Living with Him

Living with Him
Serpihan 27



"Bilang dong kalau mau keluar!" sungut Rezvan setelah menarik tangan dari keningku.


Sebagai orang yang seharusnya marah, aku membalas ketus. "Lagian nggak sabar banget, sih? Tadi aja nggak mau berangkat!"


Kulihat Rezvan termangu sesaat, mungkin terkejut karena aku berani menyerangnya balik. Biar saja. Kepalaku masih berdenyut akibat hentakan buku jarinya yg menghantam tulang frontal tengkorakku.


"Ya udah, ayo berangkat!" ajaknya mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya aku juga penasaran kenapa dia tiba-tiba bersemangat datang. Tapi aku tak akan sudi untuk sekadar bertanya padanya.


"Saya mau pamit sama Bapak dulu!" ucapku sambil berjalan ke ruang sebelah, meninggalkannya yang tak sempat mencegah.


Pak Harjanto tampak terpana saat aku membuka pintu. Kutebak dia sedang membayangkan istrinya yang terbalut gaun indah ini, sedang menghampiri dirinya yang dulu masih gagah perkasa.


"Pak …," panggilku membuyarkan lamunannya.


"Eh … oh, iya," sahut Pak Harjanto tergagap. Di balik kulit keriputnya kulihat seberkas rona merah. "Kamu cantik, Tan. Saya jadi inget istri saya."


Aku tersipu mendengar komentarnya. Pujian Pak Harjanto cukup meningkatkan sedikit rasa percaya diriku untuk keluar setelah sekian lama terkurung di menara Rapunzel. Berbeda dengan anaknya yang tak sedikitpun memujiku tapi malah memukul kepalaku.


"Saya mau berangkat, Pak. Bapak nggak apa-apa, kan, ditinggal?" pamitku lembut.


"Saya ndak apa-apa, Tan. Justru saya malah ndak enak, sudah banyak membebani kamu," sahut Pak Harjanto terdengar lirih.


Aku tersenyum, "Nggak, Pak. Saya mau bantu Bapak sebisa mungkin. Biar pikiran Bapak juga tenang. Kalau Bapak stres, nanti malah pengaruh ke kesehatan Bapak."


Pak Harjanto mengangguk dan aku kembali mengingatkan agar segera memanggil Bi Iyem jika butuh bantuan. Kalau bisa, langsung telepon aku agar segera meluncur kembali ke rumah walau pesta belum usai.


Aku keluar kamar dan Bi Iyem menyambutku dengan pekikan histeris. Dia memuji penampilanku dan mengatakan pangling karena biasanya aku hanya berhias seadanya. Padahal, riasanku ini juga tak ada apa-apanya dibandingkan dengan beauty vlogger yang terkenal. Aku mengulang kembali apa yang sudah kukatakan pada Pak Harjanto dan memastikan semua terkendali.


Langit sudah kehilangan cahaya karena matahari sudah kembali ke peraduan saat Bi Iyem mengantarku ke pintu depan. Aku mencium tangannya sebelum membuka pintu jeep yang telah berjasa menjemputku tempo hari.


Kulihat Rezvan sudah menunggu di balik kemudi. Gerakanku terhenti saat mendapati Rezvan tak berkedip menatapku. Untuk beberapa detik kami beradu pandang. Apakah Rezvan sedang mengagumi penampilanku?


"Ehem!"


Suaraku berhasil membuatnya salah tingkah. Dia malah menyalakan wiper mobil padahal tak hujan. Aku ingin terkikik sendiri. Berarti bukan hanya aku yang merasa terlalu percaya diri. Sepertinya dia memang mengakui bahwa penampilanku oke.


"Ayo, naik! Lama banget, sih!" dengusnya dengan wajah memerah.


Lagi pula, kalau dilihat lagi, aku tak bisa memungkiri bahwa Rezvan sangat tampan malam ini. Berbalut jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, dengan kancing atas yang dibiarkan terbuka. Rambutnya disisir ke atas dan aroma parfum maskulinnya menguar di seluruh bagian mobil. Tampaknya dia merapikan kumis dan jenggotnya sehingga dagunya terlihat halus. Dengan penampilan seperti ini, ia mirip salah satu aktor Hollywood yang cukup terkenal. Namun aku lupa siapa.


Kami melalui perjalanan cukup panjang dalam kebisuan, hanya ditemani lagu slow rock yang menyayat hati. Terlebih saat Rezvan turut menyanyikan lagu berjudul She's Gone oleh band rock Steelheart yang kuketahui judulnya karena tertera di layar. Pandangannya menerawang ke depan, seolah mengemudi mobil dilakukan secara autopilot. Bahkan, kurasa ia tak menyadariku berada di sisinya.


*She's gone


Out of my life


Oh, she's gone


I find it so hard to go on


I really miss that girl, my love


Come back


Into my arms


I'm so alone


I'm begging you


I'm down on my knees


Forgive me, girl


Lady, won't you save me?


My heart belongs to you


Lady, can you forgive me?


For all I've done to you


Lady, oh, lady


Sentakan kuat membuat* tubuhku nyaris menyentuh dashboard mobil saat Rezvan menekan pedal rem mendadak.