Living with Him

Living with Him
Serpihan 20



Sebuah solusi tiba-tiba muncul di otakku. “Kintan udah nggak tau lagi gimana caranya dapat duit, Bu. Lebih baik Ibu jual rumah aja, terus pindah yang jauh! Biar Pak Dobleh nggak bisa nemuin Ibu lagi!”


 


 


“Jual rumah? Kamu pikir siapa yang mau beli rumah bobrok sempit begini? Dijual pun nggak akan cukup buat bayar, Tan!” sangsi Ibu.


 


 


Kepalaku terasa sakit. Aku hanya diam mendengar ocehan Ibu yang merembet kemana-mana. Mulai dari cuma makan pakai ikan asin, adikku yang tawuran, keluhan badan sudah pada sakit, hingga menyuruhku untuk menikah dengan orang kaya. Siapa pula yang mau menikahi perempuan dengan utang selangit?


 


 


“Pokoknya kalau Pak Dobleh datang, Ibu suruh dia telepon kamu langsung!” ancam Ibu sebelum memutuskan sambungan.


 


 


Aku menghela napas dalam sambil meletakkan ponsel di tempatnya semula. Aku tak ingin menangis lagi, tidak untuk hari ini. Bisa-bisa aku menjadi seperti kacang polong yang kehilangan air akibat sengatan matahari. Kisut, keriput, dan layu.


 


 


Menghilangkan nelangsa yang bersarang, aku meraup beberapa batang permen lolipop yang tersimpan dalam toples di atas buffet dan memasukkannya ke saku. Aku beralih ke kasur yang sudah rapi, kemudian melempar tubuh hingga berbaring di atasnya. Sambil menatap kosong pada langit-langit, aku membuka bungkus permen dan membiarkannya meluncur di mulutku. Tak ada yang bisa menghiburku selain rasa manis yang menghantarkan sepercik kebahagiaan melalui papila lidah.


 


 


Aku lelah. Aku mau istirahat sejenak saja. Tanpa memikirkan apapun, tanpa melakukan apapun. Biar aku seperti ini sebentar saja.


 


 


Prang!


 


 


Bunyi pecahan kaca yang sangat keras membuatku tersentak. Aku terduduk, berkonsentrasi pada suara teriakan yang terdengar samar. Bingung tapi penasaran. Aku menimbang apa sebaiknya aku keluar untuk melihat keadaan? Tapi aku tak ingin bertemu dengan Om Cahyo dan menjadi objek kegenitannya.


 


 


Belum sempat aku memutuskan, seseorang membuka pintu kamarku dan sebuah kepala tersembul dari baliknya.


 


 


 


“Ada apa, Bi?” pekikku panik melihat wajah pucat Bi Iyem. Kecemasan itu menular, dan kini aku merasakan jantungku berdebar. Tanpa sadar aku sudah berdiri di hadapannya. Lolipop yang sedang berselancar di mulutku kini berpindah ke tempat sampah setelah kubungkus seadanya.


 


 


“Mas Evan, Tan! Mas Evan!” Bi Iyem memegangi dadanya yang naik turun. Dia menarik tanganku menuju ruang tengah, tempat di mana aku terbelalak dan menutup mulut tak percaya.


 


 


Rak barang pecah belah yang membatasi ruang keluarga dengan ruang tamu sudah porak poranda, seperti baru saja diterjang banjir bandang. Pecahan kaca pembatas rak juga porselen berhamburan di lantai, lengkap dengan percikan darah menodai keramik putih. Keadaan di sekitar juga tak lebih baik, penuh dengan barang-barang yang dihempas paksa hingga berserakan jauh dari tempatnya.


 


 


“Kenapa ini, Bi?” tanyaku dengan tenggorokan tercekat. “Bibi mana yang luka?”


 


 


Bi Iyem menangis sambil memunguti pecahan kaca di bawah kakiku. Aku turut menunduk, mengikuti gerakannya. Sekarang dadaku seperti akan pecah karena begitu khawatirnya.


 


 


“Kamu tolongin Mas Evan aja,” isak Bi Iyem. “Bibi … bibi nggak apa-apa.”


 


 


“Dia ngapain Bibi?” tukasku tajam. Ulah apa yang dilakukan orang itu hingga membuat Bi Iyem menitikkan air mata?


 


 


“Tangannya berdarah, Tan. Tolongin dia aja. Biar Bibi yang beresin,” ujar wanita itu pelan.


 


 


Aku mengamati tubuh Bi Iyem lekat, mencari sumber luka yang mungkin disembunyikannya. Sejauh penglihatanku memang tak ada. Hanya noda merah di rok kuning mengembangnya yang sepertinya terseret dari lantai saat menunduk.


 


 


“Jangan-jangan Bapak …,” ujarku terputus. Aku segera berlari menuju kamar Pak Harjanto. Pikiran buruk mulai bermunculan di benakku.