
“Kuenya boleh dilanjut dimakan, Dek Kinta. Jangan dilihatin aja. Nanti kuenya malu,” kelakarnya garing. Akan tetapi, aku tetap saja terpingkal.
“Kamu mau?” tawarku menyodorkan piring yang penuh berisi kue.
“Ndak, terima kasih. Kue itu terlalu manis buat saya,” tolaknya halus.
“Oh, maaf. Nggak suka makanan manis, ya?” ujarku merasa bersalah. “Cupcake-nya nggak terlalu manis, sih. Cuma udah saya gigit.”
“Bukan begitu. Kuenya sudah dipegang sama kamu soalnya. Jadi manise puol!” guyonnya lagi. “Tapi kalau mau disuapi ndak apa-apa.”
Tawaku pecah sambil memegangi perut. Ya ampun, aku tahu candaannya sama sekali tidak lucu. Entah dia atau aku yang konyol, yang jelas saat ini aku hanya ingin tertawa.
Semula kukira kami akan dibatasi keheningan canggung yang tercipta di antara dua orang yang baru bertemu. Seperti saat pertama kali aku bersama dengan Rezvan tempo hari. Namun berbeda dengan Naren. Percakapan yang dibukanya terasa mengalir lancar bagai sungai tanpa bebatuan.
“Oh, iya. Maaf, ya, saya sudah bercanda seperti tadi,” ucapnya kembali formal. “Saya ndak bermaksud apa-apa. Tolong jangan salah paham. Saya bukan mau merebut pacar Evan, seperti Adit.” Dia diam sesaat, termenung. “Saya juga ndak ngira Evan mau datang, tapi ternyata dia sudah punya pacar baru. Syukurlah, saya jadi tenang.”
“Saya bukan pacar Rezvan!” tukasku cepat. Tunggu dulu, otakku masih mencerna ucapannya tadi. “Maksud Mas Naren apa? Siapa yang merebut pacarnya Rezvan?”
Wajah Naren yang ceria berubah muram. “Cintya, pengantin wanita yang sekarang nikah sama Adit, itu pacarnya Evan!”
“Hah?” pekikku menutup mulut. Bagai petir yang menyambar, jantungku seolah tersengat aliran listrik beribu voltase. Padahal bukan aku yang mengalaminya.
Aku merinding mendengar cerita panjang lebar dari Naren. Hatiku terasa teriris, walau bukan aku yang dikhianati. Pantas saja sedari tadi Rezvan seperti orang galau yang kesurupan setan. Ternyata dia sedang memendam luka yang teramat dalam. Dimulai dari membaca nama kekasih hatinya yang tertera di undangan, tapi bukan bersanding dengan dirinya.
“Kintana …,” panggil Naren lembut. Aku baru sadar sedari tadi melamun, memikirkan nasib Rezvan yang ternyata begitu kelam. “Tolong jangan bilang Evan kalau saya cerita, ya.”
“Iya, pasti,” sahutku sembari mengangguk. Naren tersenyum.
“Kamu jangan sedih,” hiburnya, mungkin menyadari mataku berkaca-kaca.
“Nggak, kok. Saya cuma … ehm, simpati aja.”
Naren menghiburku dengan menceritakan lelucon garing lainnya. Saat senyumku sudah kembali mengembang, dia mulai berkisah tentang dirinya dan keluarganya. Tak seperti Rezvan yang anak tunggal, Naren memiliki kakak laki-laki yang sudah menikah. Ibunya sudah lama meninggalkan keluarga mereka, karena selingkuh dengan laki-laki lain. Sejak saat itu, sikap ayahnya menjadi liar dan suka bermain wanita.
Hatiku terenyuh mendengar penuturan Naren. Dia terlihat begitu ceria, padahal jiwanya memendam luka. Mungkin dia telah berhasil melalui masa tekanan yang begitu berat, sehingga kini bisa hidup dengan lebih positif. Atau bisa saja ia hanya mengenakan topeng tak kasat mata, untuk menutupi adanya goresan luka yang terlampau dalam di baliknya.
Ternyata benar kata lagu Nicky Astria yang dulu sering bergema di rumahku. Dunia ini penuh sandiwara. Semua skenario kehidupan sudah diatur Yang Maha Kuasa dengan begitu banyak variasi kisah. Tinggal kita menjalani lakon yang mana.
Keheningan kami terusik saat terdengar suara ribut dari depan pelaminan. Kursi pengantin kosong, tak ada mempelai yang duduk di atas singgasana. Begitu pula tamu yang memberikan ucapan. Semua terkonsentrasi di sudut ruangan, depan pemain musik yang kini berhenti mengalunkan nada. Suara teriakan bersahut-sahutan, diselingi tangis yang melengking. Aku dan Naren berdiri, mengamati dari jauh. Tampak kepala Rezvan menjulang tinggi, tersembul di tengah kerumunan.
Ya ampun, apa yang terjadi?