LOVE OR OBSESSION

LOVE OR OBSESSION
Bangun!



Setelah Tio menunggu Angel sadar sekitar 2 jaman. Akhirnya Angel pun mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu ruang inap. Mata Tio tidak sedikit pun berpaling melihat Angel yang mulai sadar membuat Tio harus mati-matian meredam emosinya agar tidak melukai Angel secara fisik.


"Tio!" panggil Angel pelan nyaris tidak terdengar, Angel pun sudah bisa melihat amarah Tio lewat matanya yang memancarkan api kebencian.


"Maaf!" sambungnya dengan meneteskan air mata dan badan Angel gemetar hebat karna ketakutan.


"Untuk apa?" tanya Tio dengan menyilangkan kedua tanganya diatas dada, tapi pandanganya masih tetap pada Angel.


"A-anak ki...," ucap Angel ambigu dan lebih dulu terpotong oleh Tio.


"Kenapa sama anak dalam kandungan kamu? hah?" tanya Tio dengan berusaha tegar agar tidak mengeluarkan air mata.


"Dia udah gak ada" ucap Angel lemas, bahkan Angel pun kesulitan untuk berkata, suaranya terasa tercekat ditenggorakan.


Plak...


Satu tamparan sukses mendarat dipipi Angel dengan kencang, disitulah emosi Tio mulai tak terkendali, amarahnya menjadi memuncak saat Tio mendengar ucapan Angel.


"Aku tau aku salah Tio maafin aku!, aku sama sekali ngga niat buat bunuh anak kita" ucap Angel telah menyesali berbuatanya yang diluar kendali dengan meminum-minuman keras hingga membuat nyawa anak dalam kandungnya melayang.


"Angel kamu itu pembunuh! kamu udah mau mencoba membunuh Riski tapi gagal dan sekarang kamu malah membunuh anak yang belum lahir kedunia" ucap Tio marah tapi ucapan Tio menjadi melemas dikalimat 'membunuh anak yang belum lahir kedunia', air mata Tio pun keluar kembali tampa diminta. Sungguh Tio merasa sangat terpukul walaupun bener atau tidaknya anak dalam kandungan Angel adalah anaknya, tapi yang namanya membunuh anak yang tidak tau apa-apa bahkan belum lahir kedunia itu menjadi kejahatan yang paling Tio benci.


"Kamu itu Iblis berbentuk manusia Angel, mana mungkin manusia bisa setega itu" ucap Tio dengan menangis, bahkan Tio sekarang sudah lupa akan sikapnya yang dulu begitu bengis kepada Angel saat menangis seperti itu. Membuat Angel merasa semakin bersalah, sekarang rasa takut serta penyesalan tengah ia rasakan.


"Aku berani bersumpah aku sama sekali ngga niat bunuh anak kita Tio. Ngga! ngga! sama sekali" ucap Angel dengan menangis mengacak-acak rambutnya frustasi, Tio pun yang tengah sendu menatap Angel tajam seakan mengisayratkan berhenti menangis.


~


7 hari setelah kejadi penembakan.


Sherlyn masih tetap belum membuka matanya, masih betah memejakan matanya. Riski masih setia menunggu Sherlyn setiap harinya walaupun harus melupakan pekerjaanya, waktunya, makan dan tidurnya. Tapi itu semua tidak membuat Riski sedikit pun mau meninggalkan istrinya yang tengah terpejam, terkadang wajah tenang saat Sherlyn seperti itu menjadi penyamangat saat rasa terpuruk melanda dalam hatinya.


"Sayang, ayo cepetan bangun Ayra kasian pasti udah kangen sama kamu" bisik Riski tepat ditelinga Sherlyn dengan mengelus-elus rambut Sherlyn sayang, ia inilah kegiatan Riski hari-hari ini mengajak Sherlyn bicara berharap penuh Sherlyn mau membuka matanya.


"Sayang, kalau kamu masih betah kaya gini. Gimana sama aku dan Ayra" ucap Riski beralih dengan memegang tangan Sherlyn dan menghujaminya dengan ciuman, diiring dengan air mata, entah kenapa saat Riski berusaha bicara kepada Sherlyn walau pun percuma tidak ada sautan dari Sherlyn. Riski selalu teringat dengan kebodohanya yang berakhir dengan berbaring tak berdaya istrinya.


"Sayang, ayo dong bangun! jangan tidur mulu, Nanti kalau kamu bangun aku janji bakal lakuin apa pun yang kamu mau" ucap Riski dengan memeluk tangan Sherlyn dan menepelkanya dipipinya.


"Nanti, aku bakalan beliin bunga lily yang banyak buat kamu dan aku juga janji gak bakalan beli bunga mawar putih lagi buat kamu, asal kamu bangun. Sher" ucap Riski dengan tersenyum miris saat mengingat kenanganya bersama Sherlyn. Tampa Riski sadari ada dua pasang mata yang tengah meneteskan air mata yang sedang melihatnya. Yaitu orang tersebut adalah Adam dan juga Jasmine, Mereka pun mendekati Riski untuk memberi semangat.


"Ki!" panggil Jasmine dengan memegang pundak Riski pelan, menyadarkan Riski bahwa diruang tersebut bukan hanya ada Riski seorang.


"Kenapa Jasmine?" tanya Riski dengan mengahapus air matanya dan memberikan senyuman seakan senyuman kekuatan, tapi sayang itu semua bohong. Bahkan Jasmine dan Adam pun sudah mengetahuinya.


Bersambung


Maaf ya ka aku telat updet, pasti kalian bosen banget denger aku minta maaf, tapi gmna lagi ka, aku bener-bener sibuk:((, sebenarnya novel ini tinggal 2-3 capter lagi bakal tamat, jadi jangan bosen tunggu aku up ya, Alafyu pokonya😍