
Napas dalam dan distraksi, dua teknik relaksasi yang paling bisa kulakukan saat ini. Semoga teknik ini mampu meredakan kekesalan yang menggerogoti setiap jengkal nuraniku.
Aku mulai menarik napas panjang melalui hidung dan menahannya sejenak di rongga paru-paru. Sesaat kemudian, kuembuskan perlahan udara melalui mulut dengan tiupan kecil. Kuulangi lagi teknik itu selama beberapa saat, sambil membayangkan keindahan dataran tinggi Dieng tempat aku dilahirkan. Aku rasakan udara dinginnya membelai kulit dengan lembut. Bentangan pepohonan menghijau, danau jernih berhias alga, dan aroma tanah yang baru saja dicangkul.
Sebuah ide terlintas saat aku sedang menikmati jernihnya sungai yang mengalir dari pegunungan. Mandi. Bagaimana aku bisa melupakan hobi favoritku ini jika sedang dalam masalah? Ah, mungkin membersihkan tubuh akan menjadi obat mujarab untuk membersihkan jiwa dan ragaku yang kusam. Segera aku turun dari ranjang dan berjalan lunglai menuju kamar mandi.
Seperti halnya kamar mewah yang kutempati, kamar mandi ini juga tak pernah kubayangkan bisa kugunakan. Separuh tubuhku menyambut melalui kaca besar yang terletak di seberang pintu. Di bawahnya, rak berisi handuk dan perlengkapan mandi tersimpan rapi, siap dipakai kapanpun. Sebuah bath tub terpasang di sudut ruangan dengan pancuran di atasnya. Berbeda di kampungku dulu yang harus ke sungai jika ingin mandi di pancuran.
Gemericik air turun dari shower, meluncur deras membasahi tubuhku. Aku pun memejamkan mata dengan wajah menengadah, membiarkan kesegaran mengusir kepenatan yang mendera. Tangan kananku meraba deretan botol yang berjajar di dinding keramik, mengambil sebuah botol berwarna putih dengan tutup hijau yang menyerbakkan aroma mint. Dengan lihai kubuka tutupnya dan menyemprotkan isinya pada telapak tanganku. Kuusapkan cairan kental itu pada rambut hitam sepunggung sambil kupijat pelan. Sensasi relaksasi yang menyenangkan begitu terasa saat aku memejamkan mata. Baru kemudian aku mengusap kulit kuning langsatku dengan sabun beraroma mawar yang lembut. Terakhir, aku pun membasuh seluruh bagian tubuh, menikmati setiap tetes air yang terasa membelai kulit.
Suara dering keras menghentakkan gendang telingaku, membuatku terlonjak. Kuhentikan aktivitasku dan memasang pendengaran lebih jeli. Namun, aku tetap tak dapat mengira apakah bunyi ponselku atau nurse call dari Pak Harjanto yang butuh bantuan?
Aku beralih pada sumber suara yang ternyata berasal dari ponselku yang sedang diisi daya. Bodohnya aku sering kali lupa dengan nada dering ponselku sendiri. Terlihat sinar di benda persegi panjang itu berkedip mengiringi dering tiada henti. Aku pun segera berlari menuju meja tempat ponsel yang sedang diisi daya bersemayam di seberang pintu.
Seketika suara hentakan keras terdengar dari pintu menuju luar kamar. Bagai ditekan tombol freeze, tubuhku mendadak kaku. Mataku membulat saat beradu pandang dengan sesosok pria muda berpostur tinggi yang langsung menghambur masuk. Napasku terhenti sejenak saat ia berhenti sekitar satu meter di depanku. Udara dingin merayapi saraf Krause di sekujur kulitku saat aku dan pria itu berdiri mematung untuk beberapa saat. Aku pun terhenyak, menyadari bahwa aku tidak mengenakan baju, hanya sehelai handuk yang terlilit asal di tubuhku.
Seperti pasien henti jantung yang tiba-tiba tersadar karena mendapat hentakan defibrilator, spontan aku menjerit.
"Aaaaaaaarrrrgggghhhh!"