
Aku tersenyum kikuk, menahan getaran yang ditimbulkan dari sentuhannya. Tak dapat kupungkiri, aku begitu mendambakannya. Ingin kubalas semua perlakuan manisnya, tetapi tubuhku terlalu malu untuk bergerak.
Mobil berbelok ke kanan saat melewati perempatan tanpa perlu berhenti di lampu merah. Jalanan sepi, hanya satu atau dua mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Kulirik jam digital di bagian pemutar musik mobil. Pukul dua dini hari.
Lampu terang menyorot mataku saat tiba di tanjakan menuju rumah. Aku menyipitkan mata, mengidentifikasi sumber cahaya yang bisa membahayakan pengendara. Ternyata berasal dari sebuah mobil sedan yang terparkir nyaris menutupi jalanan yang akan kami lalui.
Rezvan membuka kaca sambil menekan klakson berkali-kali. "Heh, Sialan! Matiin lampunya! mau bikin orang buta? Jangan ngalangin jalan juga!"
Telingaku panas demi mendengar kalimat kasar yang diucapkan Rezvan. Terlebih jantungku berdetak hebat saat dua orang yang berada di belakang kemudi turun. Dari postur mereka yang tinggi besar serta rambut pirang, dapat kusimpulkan mereka bukanlah pribumi. Terlebih, mata biru mereka terbelalak saat melihat ke arah mobil kami, kemudian berteriak-teriak dalam bahasa yang tak kumengerti. Gawat! Sepertinya mereka marah.
"Oh, shit!" umpat Rezvan yang langsung menekan pedal gas mobil. Sekilas wajahnya terlihat pucat, tetapi aku tak yakin. Mungkin saja pengaruh penerangan yang minim.
Adrenalinku terpompa seiring laju mobil yang semakin cepat. Jantungku berderap begitu kuat, menahan gemetar akibat tingkah Rezvan yang mengemudikan mobil seperti Dom atau Bryan di film Fast and Furious. Dengan lihai, tangan kanannya memutar stir sementara tangan kirinya menggerakkan persneling. Tatapannya fokus ke depan dan tampak rahangnya mengeras. Ekspresi lembut yang tadi ditampakkan hilang seketika.
"Rezvan! Kita mau ke mana?" tanyaku tanpa mempedulikan kata sapaan yang pas untuknya.
"Ke tempat aman," jawabnya singkat,
"Mobil tadi ngikutin kita!" pekikku panik. Kurasa Rezvan juga tahu bahwa ada kendaraan yang membuntuti di belakang. "Kamu tau siapa mereka?"
"Pegangan yang kuat!" perintahnya tegas tak menjawab pertanyaanku. Ia membanting stir ke ke kiri, meninggalkan kemulusan aspal demi berjibaku pada tanah becek dan jalanan tidak rata.
Tanpa menghiraukan ketidakseimbangan mobil yang bergerak liar akibat ban yang slip, Rezvan terus menambah kecepatan kendaraannya. Debaran dadaku semakin kuat, membuatku takut jantungku akan pecah dan hancur berkeping-keping. Aku hanya bisa melantunkan permohonan keselamatan dalam hati seraya mencengkramkan jemariku dengan kuat pada pegangan di atas pintu mobil. Pasrah.
Dari kejauhan, sinar lampu mobil mulai terlihat seperti noktah samar. Jarak yang semakin menjauh membuatku menarik kesimpulan, mobil mewah itu tak kuasa melaju di jalan licin dan becek ini. Biar begitu, hatiku tetap tak tenang karena Rezvan masih mengemudikan mobil seperti orang kesetanan.
Brak!
Hentakan keras mengguncang tubuhku, membuat mataku sontak terpejam. Sesaat kesadaranku seperti melayang, sementara rasa sakit di kepala mulai membuatku pusing. Telingaku terasa pengar dan berdenging. Aku tak dapat membuka mata karena setiap otot yang ada di sekujur badanku seolah lupa caranya bekerja.
"Kintana … Kintana! Bangun, Kintana!"