
"Evan nggak mau datang ke nikahan!"
Bentakan keras terdengar lantang menyusul bunyi pintu yang dibanting dan beradu dengan dinding. Aku yang sedang menuangkan susu ke dalam NGT sontak tersentak, begitu pula Pak Harjanto. Untung dia tidak sedang minum langsung, bisa terjadi aspirasi karena cairan menerobos tenggorokan. Kami hanya tertegun menyaksikan Rezvan melempar undangan merah muda yang kemarin diberikan Bu Sus ke atas kasur ayahnya.
"Kamu kenapa, Van?" tanya Pak Harjanto dengan keriput di wajah yang semakin bertambah.
Rezvan mendengus kasar. "Pokoknya Evan nggak mau datang! Papa aja yang datang sana!"
Aku dan Pak Harjanto saling melempar pandangan. Mungkin yang ada dipikiran pria tua itu sama denganku. Apa Rezvan sedang PMS? Namun sepertinya, aku tak sesangar itu jika menjelang masa menstruasi.
"Bukannya kemarin kamu yang bilang mau datang? Papa kan udah bilang nggak bisa datang."
"Evan juga nggak bilang mau datang!" sangkalnya. "Terserahlah!"
Rezvan meninggalkan ruangan dengan membanting pintu. Aku hanya bisa bengong, begitu pula Pak Harjanto. Kelakuan Rezvan benar-benar seperti pengidap penyakit bipolar, sebentar manis seperti panda, tak lama kemudian garang seperti harimau.
Tanpa mempedulikan cowok menyebalkan itu, aku meneruskan pekerjaanku dengan mengganti baju pasienku. Tak lupa aku melakukan massage di punggungnya agar tak terjadi ulkus dekubitus atau luka akibat tekanan yang terlalu lama, mengingat sejak pagi Pak Harjanto lebih banyak berbaring. Aku juga membantunya melakukan peregangan ringan supaya otot-ototnya tidak kaku.
Kami kembali dikejutkan dengan Rezvan yang menghambur masuk saat aku sedang menurunkan posisi tempat tidur dari Fowler (duduk tegak) menjadi semi Fowler (setengah berbaring). Dia membawa ponsel dan dengan kasar menjulurkan ke arah Pak Harjanto.
"Bulek Sus telepon Evan terus, nih!" sentaknya dengan alis yang nyaris saling beradu. "Pakde Ton juga, Bude Jum, semuanya. Kenapa pada ribut banget, sih, nyuruh Evan datang?"
Pak Harjanto tampak mencerna kata-kata anaknya sebelum ia berujar pelan. "Mungkin karena mereka menghormati Mamamu, Van. Mamamu yang ngurus keluarga mereka waktu usaha Eyang Lasmo bangkrut. Jadi mereka mau balas budi, setidaknya saat ada pesta, kita diundang."
Rezvan berdecak. "Tapi Evan nggak mau datang!"
Aku nyaris saja terkikik sendiri. Kemana cowok yang kemarin terlihat jumawa? Sekarang tingkah lakunya seperti anak kecil yang tak mau disuruh sekolah.
"Loh, kenapa? Kemarin waktu ada Bulek Sus kamu ndak bilang." Pak Harjanto tampak mencoba bersabar.
Dahi Pak Harjanto berkerut. "Ndak tahu opo?"
"Pokoknya Evan nggak mau datang! Biar dia aja tuh yang datang!" bentak Rezvan sambil menunjuk batang hidungku.
"Hah? Kok, saya?" Aku ternganga tak percaya. Kenapa aku jadi dilibatkan dalam permasalahan kondangan ini?
Rezvan melipat tangan di depan dada. "Kemarin lo diundang juga, kan?"
"Ya, itu kan cuma formalitas aja," tukasku tak ingin terlibat lebih jauh. Aku sampai lupa untuk berlaku sopan di depan pasienku gara-gara cowok sok tahu itu.
"Ssh! Sudah! Kalian berdua saja yang datang!" Pak Harjanto menengahi.
Mataku terbelalak. "Maaf, Pak. Saya kan jagain Bapak. Saya nggak bisa pergi. Lagi pula saya nggak kenal," racauku panik.
Pak Harjanto memegang tanganku. "Tolong Bapak, ya, Tan. Kamu temani Evan ke pernikahan sepupunya. Bapak pusing."
Aku tak kuasa menolak permintaan pria yang sudah renta itu. Matanya berkaca-kaca, sungguh membuat hati ini terenyuh. Tapi aku tak mau pergi bersama Rezvan. Tidak lagi untuk yang kedua kali.
Mataku melirik pada sosok yang kini bersedekap dengan wajah ditekuk. Dia menatapku sinis, sama seperti saat kami pertama bertemu. Melihatnya seperti itu sudah membuatku bergidik, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau kami pergi ke pesta pernikahan bersama.
"Maaf, Pak. Saya nggak ada baju yang pantas buat pergi ke pesta," kilahku mencari alasan. Kulihat Rezvan memutar bola matanya.
"Oh, ada, kok, banyak. Punya Mamanya Evan waktu masih muda dulu," sahut Pak Harjanto membuatku ingin menepuk dahi. "Van, antar Kintana cari baju Mamamu!" perintahnya beralih pada anaknya.
Kupikir Rezvan bakal menolak, tapi ternyata dia malah mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Ragu, aku menatap Pak Harjanto yang malah mendorong tanganku agar beranjak. Dengan jantung berdebar, aku berjalan di belakang Rezvan sambil menjaga jarak.