
"Waktu pertama kali tahu nama Kintana artinya bintang, aku sempat berpikir kalau kamu itu seperti Putri Laura di film Men in Black kedua. Nggak pernah sadar, ternyata selama ini keturunan putri dari planet lain," ujarnya tertawa.
"Maksud kamu putri alien?" sindirku mengingat film yang dibintangi Will Smith dan Tommy Lee Jones itu.
Rezvan menatapku serius. "Bukan, kamu itu putri bintang."
Aku merasa aliran darahku merambat lebih cepat ke pipi, sepertinya menimbulkan rona. Beruntung, kegelapan menutupinya.
Suara mobil yang terdengar mendekat, membuat kami tersentak. Sorot cahaya bergerak dari arah dalam hutan, terus menuju jalan raya yang hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari tempat kami berdiri. Kami saling berpandangan, kemudian Rezvan menginstruksikan aku untuk melompat ke pematang sawah setelah ia tiba di bawah.
Rezvan melambaikan kedua tangannya dan berbisik menenangkanku, seolah bisa membaca pikiranku yang khawatir akan jarak yang terlampau tinggi untuk melompat. Bunyi mesin mobil yang semakin keras membuatku memejamkan mata dan memberanikan diri melempar tubuhku ke bawah. Terasa tubuhku beradu dengan lapisan otot keras yang menyelubungi hangat, kemudian tersungkur bersama di ceruk pembatas sawah dan jalanan.
Aku membuka mata dan dada bidang Rezvan memelukku erat. Umpatan kasar terdengar bersamaan dengan desing mobil melaju cepat. Aku menahan napas, berharap siapapun yang mengejar, tak menemukan kami.
"Sepertinya mereka udah jauh. Ayo, kita harus cepat!"
Rezvan menggenggam tanganku dan kami berjalan beriringan melintasi pematang. Tanah yang licin cukup menyulitkan, terlebih Rezvan yang beberapa kali terperosok ke lumpur hitam. Sepertinya ia tak pernah bermain ke sawah, berbeda denganku yang dulu sering mencari siput untuk dimakan.
Sebuah sungai terbentang di depan kami, membatasi areal persawahan dengan ladang yang ditanami pohon singkong. Di atasnya, terdapat dua batang bambu yang melintang sebagai alat penyebrangan seadanya. Melihat Rezvan ragu untuk melintas, aku berinisiatif membimbingnya dan jalan di depan.
Gemetar yang berasal dari kaki Rezvan merambat melalui bambu hingga terasa olehku. Aku sudah berada di ujung, sementara dia belum juga melewati bagian tengah jembatan. Tangannya yang berkeringat memegang erat tanganku, membuatku khawatir akan hilang keseimbangan. Aku meraih batang pohon rambutan yang tumbuh di tepi sungai sambil terus menyemangatinya agar mempercepat langkah. Bukankah timbal balik yang menyenangkan? Dia membantuku melompat dari ketinggian, sementara aku menjaganya supaya seimbang.
Byur!
"Ma-maaf, Kintana," ucapnya terbata. Ia berupaya bangkit, tetapi tanah yang licin menghilangkan gaya gesek sebagai tumpuannya. Bibir dan hidungnya kembali mendarat di atas abdomenku yang tipis.
Mendapat sentuhan mengejutkan di tempat yang tak seharusnya, gelenyar di tubuhku kembali merambat. Aku berusaha menutupinya dengan menjaga nada suaraku. "Nggak apa-apa. Kamu gimana kakinya? Sakit, ya?"
"I'm fine. Never mind," jawabnya dengan suara serak.
Setelah berhasil membebaskan diri dari tubuhku, ia membantuku bangun. Kami terdiam beberapa saat, mengalihkan pandangan ke tempat berlawanan. Aku yang masih menutupi getaran di setiap jengkal kulitku hingga tak sanggup berkata-kata.
"Ayo, kita lanjut jalan," ajaknya memecah keheningan.
Aku mengamatinya tak tenang. Ada yang salah dari caranya berjalan. Wajahnya terlihat meringis saat menapakkan kaki kiri di atas tanah.
"Kaki kamu keseleo? Atau luka?" tanyaku khawatir.
Dia menggeleng cepat. "Nggak, kok. Cuma sakit dikit aja. Kamu jalan di depan aja, biar aku jaga di belakang.
"Sini aku periksa," ujarku hendak meraih betisnya, tetapi ia menolak.
"Aku nggak apa-apa, kok. Aku kuat! Kamu jalan duluan aja," perintahnya lagi.
Aku melingkarkan tanganku di lengannya. Menuntunnya, aku berujar tegas. "Yaudah kalau nggak mau diperiksa. Tapi, kita jalan bareng-bareng. Aku nggak mau kamu jatuh lagi!"