Living with Him

Living with Him
Serpihan 24



Terlebih pukulan keras seolah meninju ulu hatiku saat mendengar pertanyaannya. Hah? Pacar Rezvan? Amit-amit!


“Bukan, Bu. Saya Kintana, perawatnya Pak Harjanto,” ucapku mencoba tetap sopan. Aku bersalaman dengan dua orang di depanku. Rezvan membuang muka sambil menggaruk-garuk kepala.


“Owalah …, maaf, ya. Tak kirain pacarnya Evan,” sahurnya tertawa. “Sudah punya pacar belum?”


Aku menggigit bibir. Pipiku terasa panas karena kini semua pandangan terarah padaku. Mengapa harus ditanyakan hal seperti itu, sih?


“Ehm, be ... belum, Bu,” kataku tergagap. Entah kenapa aku jadi gugup begini.


“Tuh, Van! Belum punya pacar!” goda Bu Sus sambil menepuk lengan Rezvan. “Cantik, lho!”


“Iya, Van. Masa kalah sama Adit! Dia aja besok mau nikah!” timpal suaminya.


Bu Sus tiba-tiba berteriak. “Ya ampun! Kita kan ke sini mau minta izin sama kasih undangan ke Mas Harjanto!” Dia merogoh tas dan mengeluarkan sepucuk undangan merah muda. “Mas, maaf ya baru kasih kabar. Semuanya serba mendadak. Besok Adit nikah, kebetulan anaknya ndak bisa ke sini untuk sungkem dulu sama Pakdenya. Jadi saya wakilin saja, ya.”


Pak Harjanto manggut-manggut. Akhirnya ia dilibatkan juga dalam percakapan ini. “Iya, Sus. Ndak apa-apa. Saya juga minta maaf, ndak bisa datang. Kamu tahulah kondisi saya begini, nanti kamu malah malu punya kakak ipar penyakitan begini,” ucapnya pelan. “Undangannya kamu kasih Evan saja, biar dia yang wakilkan saya.”


“Hus! Jangan ngomong gitu, Mas. Aku pengen Mas datang, tapi kalau ndak bisa ya ndak apa-apa,” ucap Bu Sus mengusap bahu Pak Harjanto. Ia beralih pada Rezvan. “Tapi kalau kamu, Van! Wajib datang. Bulek ndak mau tahu!” ancamnya galak.


Rezvan tertawa. “Kalau nggak datang mau dikasih apa, Bulek?” ledeknya menjadi-jadi.


“Datang ya, Van! Jangan bikin muka Bulekmu berkerut kalau kamu nggak datang!” Pak Dar tampak bersemangat menggoda istrinya yang sedang menyerahkan undangan pada Rezvan.


Bu Sus bersungut-sungut sambil mencubiti lengan suaminya. Aku hanya ikut tertawa, menyaksikan satu lagi kisah cinta yang cukup berbeda. Ternyata hubungan harmonis bukan hanya yang terlihat romantis, tetapi bisa juga melalui sisi humoris.


“Kamu juga datang ya, Kencana,” undang Bu Sus sambil merangkul pundakku.


“Kintana, Bu,” ralatku sambil nyengir. “Maaf tapi, Bu. Saya nggak bisa datang. Harus jaga Bapak soalnya.” Aku berkilah demi menyelamatkan diri dari jebakan.


“Ndak apa-apa kamu datang saja, Tan. Bapak sama Bi Iyem aja. Kamu kan juga butuh hiburan,” suara Pak Harjanto terdengar diselingi batuk panjang.


“Tuh, kan! Mas Harjanto juga sudah kasih izin. Pokoknya kamu datang temani Evan, ya. Kalau dia ndak mau, seret aja!” pesan Bu Sus sebelum aku sempat menolak.


Lidahku terasa kelu untuk menyahut. Tentu saja aku tidak akan datang, tapi lebih baik aku tak lagi menyangkal. Urusannya bisa bertambah panjang.


Bu Sus dan Pak Dar berpamitan pada Pak Harjanto sambil meminta doa restu dalam bahasa Jawa yang halus. Aku hanya menunduk, mendengarkan kalimat lembut yang terlontar dari mulut Pak Harjanto untuk calon pengantin walau ia tak datang dan meminta doa secara langsung. Setelah wejangan selesai diutarakan, kedua tamu itu pamit kepada Rezvan dan juga kepadaku. Mereka kembali berpesan untuk kehadiran kami di pesta pernikahan anaknya.


Aku mengangguk, sekadar berbasa-basi. Toh, mereka tak akan ingat kalau aku datang atau tidak. Yang mereka harapkan kehadirannya hanya Rezvan, bukan? Lagi pula, aku juga yakin dia tidak menginginkanku untuk menemaninya. Pekerjaanku di sini untuk merawat Pak Harjanto, bukan mengurus anak menyebalkannya.