
Menyorotkan cahaya redup penlight ke sekeliling ruangan, aku terhenyak melihat berbagai alat kesehatan berserakan di lantai. Astaga, apa baru saja terjadi gempa bumi? Jantungku berdebar kuat seiring firasat yang muncul ada sesuatu yang tidak beres. Kembali keluar, aku semakin mengeraskan suara demi menyebut nama semua penghuni rumah.
Hawa dingin yang masuk melalui pintu terbuka menegakkan bulu kudukku. Aku berjalan cepat menuju kamar Bi Iyem yang terletak di samping dapur, sambil terus mengawasi sekitar. Bayangan rak dan vas bunga yang terpapar cahaya penlight membuatku terlonjak, sementara tanganku refleks memegangi tengkuk. Entah udara yang semakin menipis atau efek konstriksi pada bronkiolus, aku merasa napasku semakin berat.
Pintu kamar Bi Iyem setengah terbuka begitu aku tiba, tetapi tetap tak ada suara yang menandakan dia ada. Bau anyir pekat menyeruak di hidungku, membangkitkan rasa takut yang sejak tadi berusaha kusembunyikan. Langkah kakiku semakin berat saat memasuki ruangan hitam pekat tanpa setitik sinar pun tersisa. Kuarahkan penlight ke bawah, tempat di mana benda besar dan kenyal terasa mengganjal pintu yang kudorong dengan kuat. Seketika aku terhenyak dan berteriak keras hingga mundur dan tersandung kakiku sendiri, membuat satu-satunya sumber cahayaku terlempar ke lantai.
Tanganku meraba ubin dengan gemetar, sementara jantungku tak henti berdebar. Keringat dingin membanjiri tubuhku, disertai seluruh sendiku terasa kaku. Aku berhasil meraih penlight yang menyorot lebih terang sehingga dapat mengenali wajah putih pucat dengan rambut menjuntai tergeletak di lantai, tersembul dari balik pintu.
Bi Iyem!
Mengusir keraguan yang membelit, aku beringsut mendekati tubuh yang tak bergerak. Dadaku naik turun saat napasku terengah-engah ketika berada di dekatnya, melawan ketakutan yang membuatku ingin mengeluarkan air mata. Kuarahkan telunjuk dan jari tengah tangan kananku menekan arteri karotisnya, sementara kepalaku di depan hidungnya. Tak dapat kubendung lagi tangisan bahagia saat jemariku menemukan adanya denyutan serta pipiku merasakan helaan napas.
“Bibi! Bibi! Bangun, Bi!” jeritku terisak sambil menggetarkan tangan di atas tulang dadanya.
“Arrghhhh!”
Aku berteriak keras, tanganku tak lepas menutupi wajah. Jantungku seolah baru saja dijatuhi bom yang meledak dan memporakporandakan emosiku. Tubuhku belingsatan, spontan menjauh dari pemandangan yang nyaris membuatku kehilangan kesadaran. Nama Rezvan berulang kali kusebut hingga suaraku serak. Rasa dingin menjalar dari kaki hingga kepalaku saat aku menangis dan menjerit-jerit.
Setitik cahaya berpendar menyilaukan mataku. Sontak aku berlari menghampirinya dan memeluk Rezvan yang datang tepat waktu. Aku menangis di dadanya yang terbalut kemeja dan jas rapi, tak kuasa menceritakan apa yang terjadi. Tak ada suara menenangkan yang ia keluarkan untuk menghiburku seperti biasa, membuatku terhenyak.
Tunggu dulu! Jas dan kemeja? Siapa dia?
Aku mendongak dan seraut wajah asing menyeringai lebar di atasku. Dalam satu gerakan cepat, tangannya membekap mulutku sebelum aku sempat berteriak.
Memoriku mengantarkan sekelebatan ingatan tentang kejadian di hutan tadi. Dia ... orang yang tadi mengejar kami! Astaga! Bagaimana bisa ada di sini? Semoga dia tak menemukan Rezvan sehingga pria itu bisa selamat.