
Aku tersentak, tubuhku membeku di depannya untuk kedua kalinya. Sial! Sudah susah payah kukuatkan hati untuk sekadar berkenalan, dia malah membuat jantungku nyaris lepas dari tempatnya. Ingin rasanya kuambil wajan bergagang dan kupukul rahangnya keras seperti yang Rapunzel lakukan saat bertemu Flint Ryder.
Setelah berhasil mengendalikan kekagetanku, aku menarik kembali tanganku yang hendak bersalaman. Perhatian kini kualihkan pada pria tua yang tampak tersengat setrum. Matanya melotot, tangannya memegang dada. Oh, Tuhan! Jangan sampai pasienku terkena serangan jantung akibat bentakan anak yang durhaka!
“Rezvan!” cicit Pak Harjanto dengan mata merah. Ia tampak ingin mengucapkan sesuatu, tetapi urung. Ia malah beralih padaku yang kini berdiri kikuk tak tahu apa yang harus dilakukan. “Papa pasang selang dulu, nanti kita bicarakan lagi,” lanjutnya sebelum terbatuk panjang.
Dengusan kasar terdengar sebelum makian keras yang memekakkan telinga. “Bullshit! Nggak usah dipasang juga nggak kenapa-napa, Pa. Toh, umur Papa juga sudah nggak lama lagi, kan?”
Dengan kasar, tangannya meraup tas ransel yang tergeletak di lantai. Ia berdiri sambil menendang kursi yang sebelumnya menyangga bokongnya sendiri. Begitu tiba di sisiku, ia dengan sengaja membenturkan lengannya ke bahuku, membuatku terhuyung. Tak butuh waktu lama baginya untuk membuka pintu dan membantingnya sekuat tenaga.
Hatiku mencelos mendengar cacian yang ditujukan seorang anak pada orang tuanya. Sebesar apapun rasa benciku pada Ayah yang telah meninggalkan keluargaku, tak pernah aku memakinya sedemikian hebat. Apalagi sampai mendoakan kematiannya. Oh, baru kali ini aku melihat Malin Kundang yang durhaka.
Aku acuhkan emosiku sendiri dan beralih pada Pak Harjanto yang kini semakin menegang. Matanya menitikkan air yang semakin deras turunnya. Dadanya naik turun, napasnya terlihat semakin berat.
Tak pikir lama, segera kuambil selang oksigen dan menyalakan humidifiernya.
“Bapak, coba tarik napas panjang, Pak,” perintahku lembut. "Tarik napas … embuskan … tarik napas … embuskan …."
Pak Harjanto mengikuti instruksiku. Beberapa saat kemudian, napasnya mulai teratur. Tetapi air matanya terus mengucur tak dapat terbendung.
Aku tercekat. Mengapa Pak Harjanto malah minta maaf padaku? Bukan salahnya kalau punya anak kurang ajar, toh cowok itu sudah dewasa. Namun, aku tak bisa menghakimi begitu saja. Aku tak tahu latar belakang keluarga mereka. Yang pasti, aku hanya harus membuat suasana kembali tenang dan kondusif.
"Nggak apa-apa, Pak. Bapak jangan minta maaf sama saya. Saya justru khawatir sama Bapak," ucapku menenangkan.
"Ini semua salah saya yang terlalu manjain dia dulu. Sekarang, semua yang dia mau harus dituruti," gumam Pak Harjanto seolah berbicara pada diri sendiri.
Aku termenung sesaat. Tanpa diperintah, mulutku bergerak sendiri. "Mungkin masa lalu itu punya andil, Pak, tapi anak Bapak kan sudah dewasa. Dia sudah punya pemikiran dan bisa memilih mana yang benar dan salah sendiri."
"Iya, kamu benar," desah pria tua itu memejamkan mata dengan kuat, menambah keriput di sebagian besar wajahnya. "Andai kamu saja yang jadi anak saya."
Aku tersenyum kecil. Siapa yang tidak mau jadi anak pengusaha kaya raya? Tentu aku mau. Kalau itu terjadi, mungkin aku sekarang tinggal duduk santai menjadi bos.
Alih-alih menyuarakan pikiranku, aku kembali pada tujuanku sebelumnya berada di sini. "Bagaimana keadaan Bapak? Apa sudah siap untung pasang selang atau mau istirahat dulu?"
"Saya sudah nggak apa-apa. Pasang saja, Tan."