
Aku duduk dengan tidak nyaman sepanjang perjalanan. Berbeda dengan keberangkatan yang masih memberikan kesempatanku untuk menilai gerak-gerik Rezvan, kali ini mataku hanya terpejam. Tak ada musik, tak ada lagu yang mengiringi. Hanya doa yang selama ini luput dari hati, semoga aku masih bernapas saat tiba nanti.
Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Aku bergegas turun, tanganku menutup mulut karena menahan mual yang tercipta akibat goncangan saat ban menghantam kerikil dan aspal berlubang. Baru saja kedua kakiku menjejak di tanah, embusan angin dari mobil yang melaju kencang menghantam tubuhku. Seketika kendaraan bersama pengemudinya itu menghilang dari pandangan, meninggalkanku seperti seonggok paket yang diantarkan kurir.
Aku menggeram dalam hati. Seharusnya sudah kuduga, bahwa bagi Rezvan, aku tak lebih dari perawat yang disuruh ayahnya menemani. Rasanya sia-sia aku sudah merasa simpati. Apalagi sempat terbawa perasaan saat dia memperlakukanku bak putri. Oh, jangan sampai aku jatuh cinta pada pria yang tak punya hati!
Hilang sudah rasa ingin muntah akibat mabuk perjalanan. Aku memutar kunci di pintu dan mendorongnya keras, mendapati semua lampu sudah dipadamkan. Berjalan mengendap, aku menuju kamar pasienku yang sedang tertidur lelap. Tulisan Bi Iyem tertera di jadwal pemberian makan lima puluh menit yang lalu. Baiklah, masih ada waktu tiga jam untuk beristirahat. Tanpa buang waktu, aku langsung melompat ke kasur kamarku dan berbaring menatap langit-langit. Lelah. Semua kejadian bak sinetron yang baru saja kuhadapi berkelebat kembali seperti film yang diputar ulang. Entah mengapa otakku jadi berpikir tentang Rezvan, kemanakah dia gerangan?
Dering alarm membuat mataku seketika terbuka. Aku tak berniat untuk tertidur. Sambil menyeka aliran liur di sudut bibir, mataku mengerjap menatap jam dinding. Pukul 02.00.
Berjalan gontai menuju wastafel, mulutku tak henti menguap. Selesai membasuh muka dan mengganti gaun yang melekat dengan kaos serta celana batik, aku bergegas menuju dapur untuk membuat susu. Mataku melirik sekilas ke pintu kamar atas yang setengah terbuka. Gelap. Biasanya saat malam begini, pintu kamar Rezvan selalu tertutup dengan cahaya lampu mengintip dari sela lubang udara. Jantungku menjadi berdebar, khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Terlalu larut baginya untuk pulang.
Tidak. Aku tak perlu memikirkannya lagi. Dia sudah besar, sudah bisa menjaga diri. Sama halnya saat dia meninggalkanku tanpa permisi tadi. Aku sama sekali tak peduli!
Mengenyahkan pikiran buruk, aku menyelesaikan tugas di dapur dengan cepat. Pak Harjanto sudah terjaga saat aku membuka pintu kamarnya. Senyum sumringahnya menyambutku diiringi mata berbinar.
"Gimana pestanya, Tan? Meriah, ya?" tanyanya saat aku meletakkan nampan di meja.
Aku meringis, tak sampai hati mengatakan kebenaran. Siapa yang tega melenyapkan wajah kebahagiaan yang jarang ditampakkan pria tua renta ini? Oh, semoga sekali saja berbohong tak menjadi masalah kemudian hari.
Pak Harjanto mengangguk. Masih dengan senyum mengembang, ia berceloteh. "Sudah lama saya ndak datang ke pesta. Pasti senang, ya. Ketemu sama saudara, keluarga. Rezvan juga pasti senang, apalagi perginya sama gadis cantik seperti kamu, Tan. Bapak belum pernah dengar dia dekat dengan perempuan.”
Aku menelan ludah mendengar perkataan Pak Harjanto. Entah apa yang ada dipikiran Rezvan untuk menyembunyikan hubungan dengan kekasihnya pada keluarga. Pantas saja dia ditinggal menikah, perempuan butuh kepastian!
Mengusir pikiran tentang Rezvan yang selalu saja masuk tanpa diundang, aku membuka penyumbat selang NGT dan menancapkan ujung spuit ke atasnya. Kutuangkan susu ke dalam spuit sedikit demi sedikit sambil mengukur takarannya. Cairan putih itu mengalir lembut mengikuti gravitasi hingga bermuara di lambung. Kubilas dengan air mineral begitu susu sudah habis dari gelas.
“Sudah selesai, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyaku sambil melepas spuit dan menutup ujung selang.
“Ndak, ndak ada, Tan. Terima kasih. Bapak mau tidur lagi,” sahut Pak Harjanto menutup mulutnya yang menguap.
Kuturunkan posisi sandaran tempat tidurnya hingga semi fowler dan merapikan peralatan. Begitu selesai, aku berpamitan dan beranjak ke dapur, membersihkan gelas kotor yang baru saja digunakan.
Langkahku terhenti begitu keluar dari dapur. Suara mesin mobil diiringi benturan cukup keras terdengar dari luar, membelah kesunyian malam. Sontak aku berlari menuju jendela ruang tamu dan menyibak tirainya. Sungguh jantungku terasa hendak lepas dari tempatnya melihat mobil jeep yang tadi ditumpangi Rezvan menabrak tumpukan pot bunga di depan. Tanpa pikir panjang, kuputar kunci pintu ruang tamu dan kutarik gagangnya dengan keras.
Seketika aku memekik saat sebuah tubuh besar jatuh menimpaku.