Living with Him

Living with Him
Serpihan 36



“Rezvan! Sadar!” jeritku tak berharap banyak bisa berhasil. Aku berdiri, hendak mengambil air di ember untuk menyiramnya. Namun, belum sempat beranjak, dia menarik tanganku dengan wajah memelas.


“Wohin gehst du, Cintya?”


Aku tersentak. Walau tak mengerti apa yang dia bicarakan, tetapi kata terakhir yang terucap tak mungkin salah kudengar. Hatiku kecut menyadari bahwa sedari tadi dia hanya menganggapku Cintya, mantan pacarnya. Semua yang dilakukan hanya untuknya, bukan aku! Betapa bodohnya diriku, sempat menikmati sentuhan yang bukan ditujukan untukku. Rasanya ingin menjerit hingga seluruh dunia tahu. AKU MEMANG BODOH!


Seketika lampu menyala, diiringi teriakan Bi Iyem dari depan saklar.


Pemutaran memori yang begitu ingin kuhapus dari otakku terhenti saat piring yang sejak tadi kupegang jatuh berdentang di atas wastafel. Kuhirup napas panjang, kemudian membuangnya. Andai ingatan itu seperti karbon dioksida, walau sempat menghuni tubuh tapi bisa dilepas juga. Berbeda dengan memori, tersimpan rapi dalam ruang-ruang kecil dalam otak, siap keluar dan menampakkan diri kapan saja.


Mengusir kenangan semalam yang tak diinginkan, aku kembali berfokus pada masalahku saat ini. Bukan saatnya memikirkan perasaanku, yang entah mengapa begitu terluka saat Rezvan menyebut namanya. Apa yang kuharapkan? Rezvan jatuh cinta padaku? Oh, ide yang sangat konyol. Mungkin harus menunggu hujan meteor menghantam bumi, Rezvan baru akan mencintaiku.


Ah, mengapa lagi-lagi tentang Rezvan? Yang aku butuhkan uang, bukan cinta darinya. Lagi pula, walau seandainya ada keajaiban dan Rezvan benar-benar jatuh cinta padaku, aku tak yakin dia akan rela membantuku melunasi utangku. Namun itu tak mungkin bukan? Sejak awal dia hanya menganggapku seperti kutu. Tak seperti Naren yang menyambutku seperti ratu.


Naren! Itu dia!


Seketika aku berjingkat saat sepasang lengan kekar memerangkap tubuhku dari kanan dan kiri. Hawa panas terpancar seperti sinar infrared menyelubungi setiap jengkal tubuhku. Bulu kudukku meremang, menyambut embusan napas di balik tengkuk. Tangan besar itu kini berada di depan dadaku, menghadang aliran air yang turun dari keran menuju pelimbahan. Getaran yang semalam kurasakan muncul kembali, membuat jantungku seolah berhenti berdetak.


Sontak aku berputar dan mendapati dada bidang Rezvan tepat di balik punggungku. Perubahan rona wajahku yang sekejap terasa panas berbanding terbalik dengan wajah datarnya. Wangi musk terhidu dari dadanya, membuatku harus menahan hasrat untuk memeluk dan merasakan kehangatan yang mempesona. Beruntung akal sehatku masih bertengger, hingga dengan satu kekuatan besar aku berani mendorongnya.


“Bisa bilang permisi, nggak?” bentakku dengan suara falsetto, hasil perpaduan emosi yang tersulut dengan gairah yang mendadak muncul.


Sudut bibir Rezvan terangkat. “Oh, kirain nggak ada orang,” sahutnya enteng. “Ditungguin sejam masih nongkrong aja di tempat cuci piring.”


Aku menggeram. Dengan hentakan kuat, kakiku melangkah menjauhinya. Mungkin otak cowok itu masih konslet akibat minuman keras yang memabukkannya semalam. Bodo amat!


Seketika langkahku terhenti begitu tiba di ambang pintu. Tunggu dulu. Walau menyebalkan, mungkin orang ini bisa berguna. Bukankah Naren bilang Rezvan adalah sahabatnya? Ya, itu dia! Rezvan pasti tahu nomor ponsel Naren!