
Bisikan lembut berhasil menembus gendang telingaku, diiringi usapan hangat di sekitar pipi. Aku berusaha mengangkat kelopak mata pelan, hingga wajah yang membuatku berdebar terasa begitu dekat. Ia mendesah dan mengucapkan syukur, sementara tubuhnya memelukku erat. Aku tak dapat menolak ataupun membalasanya, akibat rasa lemas yang tak kunjung mereda.
"Kintana, kita harus cepat pergi dari sini," ujarnya panik.
Aku mengangguk pelan. Segenap energi yang tersisa kugunakan untuk mengangkat punggung yang masih terikat sabuk pengaman. Rezvan melepaskan ikatan yang telah menyelamatkanku dari benturan fatal itu, kemudian membantuku duduk lebih tegak. Namun, saat hendak membiarkan kakiku menopang tubuh, ternyata lututku masih terasa lemas hingga aku kembali membanting bokong di atas jok.
"Aku gendong aja, ya," ujarnya meminta izin. Ia menggeser kakiku hingga menggantung di tepi jok, kemudian setengah berjongkok membelakangiku. Tangannya melingkarkan lenganku di lehernya sebelum menggunakan kekuatan tangannya untuk membelit lututku dan mengangkat tubuhku.
Jarak yang hanya terpaut helaian kain di antara kami membuat kehangatan yang terpancar dari tubuh Rezvan seolah menerobos kulitku. Begitu lekatnya dadaku pada punggungnya menciptakan debaran di jantungku yang semakin kuat dan aku khawatir dia bisa merasakannya. Berpegangan erat, aku menempatkan kepalaku tepat di atas pundak kirinya. Embusan napasku yang terasa berat akibat udara dingin menggetarkan anak rambut di belakang telinganya.
Suara derum mesin mobil yang semakin santer terdengar membuat Rezvan segera berlari menerobos semak dan perdu. Langkah kakinya begitu cepat, tanpa peduli onak dan duri yang menggores kulitnya kala menyibak tumbuhan liar demi membuka jalan. Aku bisa merasakan napasnya terengah-engah, serta keringat yang meluncur di lehernya. Sungguh, aku tak ingin menjadi beban yang hanya menyulitkan pergerakannya.
"Aku turun aja. Kakiku udah bisa lari kayaknya," bisikku di telinganya.
Sekejap kurasakan getaran singkat di sekujur tubuhnya, sebelum akhirnya berkata pelan. "Nggak apa-apa. Nanti kalau sudah aman, kamu baru turun."
Mengalihkan pikiran dari keinginan untuk merapatkan tubuh, aku memikirkan berbagai kemungkinan. Beribu tanda tanya mengapung di otakku, tentang motif pengejaran yang dilakukan orang asing itu serta keterlibatan Rezvan di dalamnya. Namun, semua kebingungan itu masih menunggu antrian untuk keluar di waktu yang tepat.
Kami tiba di tepi jalan raya yang terlihat tak asing bagiku. Menyebrang di jalanan lengang, kami tiba di depan pematang sawah yang luas membentang. Rezvan menurunkanku dan kami duduk meluruskan kaki di pinggir jalan yang dinaungi pohon akasia. Kulihat napasnya tersengal, sementara badannya bersandar di batang pohon. Menghilangkan perasaan bersalah karena sudah membebaninya dengan bobot tubuhku, aku menurunkan kaki hingga menggantung di pembatas antara jalan dan sawah.
Sejauh mata memandang, bintang-bintang bertaburan di langit seperti berlian yang dihamparkan pada permadani hitam. Sang purnama bertengger gagah, membagikan cahayanya pada alam melalui sinar temaram. Entah sudah berapa lama aku tak menikmati suguhan alam yang menenangkan, mungkin terlalu sibuk bercengkrama dengan segala kerumitan.
"Indah, ya, bintangnya?" gumam Rezvan mengikuti arah pandangku. "Dulu waktu kecil, saya ingin jadi astronot supaya bisa pegang bintang."
"Oh, ya?" tanyaku tak percaya. Aku terperangah, lupa bahwa pria di sebelahku ini tentu saja memiliki masa kecil yang belum terjamah olehku.
"Iya. Dulu Papa beliin teleskop, tapi hanya boleh dimainkan di loteng. Karena takut gelap, aku jadi berharap bisa punya bintang sendiri, supaya seluruh rumahku terang. Jadi aku nggak takut lagi," terangnya menerawang. Sesaat kemudian ia meringis, mungkin menyadari kalau sudah membongkar aib masa lalunya. "Konyol, ya?"
Aku tertawa. Akhirnya aku mengetahui alasan mengapa lampu kamarnya selalu menyala di waktu malam. "Ehm, menurutku wajar, kok, setiap anak kecil punya impian. Dulu, aku juga ingin jadi putri, supaya bisa pakai gaun kayak Cinderella, Snow White, sama Aurora," ujarku miris saat menyadari bahwa kini impianku terkabul, tetapi hanya bagian sengsaranya saja.