
Kakiku terasa kaku saat berdiri. Entah berapa lama aku bertahan pada posisi duduk tertekuk seperti ini. Air mataku sudah berhenti walau sesak masih saja menghuni hati. Nasib sial yang menimpaku bertubi-tubi berhasil meluluhlantakkan kewarasan diri.
Getar ponsel di atas meja membuatku bangkit. Tertera pesan dari Naren yang mengatakan bahwa ia harus pamit untuk menghadiri pertemuan penting. Di bawah tulisannya, ia mengirimkan alamat dan share location sebuah kafe yang cukup sering kudengar di Jakarta. Sebuah foto tampak samping membuat jantungku berdebar. Wajah itu, memang benar mirip ayahku. Benarkah ia? Oh, aku tak akan pernah tahu jika aku tidak memvalidasi informasi itu sendiri. Namun, bagaimana bisa?
Suara teriakan samar terdengar dari ruangan sebelah, mengingatkanku pada tugas yang belum selesai. Aku menarik asal sehelai baju di lemari dan memakainya. Blus lama dengan kancing yang entah kemana aku masukkan ke tempat sampah. Melihatnya membuat memori tentang tindakan asusila yang menimpaku kembali terulang lagi.
Kucuci muka dan kembali mengoleskan bedak tipis demi menyamarkan mataku yang bengkak. Jeritan dari ruangan sebelah semakin lantang, membuatku khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada pasienku. Bergegas aku membuka pintu penghubung dan seketika jantungku seolah melompat dari tempatnya.
"Heh, kamu! Ngapain di situ? Nguping kamu, ya?" bentak wanita bersanggul dengan baju brukat merah ukuran jumbo yang membalut bagian atas tubuhnya.
"Ma … maaf, Bu. Saya mau kasih minum Bapak," ucapku terbata, tak sempat menyembunyikan keterkejutanku.
Wanita itu bertolak pinggang, seraya menunjuk-nunjuk wajahku. "Kamu ngarepin warisan, kan? Jangan harap kamu!"
Mulutku ternganga. Warisan? Apa Bu Yatmi bisa membaca isi kepalaku saat bersama Naren tadi?
"Mbak Yatmi. Kintana itu berhak ada di sini. Dia yang ngerawat saya, yang bantu saya bisa tetap hidup dengan nyaman," ucap Pak Harjanto terbatuk dengan keras.
"Halah! Memang saya tidak tahu modus perempuan seperti dia? Pura-puranya merawat, pasti lama-lama habisin harta kamu, Jan! Biasanya di sinetron begitu! Bisa-bisanya kamu terpengaruh sama perempuan kayak gitu!" Bu Yatmi tampak terengah-engah dengan teriakannya sendiri.
Seperti orang kesurupan, Bu Yatmi menjenggut rambutku. Dengan lengan besarnya, dia mendorongku hingga jatuh tersungkur. Kali ini aku tak menangis, sepertinya air mataku sudah habis. Aku hanya menatapnya penuh kebencian, menahan keinginan untuk membalas perbuatannya. Samar, kudengar Pak Harjanto berteriak dengan suara serak. Baru kali ini aku mengabaikannya.
"Kurang ajar kamu, ya! Sudah berani menyahut! Dasar pembantu sialan! *******! Penipu!"
Seolah baru saja menginjak ranjau darat, hatiku luluh lantak. Begitu hinanyakah diriku, hingga harus menyandang predikat rendah seperti itu? Air mata yang semula sudah tak ada persediaan, kini diperas lagi hingga terasa teramat sakit. Terlebih hatiku yang kini seperti tertancap onak dan duri.
Seketika pintu terbuka dan sesosok pria paruh baya berkemeja merah marun masuk. Aku terkesiap, segera mengangkat tubuhku bangkit. Dokter Henry mengernyitkan dahi saat melihat kekacauan yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanyanya memandang aku dan Bu Yatmi bergantian.
Bu Yatmi beralih pada pria yang baru datang. "Henry! Kamu kalau cari pembantu yang bener dikit, kek! Masa cewek kurang ajar begini disuruh kerja di sini? Dia cuma mau morotin hartanya kakak angkatmu! Kamu itu, ya! Bukannya balas budi sama Harjanto. Sudah dibiayain kuliah sampai bisa jadi dokter begini. Malah ngasih perawat abal-abal yang modal cantik sama seksi!” sungutnya sambil menunjuk-nunjuk. Pria itu tampak menelan ludah, wajahnya berubah merah padam. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Malah teriakan Bu Yatmi semakin menjadi-jadi. “Pokoknya saya nggak mau tahu! Perempuan ini harus pergi. Dia nggak pantas ada di sini, apalagi mau penandatanganan warisan!”
“Mbak … sudah, Mbak!” suara Pak Harjanto terdengar berat, diiring batuk panjang. Aku dan Dokter Henry segera menghampirinya. Dokter memasang nasal kanul dan menyalakan tabung oksigen, sementara aku meninggikan posisi tidurnya untuk meningkatkan ekspansi dada.
Bu Yatmi masih meracau. Dia menyumpah serapah, tetapi kata-katanya memantul di telingaku. Ocehannya membuat Dokter Henry menoleh ke arahnya seraya membentak. “Mbak Yatmi! Bisa keluar dulu, nggak?”
Wanita itu mengangkat sebelah bibirnya. Dengan angkuh, ia memutar tubuh sambil terus menggerutu. Pipinya memantul-mantul saat kaki besar beralas selop emas dengan tinggi tiga sentimeter itu menghentak lantai. Sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu, ia menjulurkan kepala dan membentak kasar. “Pokoknya, saya nggak mau lihat perempuan itu ada di sini!”