" ucap Sherlyn nampak lemas. Riski pun cepat-cepat mengambil air mineral dengan sedotan didalamnya dan memimunkanya kepada Sherlyn.
"Terimakasih Ya Allah, kau telah mendengar doa ku selama ini" puji syukur Riski dengan senyum yang merkah sempurna diwajahnya.
"Dokter" ucap Riski baru teringat dan lari keluar kamar untuk memanggil dokter agar memeriksa istrinya yang sudah sadar.
"Sus, istri saya sudah sadar" ucap Riski setengah berteriak karna saking senangnya.
"Baik pak, kalau begitu saya akan memanggil Dokter terlebih dulu" ucap suster sama bahagia, karna memang suster tersebut suster yang sering menangani Sherlyn. Riski pun yang mendengar hanya mengangguk dengan memperhatikan suster yang tengah berlari kecil menuju ruangan dokter yang menangani Sherlyn. Setelah menunggu beberapa menit datanglah Dokter berserta suster yang mengekori Dokter dari belakang dan menghampiri Riski.
"Dok, istri saya sudah sadar" ucap Riski kegirangan, disambut senyum bahagia oleh sang Dokter.
"Ayo!, Tuan saya akan memperiksa keadaan istri tuan" ucap sang Dokter, dibalas senyuman oleh Riski, Riski pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan istri tercintanya. Akhirnya Dokter pun memeriksa keadan Sherlyn dan ternyata hasilnya membuat Riski bahagia keadaan Sherlyn sudah stabil dan membaik.Setelah selesai memeriksa Sherlyn dan memberi tahukan kabar baik Dokter pun berpamitan dan pergi dari ruangan Sherlyn, menyisakan Sherlyn dan Riski diruangan tersebut.
"Sher, maafin aku" ucap Riski dengan memegang kedua tangan Sherlyn lembut dengan pandangan setia melihat Sherlyn yang masih lemas.
"Aku bener-bener gak sanggup Sher, kalau kehilangan kamu. Aku gak bisa hidup tampa kamu" ucap Riski dengan menciumi tangan Sherlyn penuh cinta, Sherlyn pun yang diperlakukan sedemi kian rupa hanya meneteskan air mata tampa berkata.
"Sher, aku bener-bener gak bisa lihat kamu kaya gitu lagi" ucap Riski kian melepas diiringin air mata yang menetes dari pelupuk matanya, membanjiri tangan putih nan mulus Sherlyn .
"Aku baik-baik aja ko" balas Sherlyn dengan tersenyum manis, melupakan kejadian waktu penembakan yang membuat ia masih trauma dengan kejadian tersebut.
"Gimana, kamu bilang kamu baik-baik aja Sher, kemarin kamu koma selama 10 hari" ucap Riski dengan menangis semakin deras, Riski tidak perduli Sherlyn mau menganggapnya lelaki yang lemah atau bagaimana pun, yang pasti Riski merasa terluka bila harus mengingat kejadian yang menimpang Sherlyn.
"Kamu gak perlu nyalahin diri kamu terus menerus dengan kejadian yang menimpa aku ki! sekarang kamu cuman harus jadi lebih baik lagi, aku gak mau kamu terus meratapi kebodohan kamu itu. Sedangkan sekarang keadaan aku sudah membaik" ucap Sherlyn dengan menatap mata hitam Riski dalam, Sherlyn pun sama terlukanya bila terus melihat Riski menangis dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Tapi sekarang aku masih aja ngerasa jadi laki-laki yang bodoh, Sher" ucap Riski dengan menyusap air matanya kasar.
"Kamu gak bodoh ki! ini semua udah takdir yang udah, udah aja gak usah diinget lagi" ucap Sherlyn dengan memaksakan bibirnya untuk melengkung, sebenarnya Sherlyn pun masih ngeri bila mengingat kejadian yang menimpanya yang berujung Sherlyn koma. Riski pun yang hanya menurut dan mengangguk pelan, sebenarnya Riski ingin mengucapkan semua rasa kecewa dan amarah padanya, kepada Sherlyn tapi Riski masih mengingat bahkan Sherlyn belum sembuh total dan harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran.
"Yaudah, aku gak bakal inget semua itu lagi. Tapi asal kamu istirahat dulu ya Sher!" titah Riski dibalas anggukan lemas oleh Sherlyn, Riski pun mulai membenahi tidur Sherlyn dan menyelimutinya sampai dada.
"Sekarang kamu tidur dulu ya sayang! nanti kamu aku bangunin ya buat makan sama minum obat" ucap Riski dengan mengelus-elus puncak kepala Sherlyn manja, lalu menciuminya. Sherlyn pun lagi-lagi hanya mengangguk dengan memegang ujung selimut erat, saat pikiran Sherlyn terbayang dengan meluruh yan menancap dipunggungnya.
~
Sedangkan dilain tempat.
Angel sudah masuk kedalam sel menjadi tahanan. Karna sudah terbukti melakukan tindak kejahatan berupa tindak kriminal pembunuhan berencana. Hari-hari Angel, Angel jalani dengan mengeluh walaupun mengeluh tidak ada gunanya. Tapi Angel masih tidak terbiasa dengan tidur diubin tampa alas, didalam sel yang sempit belum lagi ketambah suasa sel yang kurang bersahabat baginya dan orang didalamnya, membuat Angel semakin tidak betah dan berharap ada sedikit keajaiban seseorang mau untuk menolongnya, tiba-tiba seseorang petugas membuka kunci sel dan memanggil nama Angel, Angel pun yang dipanggil hanya mengangguk dan menghampiri petugas.
"Nona Angel ada yang ingi menemui Anda" beri tahu seorang petugas perempuan, Angel pun hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mengikuti langkah kaki sang petugas.
"Kamu! mau apa kesini?" tanya Angel sedikit meninggikan suaranya, tapi tak diurungkan untuk duduk dikursi yamg telah tersedia.
"Aku kesini hanya ingin melihat kamu saja Angel, apa kamu betah disini?" tanya Tio dengan menatap detail Angel yang berpenampilan lusuh.
"Sekarang kamu suka kan melihatnya? tunggu apa lagi silahkan kamu pergi, aku baik-baik saja disini" ucap Angel kian melemas dikalimat 'baik-baik saja disini' karna semuanya bohong, Angel tidak baik-baik saja berada disana dan jauh didalam hati kecilnya Angel menjerit ingin keluar.
"Apa kamu yakin Angel kamu baik-baik saja disini?" tanya Tio dengan senyum meremehkan, sebenarnya Tio pun merasa iba dengan keadaan menyedihkan Angel tapi mau bagaimana lagi, Tio tidak bisa berbuat apa-apa sekarang karna memang benar adanya Angel wajib untuk dihukum.
Bersambung.