Living with Him

Living with Him
Serpihan 38



"Tak perlu merasa bersalah untuk menangis. Siapapun dirimu, selama kamu adalah manusia, kamu berhak untuk mengeluarkan air mata."


Napasku tertahan. Mataku terkunci oleh tatapan tajamnya yang menusuk. Keringat mulai membanjiri dahi hingga ketiakku. Tanpa diperintah, kepalaku langsung bergerak ke atas dan bawah, berkali-kali.


"Ma … maaf," cicitku dengan segenap suara yang mampu keluar.


Cengkraman di bahuku mulai mengendur. Kabut gelap di mata Rezvan perlahan mengabur. Gerakan dadanya juga semakin teratur. Sekilas kulihat bibirnya bergetar, sebelum kualihkan pandang demi menjaga kewarasan.


"Mas Naren!" pekikku keras saat mendapati sosok yang sejak tadi kubutuhkan kini berdiri di depan pintu ruang tamu.


Sontak Rezvan menoleh. Seolah waktu terhenti, kami semua berdiri membeku. Naren memegang tengkuknya, kemudian mengalihkan pandangan dari kami.


"Sorry, ganggu. Saya tunggu di luar saja," ucapnya seraya berbalik dan berjalan ke teras luar.


"Nggak, kok!" teriakku seraya membebaskan diri dari kepungan lengan kekar Rezvan. Wajah pria itu mengeras, tapi aku tak memedulikan. Jangan sampai orang yang kutunggu pergi. "Mas Naren!"


Tanganku tertahan oleh genggaman kuat saat hendak beranjak mengejar Naren. Aku mengibasnya, tetapi pegangan itu terlalu erat. Rezvan menarikku hingga aku berbalik dan menubruk badannya.


"Ingat perkataan gue tadi! Jangan dekat-dekat sama dia!" desaknya memperingatkan.


Aku mendelik seraya mengerahkan segenap tenaga agar terbebas dari jeratannya. "Apaan, sih! Bukan urusan kamu saya mau dekat sama siapa!"


Rezvan melepas pegangan tangannya saat aku meronta, membuatku terhuyung ke belakang. Matanya membeliak, seperti harimau yang kehilangan mangsa. Aku bergidik. Meninggalkan pria yang mengintimidasiku, aku bergegas mengejar pria yang bisa membantuku.


Naren sedang duduk di anak tangga saat aku tiba di luar. Jemarinya dengan lihai bergeser di atas layar ponsel. Ia tak menyadari kehadiranku.


"Nggak apa-apa," potongnya mengusir kecanggungan saat aku bingung harus berkata apa. Matanya menelusur dari kepala hingga kakiku. "Kamu baik-baik aja, kan?"


Aku mengangguk. Hatiku berdesir menerima perhatiannya. "Iya, terima kasih."


"Saya khawatir sama kamu. Semalam Evan kayaknya marah banget. Saya takut dia ngapa-ngapain kamu dalam kondisi begitu," ucapnya membuat pipiku merona. "Tapi syukurlah kamu ndak apa-apa."


"Ngapa-ngapain gimana maksudnya?"


Suara berat yang terdengar membuat tubuh kami seketika menegang. Aku menoleh dan mendapati Rezvan sedang bersandar di daun pintu sambil melipat lengan di depan dada. Argh! Mengganggu saja!


"Ehm … nggak, Van. Maksudnya, kamu semalam … ehm …," Naren tampak kehilangan kata-kata.


Aku mengernyit, tak percaya bahwa cowok itu pun merasa terintimidasi oleh sikap Rezvan. Menyelamatkan situasi, aku menarik tangan Naren dan mengajaknya pergi.


"Ayo, kita cari tempat ngobrol yang lebih tenang. Supaya nggak ada yang nguping!" sindirku memicingkan mata pada Rezvan. Pria itu geleng-geleng kepala, dan aku tak peduli.


Naren kembali tergagap. Kulirik sekilas dia tampak menundukkan kepala ke arah Rezvan, kemudian melangkah mengikutiku. Sambil mengumpat dalam hati, aku mengajak Naren duduk di kursi tepi kolam renang.


Mataku terbelalak mendapati tangan cowok berambut belah tengah itu masih tergenggam erat di tanganku. Seperti memegang panci panas, aku langsung melepasnya.


"Maaf tadi saya narik-narik Mas Naren."


Naren tersenyum. "Nggak apa-apa. Kalau yang narik kamu, saya siap diajak ke mana saja!"