
Warning!
Novel ini sedang tahap renovasi
mohon maaf bila kalian menunggu
Up terlalu lama.
------------------------------------------------
Kejadian kemarin benar-benar membuat ku lelah sekaligus down berat. Hidup menjadi Rumit sangat Rumit, serumit-rumitnya. lagi-lagi aku harus menelan pil pahit akibat kebodohan ku sendiri, jujur saja aku benar-benar menyesal, rasanya aku ingin bernegosiasi kepada Tuhan sekarang untuk mengakhiri hukumanku. iya hukum Karma itu benar nyata adanya dan tidak bisa dihindari.
Tapi aku sudah berjanji pada Anak dalam kandunganku, aku tidak akan mengeluh lagi dan tidak akan putus asa, aku harus kuat karna didalam rahimku ada anak yang akan lahir kedunia.
Drrrrrrtttttttttt Drrrrrrrrrtttttt
Tiba-tiba getaraan Hendphone membuyarkan lamunanku ternyata ada Telpon yang masuk. nomer tidak dikenal, aku sempat ragu mengangkatnya, tapi akhirnya ku geser juga tombol hijau pada layar dan mengarahkanya pada telingaku.
"Hallo" sapa ku saat tersambung didalam panggilan telpon.
"Kemana pun Kamu pergi, aku akan terus mencarinya Sherlyn" ucap Pria itu dingin. terdengar menusuk di indra pendengaranku. sekarang aku mulai takut Dokter gila itu, benar, tidak macam-macam akan ancamanya.
"Kamu, tau dari siapa nomer hendphone ku?" ucapku gemetar. Iya benar itu Riski yang menelponku.
"Itu tidak penting Sherlyn, kenapa Kamu tidak menempati janji mu, kamu malah kabur dariku?" tanya Riski seperti membentak membuat aku tersentak kaget.
"Apa Kamu mau bermain-main dengan ku Sherlyn?, bila benar akan aku tunjukan bagaimana permainanya" ucap Riski benar-benar membuat aku merinding, Sepertinya Dokter gila itu sangat murka.
"Bu-bu-kan mak-mak-sudku sep" ucapku ambigu lebih dulu dipotong oleh Riski.
"Maksud Kamu apa Sherlyn?,aku tidak mau tau!, sekarang temui aku ditaman dekat rRmah mu!" ucap Riski tidak mau dibantah. "hanya Kau sendiri!" sambungnya lagi
Aku hanya terdiam dan meneguk ludah ku kasar, lalu saat akan menjawab si Dokter gila itu sudah lebih dulu mematikanya.
"Arggghhhhhh" erang ku kesal.
"sudah ada masalah lagi" gunamku dengan menyusap wajah ku Frustasi.
Sekarang rasanya aku ingin mati saja. Aku lelah akan masalah, masalah hanya masalah dalam hidupku, tapi tidak jadi setelah aku melihat perut buncitku.
~
sekarang aku sudah melihatnya. Riski tengah duduk dibangku besar dekat pohon besar, Sekarang aku mulai gugup bercampur takut, tapi aku harus memberanikan diri untuk menyapa atau pun sekedar mendengar ocehanya, si gila itu benar-benar lebih menakutkan dari Ayahku.
"Hai" sapaku sekedar basa-basi. Riski pun langsung mengarahkan pandanganya pada ku lalu menatap ku dengan tajam.
"Duduk!" pintanya, aku hanya menuruti apa katanya dan tidak ingin membantah. walaupun rasa takut terus menyelimuti tubuh ku.
"Sherlyn apa Kau mau bermain-main lagi denganku?" tanya Riski sekali lagi dengan terus menatapku dengan tajam. sepertinya lebih baik aku mengalah.
"Maaf" ucapku singkat dengan nada bersalah yang dibuat-buat. lebih baik aku cari aman saja sekarang.
"Jangan menunduk!, lihat mata aku Sherlyn!" ucap Riski. lalu mengangkat daguku, untuk melihat kematanya, Mata Hitam pekat tajam seperti elang, rasanya aku ingin kabur sekarang, tidak tahan mentap matanya, Aku seperti di interogasi sekarang olehnya.
"Aku mencintai mu, Sherlyn" ucap Riski lirih kini matanya yang tajam menjadi sendu. membuat hatiku sedikit terenyuh karna pengakuan. tidak, aku tidak boleh terbuai lagi untuk sekian kalinya, semua itu hanyalah sandiwara Sherlyn, tapi tatapan matanya memancarkan keyakinan, membuat aku bingung, aku tidak bisa membedakan antara Riski bersandiwa atau asli.
"Aku tau Sherlyn, kamu masih ragu" ucapnya lirih dan apa yang terjadi sekarang dia memeluku erat, walaupun dengan jarak, menjaraki perutku.
"Tapi aku akan mencoba meyakinkan kamu, kalau aku sekarang benar-benar cinta sama Kamu" ucap Riski sendu dengan mengecup puncak kepalaku.
"Cinta Atau Obsesi semata Riski?" tanyaku begitu saja keluar dari mulutku, sekarang aku tidak bisa menahan buliran bening yang jatuh dipipiku, jujur saja Riski akupun masih mencintamu, tapi aku terlalu bodoh bila berharap lebih kamu bisa mencintaiku, buktinya kamu diam saja tidak bisa menjawab.
"Kamu tidak bisa menjawabkan?" tanya ku dengan senyum amatir, sedangkan Riski masih membatu dengan pertanyaanku.
"Ternyata aku telah berhayal terlalu jauh, sekarang yakinkan dulu hati mu Riski!"ucap ku melangkah pergi menjauh dari Riski, tapi sebelum pergi. "Selamat tinggal Riski, jangan cari aku sebelum kamu sudah yakin akan hati mu" sambungku lalu benar-benar pergi dari hadapanya.
~Aku yang mencintai mu dalam ANGAN dan Kamu yang menganggapku sekedar angin, Entah hati mu yang terlalu dingin, atau hatiku yang terlalu INGIN~
*bantu like sama komentar nya ya ka, like sama komentar, gratis ko, jangan lupa juga untuk vote sebanyak2, dan beri bintang 5, buat Authour semangat nulisnya, Terimakasih*
Saran dan Kritik
IG:TariWidury1
FB:Tari inong*******