
Aku menggeliat dan terasa tanganku menyentuh besi berlapis beludru. Mataku terbuka perlahan, mengerjap sekilas sebelum akhirnya menyesuaikan dengan cahaya gelap di depanku. Kepalaku terasa ringan, walau tubuhku terasa pegal dan kaku. Sambil menguap, tubuh bagian atasku melakukan peregangan ringan dengan merentangkan tangan ke kanan dan kiriku.
Telapak tanganku yang bergerak liar seketika abduksi begitu merasakan ujung tajam yang tak menimbulkan sakit. Sontak aku menoleh dan terhenyak mendapati sosok yang duduk dibalik kemudi, sedang tersenyum manis ke arahku. Aku terbelalak tegang, spontan menjauh darinya hingga membentur pintu berkaca di belakangku. Bunyi gemerisik plastik yang terjun dari pangkuan membuat otakku meniti kembali ingatan yang sempat terputus.
“Sudah bangun? Gimana tidurnya? Nyenyak, kan?”
Napasku tertahan, mendengar suara lembut Rezvan menyambutku yang baru kembali dari peraduan. Apa yang terjadi? Bukankah semua yang terjadi hanyalah mimpi indah yang menghiasi lelapku tadi? Kusisir rambutku dengan jari yang menjambak kuat, menenangkan diri sekaligus mengembalikan memori. Gesekan benda keras menyentuh kulit kepalaku, membuatku menarik tangan dan sejenak mataku terbeliak. Sebuah cincin bermata batu safir melingkar tepat di jari manis tangan kiriku!
Aku terhenyak menyadari lintasan adegan yang penuh drama itu terulang kembali. Astaga! Semua kenangan indah itu bukanlah mimpi semu, melainkan kenyataan yang benar berlalu.
Terakhir, kuingat aku tergesa-gesa masuk ke mobil sementara Rezvan membayar pesanan kami di kafe penuh memori itu. Dia membawa sebuah bungkusan besar berisi aneka roti nikmat, yang langsung diserahkan padaku. Tawarannya untuk menginap di hotel kutolak mentah-mentah. Perasaanku tak tenang, telah begitu lama meninggalkan pekerjaan. Terlebih, aku tak bisa menghubungi rumah karena ponselku hilang. Begitu juga Rezvan, gawainya telah mati sejak siang karena tak membawa charger. Dengan terpaksa, dia menuruti kemauanku dan kami memulai perjalanan panjang. Entah sejak kapan aku mulai tertidur, yang jelas aku merasa sedang melahap roti berisi keju saat kesadaranku perlahan menghilang.
Usapan lembut mendarat di puncak kepalaku, membuatku lagi-lagi tersentak. Memandangku sekilas sebelum akhirnya kembali menatap jalanan, Rezvan berkata pelan, "Kenapa? Masih ngantuk, ya? Bobo lagi aja."
Sebut saja amatir, aku tak peduli. Tetapi ini hari pertama aku menyandang status yang sebelumnya tak ada dalam kamusku. Jangankan bertunangan, pacaran saja aku belum pernah merasakan. Sekarang aku tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Ki-kita udah sampe mana?" tanyaku tergagap, menutupi desir rasa malu yang semakin menggelitik.
"Udah lewat alun-alun kabupaten, sebentar lagi perapatan ke desa. Kamu capek, ya? Nanti bisa tidur di kamar begitu sampai rumah," sahut Rezvan sesekali mencuri pandang padaku.
"Aku … udah agak enakan badannya. Tadi udah tidur," jawabku sedikit berdusta. Pasalnya tubuhku terasa seperti remuk redam, walau pulasnya tidur tadi cukup meringankan kepalaku yang sebelumnya terasa berat. "Kamu nggak istirahat? Mau minggir dulu sebentar, terus tidur? Pasti ngantuk nyetir semalaman."
Rezvan menggeleng. "Nggak apa-apa. Yang penting cepat sampai biar kamu nggak panik lagi dan bisa istirahat," ujarnya menenangkan. Tangan kirinya kembali mendarat di kepalaku, kali ini di bagian belakang tempat rambut kusut bekas kehujanan tadi.