Living with Him

Living with Him
Serpihan 63



"Evan habis jemput Kintana, Mbok. Dia perawat yang merawat Papa di rumah. Tadi mobil Evan nabrak pohon karena ngantuk. Makanya Evan ke sini mau ambil motor," jelas Rezvan yang dilanjutkan dengan mengarang cerita bagaimana proses kecelakaan kami.


Simbok tampak panik, terlebih saat melihat ada darah di kaki Rezvan. Wanita tua itu menyuruh kami duduk, sementara mengambil air dan kaos bekas untuk membersihkan luka. Dia juga menyediakan air minum yang langsung meluncur di kerongkongan kami. Sementara ia mencari kunci motor yang disimpan Tono, aku membersihkan luka Rezvan. Awalnya ia menolak, tetapi kali ini aku lebih tegas memaksa hingga ia akhirnya menurut.


"Mungkin Simbok bisa percaya sama cerita kamu, tapi aku nggak. Sekarang, kamu bisa kasih tau aku siapa orang-orang tadi dan kenapa mereka ngejar-ngejar kita?" tanyaku tegas, sambil mengusap kain yang sudah dibasahi ke goresan luka memanjang itu. Karena posisiku berlutut di bawah sedangkan Rezvan duduk di balai bambu, aku mendongak demi melihat responnya.


Rezvan mendesah. Mulutnya seolah terkunci rapat, dahinya berkerut. Setelah mengambil napas panjang, ia mulai berkata, "Ceritanya panjang, Kintana."


"Dan aku akan ada di sini buat dengerin semuanya," tukasku mulai kesal. "Kamu nggak mau cerita ke aku?"


Menangkap nada suaraku yang mulai meninggi, Rezvan menunduk dan menatapku. "Aku mau cerita semuanya sama kamu, tapi nanti di rumah. Sekarang aku mau memastikan kamu sampai rumah dulu, biar bisa istirahat. Besok aku akan kasih tahu semua yang kamu mau tahu."


Aku merengut sambil membuang pandangan. "Kupikir hubungan kita istimewa," gumamku meniru ucapan Patrick di film Spongebob. "Ternyata kamu nyimpen rahasia dan nggak mau cerita ke aku."


Rezvan menangkupkan kedua tangan dinginnya di pipiku, membuat kepalaku mendongak. Aku menahan napas karena jarak antara wajah kami terlampau dekat. Tatapannya mengunci mataku, sementara ekspresinya berubah sangat serius. Suaranya serak dan dalam saat berkata penuh penekanan, "Kamu satu-satunya orang teristimewa di hidupku yang akan aku ceritain semua rahasiaku. Kamu percaya sama aku, kan?"


Aku mengangguk-angguk. Entah bagaimana efek intimidasinya masih terasa walau dia sudah berstatus sebagai calon suamiku. Apakah ini memang perangainya atau dia memang menyeramkan, aku tidak tahu. Semoga keputusanku menerima pinangannya tepat dan tak membuatku menyesal di kemudian hari.


Seolah dapat membaca kegundahanku, Rezvan tersenyum. Ibu jarinya mengusap lembut pipiku, kemudian bibirnya mengecup dahiku. Belum selesai aku merinding akibat ciumannya, dia mengucapkan kalimat yang membuat jantungku berdebar.


"Aku cinta kamu, Kintana. Aku mohon, kamu percaya sama aku."


Aku menggigit bibir. Mulutku terasa kelu untuk berbicara. Aku mencintainya, tentu, tetapi entah mengapa aku belum bisa mengatakannya. Bukan hanya karena malu, tetapi semua kejadian mengejutkan ini membuatku ragu.


"Ehm, udah selesai," gumamku membebaskan kepala dari tangannya. Aku mengikat luka di kakinya dengan kain kering, kemudian berkata memastikan. "Oke, kita pulang dulu. Tapi kamu harus janji bakal cerita semuanya, nggak ada yang ditutupi. Aku ingin memulai hubungan kita dengan jujur. Dan jangan lupa kamu bilang ke Pak Harjanto kalau kita sudah … ehm, maksudku kamu sudah--"


Aku terbatuk mendengar kata pernikahan. Oh, benarkah ini bukan mimpi? Aku tak dapat membayangkan bahwa keinginan mengakhiri masa lajang sebentar lagi akan terpenuhi.


Si Mbok datang membawakan kunci motor, kemudian mengajak kami menuju garasi. Kami membantunya membuka rolling door. Dibalik kegelapan, aku dapat melihat mesin kompresor tergeletak di sudut depan, sementara deretan rak berisi oli dan onderdil berjajar di pinggir tembok. Terdapat tiga sepeda motor yang diparkir, satu yang terletak diujung langsung kukenali sebagai motor keluarga Rezvan. Melihatnya mengingatkanku pada kejadian di hutan yang pertama kali mempertemukan kami tempo hari.


Rezvan berjalan terpincang hendak mengeluarkan motor, tetapi kucegah. Kami berdebat tentang siapa yang akan mengendarai motor. Simbok juga menyuruhku yang membawa motor saja, karena berbahaya jika Rezvan yang menyetir dalam kondisi kaki sakit. Akhirnya dia mengalah setelah diceramahi dua wanita yang tak mau kalah.


Aku menyalakan motor bebek itu dengan menginjak tuas berkali-kali. Memutar gas perlahan, aku membiarkannya menyala untuk memanaskan mesinnya. Sambil menunggu, kami berpamitan dengan Simbok dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Setelah beberapa saat, kami menaiki motor dan melambaikan tangan pada wanita tua itu.


"Oke, sudah siap? Pegangan, ya," candaku sebelum mulai mengendarai kuda besi itu.


Kurasakan embusan napas Rezvan menggelitik tengkukku, diiringi suara lembut menerobos gendang telinga saat menyebut namaku.


"Kintana …."


"Ya?" jawabku singkat sambil memasukkan gigi satu.


"Terima kasih, ya, udah cantik dan baik."


"Hah?"


"Dan mau sama aku."