
Aku hanya bisa duduk membeku dan tersenyum samar. Kuberanikan diri menatap Rezvan yang wajahnya semakin memerah. Aku khawatir, dia akan marah dan membuat keributan di sini.
“And the answer is ...?”
Suara menggaung dari mikrovon penyangi itu membuat mata Rezvan semakin menggelap, sementara aku sesak napas karena menjadi pusat perhatian. Menarik udara lebih banyak, aku berharap oksigen yang masuk cukup untuk membakar energi di otakku. Apakah mungkin, inilah pertanda dari Tuhan bahwa Rezvan memang jodohku, yang dibisikkan melalui suara vokalis band sebagai perwakilan isi hatinya? Tanpa lebih banyak pertimbangan dan demi suasana yang lebih tenang, baiklah, sudah kuputuskan.
Aku menjawabnya dengan anggukan.
Sorak sorai tak terhindarkan, bagai suporter sepak bola menyambut gol ke gawang lawan. Seperti boneka, aku hanya bisa duduk membeku. Terlebih saat Rezvan, dengan paksaan sang vokalis, menyematkan cincin bermata biru itu di jari manisku. Rasanya aku mau pingsan, akibat lonjakan perasaan sedih dan senang bersamaan.
Semua pengunjung menyalami kami dan memberi selamat. Aku tersenyum menyambut mereka, sedangkan Rezvan hanya berdiri seperti patung McD. Kulihat beberapa perempuan berbisik-bisik setelah bersalaman dengannya. Melihatku, sudut bibir mereka sedikit terangkat.
Setelah suasana kembali tenang, aku melemaskan ototku yang tegang. Wajah Rezvan masih tetap datar, dan itu membuatnya tampak menyeramkan.
“Kamu nerima saya karena terpaksa, kan?” tanyanya menyelidik.
Aku menjilat bibir bawahku. Mungkin inilah saatnya aku berkata jujur tentang perasaan yang selama ini kupendam. Dia berhak tahu.
Raut muka Rezvan melunak. Dia memiringkan kepalanya, seperti mencari wajahku yang menunduk. Aku tak ingin menampakkan rona wajah yang sepertinya beberapa tingkat lebih merah dari biasanya.
“Benar?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk sambil menahan senyum yang akan terulas sendirinya. Dia menggamit tanganku, kemudian berbisik lembut. “Terima kasih, ya. Aku janji, akan menjaga kepercayaan kamu yang sudah bersedia memberikan hati untukku.”
Entah perasaanku saja, atau Rezvan memang mendadak puitis. Terlebih dia mengubah kata gantinya seketika menjadi ‘aku’. Oh, rasanya aku akan meleleh!
Menghilangkan kecanggungan yang membelit mulutku, aku mengalihkan pembicaraan dari segala hal yang berbau romansa. Aku perlu sejenak menenangkan hati yang terlampau jungkal balik dengan begitu banyaknya emosi.
"Gimana kamu bisa tau aku ada di tempat tadi?"
Rezvan melepas genggaman tangannya. Ia berdehem sebelum menjawab. "Tadi kamu tiba-tiba nggak ada di rumah. Kata Papa dan Om Henry kamu ke Jakarta, mau nemuin Papa kamu. Aku pikir kamu pergi sama Naren, jadi aku telepon dia. Ternyata dia masih di rumah. Aku langsung maki-maki dia karena ngelepas kamu sendirian, dan minta alamat yang kamu datangi. Begitu dapat, aku langsung berangkat," terangnya panjang lebar.
Aku mencerna penjelasannya, yang terasa mengusik sudut hatiku. Ada yang janggal, membuat perasaanku tak enak. Ah, iya! Pak Harjanto! Berapa lama aku telah meninggalkan pasienku?
Sontak aku berdiri, membuat Rezvan terhenyak memandangku penuh tanda tanya. Tanpa sadar aku berteriak keras. "Ayo, pulang! Aku udah lama ninggalin Bapak!"