
Tak jadi melangkah, Rezvan kembali menekan bahuku hingga terduduk di kursi berlapis kain putih. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk berkata, dua pria dan satu wanita paruh baya menghampiri kami.
“Evan! Akhirnya kamu mau datang!” sapa pria dengan kepala yang sebagian besar ditumbuhi rambut putih. Mereka saling bersalaman, kemudian bertukar kabar.
“Kita semua ndak ada yang tahu loh, kamu sudah balik dari Jerman. Untuk kemarin Mbak Sus ke rumah Mas Harjanto. Kalau tahu kamu balik kan pesan oleh-oleh!” ucap si wanita dengan sanggul seperti Ibu Kartini.
“Hus! Kamu ini!” tegur pria satunya yang tampak lebih gagah dengan rambut masih hitam merata. “Kamu datang sama siapa, Van?”
Rezvan menoleh ke arahku yang buru-buru berdiri. Seperti mengalami deja vu, kejadian di bawah pohon mangga saat pemberian undangan terulang lagi. Memperkenalkan diri, dikira pacar, Rezvan disuruh berpacaran denganku, dan seterusnya. Aku tak habis pikir. Apa memang kalau ada pria dan wanita berada di tempat dan waktu yang sama, harus memiliki hubungan lebih?
Pria berambut putih tadi mengajak kami bertemu dengan keluarga lainnya. Rezvan menahanku, mengatakan sebaiknya aku beristirahat saja. Dia berkilah kakiku baru saja terkilir saat terperosok tanah tadi. Akhirnya semua memaklumi dan mereka meninggalkanku seorang diri. Entah mengapa jantungku berdenyut lebih cepat, bukan hanya khawatir kalau tiba-tiba Om Cahyo datang, tapi juga pada Rezvan yang sejak tadi bersikap aneh.
Aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Semakin malam, semakin banyak tamu undangan yang hadir. Berbagai macam hidangan tersaji di meja, menggelitik perutku yang sejak siang belum diisi lagi. Beruntung, keluarga Rezvan yang tadi menyapa sedikit mengalihkan kesedihanku akibat ulah menyebalkan Om Cahyo tadi. Kini satu lagi yang kubutuhkan untuk menenangkan setiap jengkal saraf yang tegang. Makanan manis.
Mataku otomatis memindai kue warna-warni yang menggugah selera. Aku bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan strawberry cheese cake, kue kering dengan icing tuxedo dan gaun pengantin, muffin, cupcake, fortune cookies, dark chocolate, serta sate strawberry dan marshmellow yang dilapisi cokelat cair dari fountain. Oh, aku memang berlebihan. Aku rela tak makan nasi jika disuguhi makanan manis sebanyak ini.
Kue jajanan pasar yang terletak si sudut ruangan menarik perhatianku, tapi piringku sudah terlampau penuh. Tunggu saja kue, aku akan mendatangimu nanti! Sekarang aku tinggal mengambil jus jeruk yang menyegarkan untuk melegakan kerongkongan.
“Hai!” sapa cowok di depanku saat aku sedang menyuap, membuatku tersentak.
Aku ternganga dengan jantung seperti ditabuh kencang. Pria ini … dia anak Om Cahyo tadi! Mau apa dia ke sini?
“Saya mau minta maaf atas kelakuan Papa saya tadi,” ucapnya sopan. “Boleh duduk di sini?”
Kepalaku mengangguk dengan sendirinya. Aku menaruh kembali kue yang baru segigit di atas piring, sementara mulutku mengunyah kue yang terlanjur masuk. Tak lupa lidahku menyisir bibir atas dan bawah, khawatir masih ada whip cream yang tertinggal di sana.
“Saya benar-benar minta maaf dan menyesal atas sikap Papa saya tadi. Dia habis minum-minum sama temannya. Walaupun itu bukan alasan untuk pembenaran sikapnya tadi, sih. Dan saya juga minta maaf karena terlambat tarik Papa supaya pergi.”
Aku menunduk, teringat kembali kekacauan yang menjadi tontonan banyak orang tadi. Ingin kuungkapkan semua bahwa sikap Om Cahyo yang mesum itu bukan hanya saat mabuk, melainkan setiap bertemu denganku. Namun rasanya tidak adil jika aku turut menyalahkan anaknya yang dengan rendah hati sudah meminta maaf.
“Iya,” desisku lirih. Tanganku memutar-mutar cupcake di atas piring. Tahan. Aku tak boleh menangis lagi.
“Terima kasih,” sahutnya riang. “Oh iya, kenalkan saya Naren.”