Living with Him

Living with Him
Serpihan 28



Sebuah sepeda motor menyalip zig zag hingga bersinggungan dengan mobil dan nyaris terjungkal. Bukannya merasa bersalah, pria pengendara motor itu malah marah-marah. Tak seperti biasanya, Rezvan hanya termangu menatapnya dengan pandangan kosong.


Setelah pengendara motor itu pergi, Rezvan menarik napas panjang. Ia bersandar di jok mobil sambil memejamkan mata. Setetes rasa iba sekaligus penasaran membuatku memberanikan diri bertanya.


"Are you okay?" tanyaku sambil menatapnya. Terdengar ada yang janggal di telingaku. Oh iya, aku kelepasan menggunakan bahasa Inggris! Ah, ini semua akibat terlalu menghayati lagu tadi.


Aku bersiap mendengar rentetan kalimat dengan British aksen yang kental, mengingat dia sudah lama sekolah di luar negeri. Namun yang kudengar hanya gumaman lirih yang nyaris tak tertangkap saraf auditoriku. "I'm fine."


Hening kembali. Hanya deru mesin mobil yang terdengar saat pedal gas kembali diinjak. Aku tak berani mengusiknya lagi, melainkan terus berdoa dalam hati. Kulirik jarum speedometer menunjuk ke angka seratus dan mobil pun melesat di jalanan yang sepi.


Aku mendesah lega karena setelah perjalanan yang menegangkan, kami tiba di antara deretan mobil terparkir rapi. Sayup kudengar alunan musik menyanyikan lagu dengan nada yang kuhapal. Lagu A Thousand Year yang dipopulerkan Christina Perri sebagai original soundtrack film kesukaanku, Twilight Saga. Rasanya aku ingin ikut bersenandung kalau saja bunyi pintu mobil yang tertutup keras di sebelah tak mengagetkanku.


Setelah membuka pintu, aku menurunkan kaki di tanah yang lembab akibat hujan deras pagi tadi. Kakiku terasa gemetar saat tiba-tiba hak sandalku melesak, seperti pelajaran Fisika waktu SMP dulu tentang tekanan yang berbanding terbalik dengan luas bidang tekan. Kini aku mengalaminya!


“Kenapa?” Suara Rezvan terdengar dekat di telingaku. Aku mendongak dan wajahnya sangat dengan pipiku. Ya ampun! Jantungku nyaris saja melompat!


Sedetik kemudian, Rezvan berjongkok dan menarik hak sendalku yang tertancap. Tangan dinginnya menyentuh tumit dan mata kakiku, membuat lonjakan listrik terasa menyetrum sekujur tubuhku. Namun yang membuat aku heran, kenapa dia tiba-tiba jadi mau membantuku.


Begitu sendal menyusahkan ini terbebas dari tanah, aku buru-buru mundur untuk memberikan waktu jantungku relaksasi. Akan tetapi, malang tak dapat ditolak. Kakiku kembali terperangkap tanah terkutuk ini. Aku ingin menangis!


Rezvan kembali menghampiriku dan menggapai kedua tanganku hingga aku bisa berdiri dengan seimbang. Jemarinya menuntun tanganku melingkar di lengan kekarnya. Aliran darah berdesir dengan cepat di seluruh pembuluh darahku, membuatku gemetar. Apa jangan-jangan, di parkiran yang dikelilingi pepohonan ini ada setan baik yang hinggap di otak Rezvan, sehingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat?


Aku berusaha sekuat tenaga menyeimbangkan kakiku yang kini terasa selunak agar-agar. Jalanan yang tak rata membuat langkahku goyah hingga aku terpaksa berpegangan erat pada Rezvan. Kulihat wajahnya dingin dan datar, tanpa ekspresi. Hatiku mencelos menyadari bahwa hanya aku yang merasakan getaran ini.


Kami hampir mendekati karpet merah yang menjadi alas di seluruh lapangan. Lalu lalang tamu undangan yang mengambil makanan atau sekadar mengobrol dengan kawan menyambut kami. Bunga-bunga bermekaran di sana sini, menghiasi setiap sudut dengan warna cerah yang kontras dengan kain putih pelapis tenda. Lampu hias besar tergantung di tengah ruangan, diikuti pelita kecil yang banyak sehingga membuat ruangan terang. Di bagian depan, tampak mempelai sedang bersalaman dengan tamu yang datang. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat pasangan serasi yang cantik dan tampan. Bu Sus dan Pak Dar terlihat sumringah di sisi pengantin, antusias menyambut kolega dan semua undangan.


Langkah Rezvan tiba-tiba terhenti saat beberapa meter lagi tiba di tempat penerima tamu. Dia berdiri mematung, tatapannya lurus ke depan. Aku menatapnya khawatir sambil memberanikan diri mengungkapkan pertanyaan.


“Kok, berhenti? Amplopnya ketinggalan?”