Living with Him

Living with Him
Serpihan 71



Tak ingin membuang waktu, aku segera mandi. Seperti sudah sekian tahun berkubang dalam lumpur, kurasakan seluruh kotoran rontok dari badanku saat air berpadu sabun membasahi tubuh. Akhirnya kurasakan kembali decit kulit yang beradu, kesat laksana panci yang baru digosok dari lemak. Untuk beberapa lama aku kehilangan kewaspadaan, hingga aku tersadar bahwa di sini bukanlah tempat aman untuk menikmati ritual membersihkan diri.


Berbalut handuk, aku mengintip ke kamar, memastikan tak ada siapapun di sana. Kosong. Aku berjalan mengendap, khawatir menimbulkan bunyi sementara tubuhku tak tertutup sempurna. Sehelai gaun hitam selutut tergeletak di atas kasur, lengkap dengan pakaian dalam. Dengan cepat aku mengenakannya, kemudian mengeringkan rambut dan menyisirnya.


Aku menatap kasur yang seolah memanggil tubuhku agar rebah di atasnya. Kelembutannya tampak nyaman untuk mengusir penat yang ada. Hampir saja aku tergoda untuk berbaring, tetapi akal sehatku tiba-tiba mengetuk kesadaran akan adanya bahaya. Bukan berarti aku mencurigai Naren, dia terlalu baik dengan semua pertolongannya. Aku hanya masih trauma dengan kejadian kemarin, saat Om Cahyo nyaris saja merebut keperawananku.


Tunggu dulu. Kemarin? Ah, aku tak percaya semua kejadian luar biasa yang kualami baru saja melewati sekitar dua puluh empat jam lebih.


Mengusir hasrat ingin beristirahat, aku membuka pintu dan mencari Naren. Aroma daging bakar memenuhi ruangan, membangkitkan emosi lambungku yang kosong entah sejak kapan. Kakiku otomatis melangkah ke sumber makanan. Hingga aku tersadar, sepasang mata dari wanita berkebaya hijau seolah mengikuti setiap gerakanku, membuatku bergidik dan seketika berlari.


Foto berikutnya adalah empat anak laki-laki berseragam putih biru sedang duduk bergerombol sambil bermain gitar. Satu yang kurus sedang bermain gitar kutebak adalah Naren. Di sampingnya, seorang anak berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Rahang tegas berpadu dengan sorot mata tajamnya yang seolah menembus kamera membuatku yakin dia adalah Rezvan. Hatiku berdesir demi melihat gambarnya semasa muda dulu. Terkesan lugu, tetapi tetap tak meninggalkan ketegasan yang mengintimidasi. Tanpa sadar, tanganku seolah bergerak sendiri mengangkat foto berbingkai kayu itu. Aku begitu penasaran, ingin mengamati lebih dekat sosok yang telah menghuni ruang hatiku.


Sehelai kertas terlipat dua yang tak kuperhatikan sebelumnya berada di bawah foto, seketika melayang di udara. Aku berusaha menangkapnya, tetapi tak berhasil hingga lembaran itu jatuh di atas punggung kakiku. Tak ingin menghilangkan dokumen penting milik Naren, aku segera memungutnya. Tanganku memegang salah satu sudutnya hingga tanpa sengaja kulihat kertas itu terbuka. Di dalamnya, tampak tulisan bersambung yang rapi seperti yang biasa digunakan di rapot SD dahulu. Sekilas kulihat ada nama Pak Harjanto di bagian awal, kemudian Rezvan, dan --mataku menyipit untuk melihat kata yang tak asing, namaku?


Hatiku mencelos ketika kertas itu tiba-tiba melesat dari jimpitan jemariku. Jantungku berdetak kuat melihat kertas itu kini berpindah ke tangan panjang yang langsung meletakkannya di meja. Aku berbalik dan tubuhmu terasa lemas melihat Naren telah berdiri di belakangku. Wajahnya yang merah dengan mata melotot, ditambah dadanya naik turun dan tangannya terkepal erat membuatku gemetar hebat.


"Ngapain kamu di sini?" geramnya.