
Pintu dibanting dengan kencang, membuat kami tersentak. Terlebih aku. Baru kali ini ada orang yang begitu memendam kebencian padaku. Sungguh ironi, di satu sisi ada yang begitu menginginkanku hingga melakukan cara bejat untuk melampiaskannya. Namun, di sisi lain, ada yang membuangku dan berharap aku pergi saja.
Pak Harjanto yang sudah berangsur tenang kini kembali terkesiap. Bulir air menetes di sudut mata keriputnya, sementara bibirnya bergetar saat bersuara.
“Maafin kelakuan Mbak Yatmi, ya. Dia memang begitu dari dulu.”
Aku menelan ludah, menahan rasa bersalah. Semua ini terjadi karena kehadiranku di sini. Mungkin, memang saatnya aku harus mengalah.
“Maaf, Pak. Semua ini gara-gara saya. Lebih baik saya pergi aja, supaya Bu Yatmi nggak marah-marah,” desisku sambil menunduk.
“Jangan, Tan. Ndak usah dimasukin hati omongan Mbak Yatmi tadi!” ucap Pak Harjanto pelan. “Kamu di sini saja. Kamu harus di sini!”
“Iya, Tan! Saya sudah biasa dengar omongan seperti itu. Dari dulu, zaman masih sekolah sampai sekarang sudah tua begini,” timpal Dokter Henry.
Tidak. Ini berbeda. Bu Yatmi bukan hanya menyindirku, melainkan memang memendam ketidaksukaan semenjak pertama bertemu. Memutar otak, aku mencari alasan untuk keluar dari rumah ini. Setidaknya satu hari, selama nenek sihir itu ada di sini. Aku tak mau mencari perkara lagi.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku. “Saya … saya mau ketemu ayah saya, Pak. Sudah dua puluh nggak ketemu. Beliau pergi waktu saya masih kecil. Sekarang, beliau ingin bertemu,” jelasku setengah jujur, setengahnya lagi berdusta.
Pak Harjanto dan Dokter Henry tampak terkesiap. Mereka saling bertukar pandang. Aku hanya menunduk, terlalu malu walau sudah mengaku. Kedua pria itu mengintrogasiku, memaksaku mengungkapkan rahasia yang selama ini terpendam. Dengan berat hati, aku rangkum kisah hidupku menjadi satu paragraf padu. Namun, tetap ada hal yang aku sembunyikan. Masalah utang yang menumpuk. Aku tak ingin menjadi beban atau alasan agar orang memberi belas kasihan.
“Ya sudah. Kamu pergi saja. Biar Mas Jan saya yang jaga,” kata Dokter Henry diiringi anggukan Pak Harjanto.
“Salam buat ayahmu, ya. Bilang terima kasih sudah menghadirkan anak sebaik kamu.” Pria renta di atas tempat tidur itu turut berpesan.
Aku tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Memandang segelas susu yang teronggok di meja, aku terkesiap. Sepertinya Bi Iyem sudah membuatkan susu dan menaruhnya sedari tadi.
“Ndak usah, Tan. Itu saja, ndak apa-apa,” larang Pak Harjanto.
“Ehm, nggak apa-apa, nih, Dok?” tanyaku pada Dokter Henry. Kupegang bagian luar gelas yang masih menyisakan kehangatan samar.
“Berapa lama dibuatnya?” Dokter tua itu malah balik bertanya.
Otakku mulai menghitung. Kemungkinan Bi Iyem membuatkan saat aku mandi. Dia pasti datang sebelum Om Cahyo menyelinap dan melakukan tindakan tak senonoh padaku. Berapa lama kejadian memalukan itu terjadi? Ditambah dengan kedatangan Rezvan, serta aku menangis sendiri. Ah, aku tak dapat mengkalkulasi. Semua terjadi begitu cepat.
“Kurang lebih empat puluh lima menit, Dok. Tadi Bi Iyem yang buat waktu saya mandi,” simpulku asal.
“Kasih aja. Habis itu, kalau kamu mau berangkat tinggal aja. Tapi pulangnya jangan terlalu malam, ya,” pesan Dokter Henry. “Saya mau keluar dulu, ketemu Mas Cahyo.”
Mendengar nama pria mesum itu disebut, telingaku terasa panas. Aku hanya mengangguk pelan. Kembali mengerjakan tugas, aku melepas nasal kanul setelah memastikan Pak Harjanto tak lagi merasa sesak. Baru kemudian aku tuangkan susu melalui selang NGT yang baru beberapa hari kuganti. Aku kembali pamit pada pasienku. Dia memberi wejangan padaku, tentang betapa berartinya seorang anak bagi ayahnya. Juga tentang ujian kehidupan yang berbeda-beda bagi setiap insan di dunia.
“Saya minta maaf sudah buat kamu susah selama ngurusin saya dan tinggal di sini. Terima kasih banyak, ya, Tan. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan kamu.”
Air mataku kembali meleleh. Sebelumnya aku mengutuk semua masalah yang menimpaku, tetapi mendengar ada orang yang berterima kasih dengan tulus membuatku merasa berarti. “Sama-sama, Pak,” desahku lirih.
“Kamu berangkat sana. Hati-hati di jalan, ya.”
Aku mencium tangan dingin Pak Harjanto dengan khidmat sebelum meninggalkan ruangan. Dia mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sambil terus mengucapkan terima kasih. Kupandangi wajah penuh keriput yang tampak lebih pucat. Keikhlasannya membiarkanku pergi malah membuat kakiku terasa berat.