
Senyumku tak dapat berhenti mengembang selama mengendarai sepeda motor. Selama ini, aku tak pernah mengira cowok yang duduk tepat di belakangku bisa mengucapkan kalimat yang menggetarkan hati seperti itu. Wajahnya yang tegas, serta otot yang tersembul di beberapa bagian tubuhnya menegaskan kesan sangar dan kaku.
Banyak dugaanku salah tentangnya. Seperti sekarang, kupikir ia akan memelukku erat dan mencuri kesempatan untuk berdekatan. Namun nyatanya, ia malah duduk gemetar sambil memegangi besi di ekor jok motor, membuat kendaraan yang kami tumpangi ini cenderung berat ke belakang.
Leherku merinding saat Rezvan berbicara di samping telingaku untuk mengarahkan jalan. Dia menyarankan agar tak melewati jalan yang sudah biasa dilalui karena khawatir orang asing itu akan mencegat lagi. Aku setuju walau dia sudah mengingatkan jalannya tidak sebagus jalan pertama, tetapi saat melihatnya langsung, aku menelan ludah.
Seraya menarik napas panjang, kaki kananku menginjak gigi satu. Hanya berbekal penerangan dari lampu motor, aku menyeimbangkan laju ban melewati jalan setapak tak beraspal. Rezvan kini mencengkram jaketku erat kala motor bergoyang tak tentu. Kesalahan sedikit saja dalam mengendarai motor ini, kami bisa menabrak tebing yang berdiri kokoh di sebelah kanan, atau lebih parahnya, terjun ke jurang di sebelah kiri.
Setelah berjibaku dengan jalanan bak mengikuti acara televisi My Trip My Adventure, kami menghela napas lega begitu melihat atap menjulang satu-satunya rumah megah di tengah belantara ini. Memacu kendaraan lebih cepat, aku nyaris saja membuat kami terjatuh saat ban motor bergesekan dengan batu licin di tengah jalan. Beruntung kaki panjang Rezvan menopang beban kendaraan hingga kami dapat melanjutkan perjalanan. Tak dapat kugambarkan betapa bahagianya aku melihat rumah Pak Harjanto, yang terasa seperti rumahku sendiri, kini berada di depan mata. Otakku mulai membayangkan apa yang aku lakukan pertama kali begitu tiba di kamar: Mandi, tidur, atau membuat mie instan.
“Bi Iyem pasti lupa nyalain lampu, deh,” gumam Rezvan ketika kami selesai memarkir motor di depan garasi, kemudian berjalan menuju teras.
“Mungkin Bibi ketiduran,” belaku. “Dia pasti capek, habis banyak tamu, gantiin aku juga jagain Bapak.”
Rezvan mendorong pintu keras, tetapi rupanya tak tertutup rapat hingga ia nyaris terjengkang. Kondisi di dalam rumah tak ubahnya seperti di luar, malah lebih gelap tanpa sedikit pun cahaya. Aku berdiri sejenak, membiarkan rhodopsin di sel batang retinaku lebih giat bekerja. Bunyi klik berulang-ulang terdengar dari arah saklar saat Rezvan menekannya dengan kasar.
Aku mengangguk, entah Rezvan melihatnya atau tidak. Ia mengusap-usap puncak kepalaku sebelum berjalan terpincang ke luar. Aku meraba rak kaca yang berdiri di sepanjang ruang tamu, terus menuju kamar Pak Harjanto. Kakiku terasa sakit saat tak sengaja menendang kursi yang entah bagaimana bisa melintang di tengah jalan.
“Bi! Bi Iyem! Bibi!” teriakku berulang-ulang selama perjalanan. “Bi Iyem? Pak Pardi?”
Tak ada jawaban. Keheningan di tengah kegelapan ini terasa begitu menyesakkan.
“Pak Harjanto?”
Kubuka pintu kamar pasienku sambil memanggil namanya. Tidak ada respon apapun yang masuk ke gendang telingaku. Tanganku meraba nakas yang terletak di dinding pinggir pintu, mengambil penlight sebagai sumber penerangan. Begitu dapat, aku langsung menyorotkan ke tempat tidur Pak Harjanto.
Kosong!