Living with Him

Living with Him
Serpihan 5



Oh, tidak! Ini … gila! Ya Tuhan, pikiran apa itu? Beraninya masuk ke otakku!


Hawa dingin membelai setiap inci kulitku, membuatku sadar bahwa aku belum memakai baju. Buru-buru aku berlari ke lemari dan mengenakan sehelai blus putih dengan motif titik merah kecil berpadu dengan celana panjang hitam. Kusisir rambutku yang kusut dan membubuhkan bedak tipis ke wajah. Kupandangi lagi gadis yang berdiri di balik cermin, pantulan diriku. Begitu layu, kusam, dan kehilangan aura semangat.


Dering ponsel kembali menyentakku. Semula kupikir Ibu yang terlupa mengatakan sesuatu, tapi ternyata bukan. Panggilan masuk itu berasal dari Dokter Henry. Ya ampun! Aku sampai lupa meneleponnya tadi!


"Tan, saya ada operasi cito, nggak bisa ke rumah Mas Harjanto. Selang NGT-nya kamu aja yang pasang ya," seru suara berat milik dokter tua itu. 


"Nggak apa-apa, Dok, saya yang pasang? Pak Harjanto tadi bilang nggak mau dipasang selang lagi, Dok. Maunya makan sama minum langsung," jelasku.


"Belum bisa! Kamu pasang aja, kalau dia nggak mau, telepon saya. Saya ngomong langsung sama dia," perintah Dokter Henry tegas.


"Baik, Dok."


"Kalau ada apa-apa kabari saya secepatnya, ya!"


Sambungan terputus. Dokter Henry memang terkenal lugas, tak pernah berbasa-basi. Mungkin itu memang dibutuhkan oleh dokter ahli bedah yang sigap dan cekatan.


Aku menarik napas panjang di depan cermin. Kutarik sudut bibirku ke kiri dan kanan, mencoba tersenyum setelah badai yang baru saja menghantam hatiku. Aku melakukan kembali teknik relaksasi yang sebelumnya berhasil menenangkanku di kamar mandi. Setelah wajahku kembali normal, aku bergegas keluar kamar. 


Sepi. Hanya deretan sofa yang terpajang rapi di tengah ruangan berikut lampu hias tergantung megah. Porselen dan keramik bertengger di setiap sudut seolah berbisik, "tak ada siapapun di sini."


Mengendap-endap, aku menyusuri sepanjang ruang utama menuju dapur. Bi Iyem tak ada di tempat ia biasa berdinas. Dalam hati aku berharap semoga wanita itu tak mendengar jeritanku tadi. Harus ditaruh dimana wajahku jika insiden itu sampai tersebar luas di rumah ini. 


Aku menjerang air panas di atas kompor. Sambil menunggu air mendidih, kutarik kursi pijakan untuk menjangkau rak atas. Kuambil kaleng susu yang menjadi satu-satunya sumber nutrisi Pak Harjanto. Aku tercekat saat menyadari bubuk minuman itu hanya cukup untuk saat ini. Biar nanti aku naik motor ke apotik yang terletak di jalan raya, sekalian melarikan diri sejenak dari belenggu masalah yang menyiksa.


Tak butuh waktu lama untuk derit ketel berbunyi, menandakan air sudah masak. Kumatikan kompor dan menunggu beberapa saat hingga suhu air sekitar tujuh puluh derajat. Tanganku seolah bergerak sendiri menyeduh susu, sedangkan pikiranku berkelana tentang keruwetan hari ini. 


"Aduh!"


Cipratan setetes air panas di lengan membuyarkan lamunanku. "Fokus, Kintana!" pekikku dalam hati. Aku tak ingin kehilangan pekerjaan kalau sampai melakukan kesalahan.


Aku berjalan hati-hati menuju kamar Pak Harjanto sambil membawa nampan berisi segelas susu dan air putih. Gemetar, aku berusaha mengendalikan diri agar minuman yang kubawa tidak tumpah. Tak lupa mataku beredar ke penjuru ruangan, memastikan tak menemui siapapun dalam kondisi seperti ini. 


Susah payah kubuka pintu kamar Pak Harjanto sambil memegang baki dengan satu tangan. Aku mengendap masuk, khawatir mengagetkan pasienku yang mungkin sedang tertidur. Namun bodohnya, aku yang terkejut melihat cowok yang tadi masuk ke kamarku sedang duduk di samping pria tua itu. Pandangan kami kembali beradu, mengulangi kejadian memalukan beberapa saat lalu. 


Oh, sial!