
Entah berapa lama aku membiarkan hujan menemani tangisanku. Kabut yang turun semakin pekat, mengembuskan hawa dingin yang semakin menyekap. Suara burung hantu terdengar samar, diiringi suara jangkrik bernada datar dan kodok memanggil hujan. Kegelapan turut memerangkap, hanya sinar temaram ponsel yang sedikit memberikan ketenangan bahwa aku tidak benar-benar sendirian.
Mataku menyipit saat menangkap sorot cahaya di kejauhan. Bunyi mesin mobil terdengar memecah kesunyian hutan, membuatku ingin bersorak menyambutnya. Air mataku berhenti dengan sendirinya mengiringi rasa lega bahwa aku akan selamat. Akhirnya, ada juga orang yang lewat sini sehingga aku bisa meminta bantuan.
Tak kupedulikan rasa sakit yang semakin menjalar di kakiku saat aku memaksa tubuh untuk berdiri. Kulambaikan kedua tangan agar pengemudi bisa melihat dan tidak menabrakku yang berada di tengah jalan. Dalam hati aku terus berdoa semoga orang itu baik dan bersedia menolongku.
Mobil jeep yang menuju ke arahku semakin mendekat dan berhenti sekitar dua meter di depanku. Aku terpana saat sesosok pria turun dari mobil sambil membuka payung. Apa hujan telah mengaburkan pandangan sehingga aku berkhayal bahwa dia benar-benar datang? Iya, dia … Rezvan. Anak Pak Harjanto. Aku semakin tak percaya saat ia menghampiri dan memayungiku, membuatku yang sejak tadi berpikiran buruk tentangnya menyesal.
"Ujan-ujan ngapain maksain naik motor, sih? Kenapa nggak minta anter aja sekalian dari tadi? Bikin susah aja!"
Aku menelan ludah. Sambutan yang kuharapkan seperti adegan aktor cowok nan tampan memayungi seorang gadis yang terjebak hujan seperti di film romantis kandas sudah. Kuralat juga kalau aku menyesal telah berpikiran buruk tentangnya. Manusia ini memang benar-benar menyebalkan!
"Saya … saya nggak mau ngerepotin Pak Rezvan," ucapku terbata. Sial, aku malah menciut di depannya. Kemana sesumbarku tadi?
"Justru sekarang bikin repot! Malam-malam, hujan-hujanan. Motor rusak juga," dengusnya menatap sepeda motor yang kini teronggok di kubangan. "Dan jangan panggil gue, Pak! Emang gue udah bapak-bapak apa?"
Kepalaku tertunduk. Tangis yang tadi sudah reda kini menetes kembali. Hatiku terlalu rapuh untuk dibentak setelah semua yang kualami hari ini.
"Hei! Malah bengong! Ini pegang!" senggaknya sambil menyerahkan gagang payung. Aku menengadah sambil mengusap air mata di pipi dengan tangan sebelum menerima pemberiannya. Sepertinya ia tak menyadari kalau aku menangis karena hujan telah menyamarkan air mata, atau memang ia benar-benar tak peduli.
"Kenapa motornya digusrakin?" tanyaku spontan tanpa mengindahkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
"Biarin. Besok diambil terus diservis!" ujarnya tak acuh. "Ayo, cepat naik! Emang lo nggak dingin apa?"
"Menurut ngana?" pekiku dalam hati. Iya, aku tahu dia baik karena mau menjemputku, tapi siapa yang tahan dengan segala kesinisannya semenjak datang?
Sambil bersungut-sungut, aku berjalan terseok mengikuti langkahnya menuju mobil. Ia melempar susu di jok belakang, kemudian segera duduk di belakang kemudi.
Aku mengamatinya sejenak, kemudian berjalan terpincang menuju mobil. Kututup payung dan kubuka pintu penumpang di sebelah supir. Susah payah aku berusaha naik ke jok yang cukup tinggi. Kakiku terasa amat ngilu saat kupaksakan menjadi tumpuan beban tubuh.
"Heh!" bentaknya membuatku tersentak hingga melompat lagi keluar. "Buka dulu jas hujannya! Jadi basah joknya! Mana kotor banget lagi!"
Bibirku tanpa sadar mengerucut dengan mata menyipit menatapnya. Bagaimana mungkin aku bisa bertingkah bodoh seperti anak kecil di depannya? Sampai lupa melepas jas hujan yang kini sangat lusuh dan menyedihkan. Seperti diriku.